Corona di Bali

Pandemi Corona, Tempat Atraksi Wisata Desa Bakas Kembali Jadi Lahan Kangkung

Dengan kondisi saat ini, pengembangan pariwisata di Desa Bakas, Banjarangkan, Klungkung, harus tertunda sementara

Tribun Bali/Eka Mita Suputra
Objek wisata Desa Bakas, Klungkung, Bali, saat situasi masih normal beberapa waktu lalu. Saat ini aktivitas pengembangan desa wisata Bakas dihentikan sementara. 

TRIBUN-BALI.COM, KLUNGKUNG - Dalam setahun terakhir, Desa Bakas, Banjarangkan, Klungkung, Bali, gencar mengembangkan pariwisata berbasis pertanian di wilayahnya.

Dengan kondisi saat ini, pengembangan pariwisata di desa setempat harus tertunda sementara.

Tempat atraksi pariwisata yang sebelumnya dikembangkan Pokdarwis (Kelompok Sadar Wisata) Desa Bakas, kembali menjadi lahan kangkung.

Koordinator Bidang Daya Tarik Pokdarwis Bakas, I Wayan Malendra menjelaskan, pasca pendemi Covid-19 pihaknya menunda sementara aktivitas pengembangan wisata di Desa Bakas.

Mereka lebih fokus mengikuti anjuran pemerintah dalam penanganan Covid-19.

"Seperti kebanyakan aktivitas wisata, tidak ada gerakan, kami hanya ikuti imbauan pemerintah, dengan social distancing-nya. Kami break dulu, tidak ada aktivitas apa-apa, memilih off,” ungkap Wayan Malendra, Rabu (29/4/2020).

Beruntung baginya sejak awal telah mengkonsepkan pariwisata berbasis pertanian.

Sehingga meski aktivitas pariwisata terhenti sementara, lahan kembali bisa dimanfaatkan petani.

Ia menyontohkan, lahan yang sebelumnya dimanfaatkan untuk atraksi wisata mepantigan, saat ini ditanami kangkung.

Sementara wisata spot swing sudah ditanami tanaman serai.

Saat ini warga Desa Bakas yang dulunya mengelola objek wisata, kini kembali menekuni sektor informal, seperti menjadi petani, pedagang dan ada juga sebagai peternak.

“Tidak ada yang sampai alih fungsi, karena sejak awal penciptaan desa wisata di Bakas memang konsepnya pariwisata berbasis pertanian yang sewaktu-waktu bisa dikembalikan fungsinya,” kata Malendra.

Menurutnya, meski Desa Wisata Bakas mengembangkan pariwisata berbasis pertanian, tapi dampak pandemi Covid-19 membuat pariwisata terpukul.

“Ini harus diterima, sebagai pembelajaran. Meskipun kami merasa terpukul dengan situasi saat ini, tapi karena ini dirasakan oleh banyak pihak, kembali kepada jati diri, sebagai petani, sebagai peternak, pedagang. Semoga situasi ini cepat kembali pulih,” harap Malendra.

(*)

Penulis: Eka Mita Suputra
Editor: Irma Budiarti
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved