Badung Unggul Maju Sejahtera
Badung Unggul Maju Sejahtera

Mutiara Ramadan

Makna di Balik Ujian Kehidupan dan Buah Kesabaran, Jalan Menuju Derajat Tertinggi

Penderitaan harus sabar. Di dalam kita berbuat kebaikan sabar. Dan juga lebih dari itu adalah ketika mendapatkan musibah.

Tidak Ada
Ketua Dewan Pertimbangan MUI Kota Denpasar, Drs KH Saifuddin Zaini, M.Pd.I 

Oleh Drs KH Saifuddin Zaini, M.Pd.I

Ketua Dewan Pertimbangan MUI Kota Denpasar

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Alhamdulillahirobbil alamin.

Para pemirsa, Bulan Ramadhan itu salah satu yang ingin dicapai adalah semakin menguatnya sifat sabar. Sabar itu adalah kemampuan untuk menahan diri kita. Jadi kalau tidak bisa menahan diri, itu namanya orang yang tidak sabar.

Tidak bisa menahan diri itu antara lain kesusu, ya belum saatnya tapi ingin segera, itu namanya kesusu. Menahan diri ini juga antara lain tidak memberi reaksi ngawur, tidak memberi reaksi tanpa perhitungan ketika tiba-tiba ada seseorang yang menghina kita. Jadi nanti kita harus sabar.

Itu di dalam apa? Penderitaan harus sabar. Di dalam kita berbuat kebaikan sabar. Dan juga lebih dari itu adalah ketika mendapatkan musibah.

Pasti anda juga pernah merasakan bagaimana sakitnya dihina orang. Jadi kalau dihina orang itu kita jangan cepat-cepat memberi respon. Sebab kalau kita ini dihina orang kemudian kita bertahan diam, tidak membalas, itu malaikat datang mengawal kita. Ada hadis yang menyebutkan seperti itu.

Ada kitab namanya Attajul Jami. Di sini dijelaskan bahwa suatu saat pernah Abu Bakar ini kedatangan seorang laki-laki. Ana rojulan kana yasubu Aba Bakrin. Ada seorang laki-laki yang menghina Abu Bakar.

Saat Abu Bakar dihina itu Rasulullah sedang ada di situ dengan para sahabat yang lainnya. Nabi, Abu Bakar bertahan diam tidak melawan. Dihina lagi, tetap bertahan.

Namanya juga manusia, laki-laki itu menghina yang ke-3 kalinya. Sudah dihina sampai tiga kali akhirnya berkritik. Abu Bakar itu yang semula bisa bertahan dari hinaan, membalas.

Apa yang terjadi? Begitu dibalas, maka Rasulullah yang sedang mendampingi Abu Bakar itu beliau pergi. Abu Bakar penasaran, wahai Rasul apakah engkau marah kepadaku sehingga engkau pergi?

Rasulullah itu memberikan penjelasan, tadi malaikat datang itu tidak percaya dengan omongan orang yang menghinamu wahai Abu Bakar. Tapi begitu engkau membalas hinaan maka datanglah setan. Karena setan ada di sini, aku tidak mungkin duduk bersama setan, maka kemudian Rasulullah pun pergi.

Jadi ini artinya apa? Kalau suatu saat kita ini dihina orang maka sudah bertahan, nggak usah memberikan respon. Orang Jawa bilang, becek ketitik olok ketoro. Nanti yang memang benar akan muncul, yang memang salah, ya sejarah akan mencatat itu. Jadi kita jangan reaktif.

Apalagi bulan Ramadhan begini, sudah perutnya lapar, dihina orang, ya sudah. Harus sadar bahwa kalau kita dihina orang itu sifat kesabarannya antaranya adalah tidak merespon. Kalau tidak merespon maka malaikat datang.

Bisa jadi kita ini nanti akan diuji karena memang Allah menghendaki kita itu naik derajatnya. Saya masih ada lagi satu catatan. Misalnya ya, ini jilid satu. Di jilid satu ini dijelaskan seseorang itu kalau Allah sudah menetapkan ada posisi yang mulia, posisi tinggi, ibarat tangga mungkin tangga ke-100 itu derajatnya tinggi.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved