Bulan Ramadhan
Ramadhan di Tengah Pandemi Covid-19, Wamenag: Ibarat Komputer, Puasa Itu Seperti Proses Restart
Dan hardware atau jasmani kita agar dapat terkoneksi secara baik dan holistik
TRIBUN-BALI.COMN, JAKARTA – Umat Islam sekarang ini sedang melaksanakan puasa bulan suci Ramadhan 1441 Hijriyah. Namun puasa tidak hanya sekadar menahan lapar dan dahaga, tetapi juga hawa nafsu, pikiran dan hatinya.
Dengan kata lain bahwa puasa bukan hanya sekadar berisi peribadatan, namun menghadirkan ruang untuk merenung dan berkontemplasi dan merekam pelajaran apa saja yang dapat dipetik.
• Ramadhan, Berikut Anjuran Membaca Qunut Nazilah di Tengah Wabah Covid-19 dan Penjelasan Lengkapnya
"Ibarat komputer, puasa itu seperti proses restart yang dapat dimaknai bahwa kita akan memulai proses memulai kembali sebagai langkah untuk mengintegrasikan kembali antara software atau rohani kita,” kata Wakil Menteri Agama (Wamenag) Zainut Tauhid Sa’adi pada talkshow Obrolan Seputar Soal Islam (OBSESI) yang digelar Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam, Kementerian Agama (Kemenag) melalui room meeting online, Senin (04/05/2020).
“Dan hardware atau jasmani kita agar dapat terkoneksi secara baik dan holistik," tambahnya seperti dilansir kemenag.go.id.
“Tentunya sebagai ibadah yang disyariatkan oleh Allah, puasa memiliki tata cara yang harus kita lakukan dalam bulan suci ini,” jelasnya.
• Jadwal Imsak dan Buka Puasa untuk Wilayah Kota Denpasar dan Sekitarnya Hari Ke-12 Ramadhan
Tercatat hingga Senin (04/05/2020) ini, terdapat 1,6 juta warga negara Indonesia (WNI) yang tidak lagi mendapatkan pekerjaan atau terkena Pemutusan Hubungan Kerja (PHK).
Kemudian juga saat ini ada sebanyak 115 juta masyarakat yang rentan miskin dengan adanya musibah Pandemi Covid-19.
“Semoga puasa di tengah pandemi ini kali ini, mampu menumbuhkan atau meningkatkan kepekaan, tidak hanya kepekaan ritual, tetapi juga kepekaan sosial,” kata Wamenag.
• Imun Tetap Terjaga Saat Puasa Ramadhan, Berikut 4 Fakta Penelitian Manfaat Puasa Jaga Imunitas
“Kepekaan sosial adalah bagaimana kita memberikan empati dan ikut berbagi dengan saudara-saudara kita,” ujarnya.
“Empati berarti suatu keadaan di mana orang merasa dirinya berada dalam perasaan atau pikiran yang sama dengan orang lain, sementara melaksanakan kegiatan-kegiatan sosial merupakan tindakan moral seperti rela membantu seseorang yang membutuhkan setiap musibah,” urai Wamenag.
“Musibah kali ini tidak hanya terhadap suatu kelompok, tetapi merupakan musibah yang menimpa seluruh umat manusia di seluruh dunia,” tandas Wamenag
• Kasus Virus Corona di Iran, Wamenkes Umumkan Penasihat Tertinggi Iran Ali Khamenei Meninggal
Talkshow bertajuk Optimalisasi Ibadah di Rumah di Tengah Pandemi ini dimoderatori adalah Kepala Bagian Kerja Sama Luar Negeri Biro Hukum dan Kerja Sama Luar Negeri, Thobib Al Asyhar.
Talkshow ini, juga disiarkan live pada channel Youtube Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/wamenag-suud.jpg)