Badung Unggul Maju Sejahtera
Badung Unggul Maju Sejahtera

Ngopi Santai

16 Mei dan Hidup Normal Ala Covid-19

mengapa saya begitu merindukan tanggal itu, 16 Mei 2020. Ini bukan tanggal lahirku.

Tayang:
Penulis: DionDBPutra | Editor: Putu Dewi Adi Damayanthi
bundesliga 

Bahkan si virus cilik sukses menerobos masuk menginfeksi pejabat Gedung Putih, ikon dan pusat kekuasaan negara adidaya Amerika Serikat.

Patut diduga Jerman sedang berikhtiar mendefinisikan ulang apa yang kita sebut sebagai kehidupan normal.

Merindukan normal sebagaimana masa pra pandemi Covid-19 adalah sesuatu yang berlebihan untuk tidak menyebutnya muskil.

Toh sampai detik ini tak seorang pun bisa memastikan kapan hadirnya vaksin mujarab menyembuhkan Covid-19.

Pejabat senior Badan Kesehatan Dunia (WHO) Dale Fisher pada 4 Mei 2020 bahkan menyebut vaksin
tidak akan siap hingga akhir tahun 2021. Lama nian.

Riwayat obat tak pernah instan.

Butuh penelitian dan uji coba klinis berulang, berkali-kali sampai benar-benar aman bagi tubuh manusia.

Naif mengharapkan sebulan atau dua bulan lagi obat Corona tersedia berlimpah di apotek.

Dalam penantian itu Jerman coba mengusap jendela lalu keluar dari rumah, dari jeruji karantina wilayah atau lockdown, berusaha berdamai dengan Covid-19.

Kehidupan harus normal kembali. Normal dalam versi Corona.

Virus ini tidak boleh mematikan sepak bola.

Dia hanya membawa cara baru dalam mengemas permainan bola.

Tak akan sama lagi atmoster dan eforianya, namun esensinya tak berubah.

Ceria, sehat, sportif, respek dan berlaku adil bagi semua.

Berhasilkah Jerman?

Ini bangsa super disiplin.

Jangan tanya urusan karakter itu.

Ada optimisme semua pemain, pelatih, tim ofisial dan perangkat pertandingan akan mematuhi protokol kesehatan sehingga sisa musim Bundesliga berakhir tanpa menambah korban Covid-19.

Kalaupun gagal setidaknya Angela Merkel dan rakyatnya sudah mencoba ketimbang tidak sama sekali.

Habitus baru. Tuan tak mungkin selamanya berada di rumah.

Harus keluar sarang agar asap dapur tetap mengepul.

Industri berputar, ekonomi berdenyut sehingga manusia tidak mati kelaparan.

Aktivitas sosial budaya mesti tetap bergetar supaya anak-anak bangsa tak kesepian serta kehilangan orientasi masa depan.

Caranya berpulang pada redefinisi konsep normal.

Normal ala Corona ya tetap pakai masker, alat pelindung diri (APD) yang di antaranya mirip baju astronot, jaga jarak fisik aman, rajin cuci tangan, hindari kerumunan dan seterusnya.

Kuncinya menjalani pola hidup sehat dan bersih. Secara disipin!

Juga beradaptasi. Seperti esensi teori Darwin, bukan si kuat kuasa yang bertahan hidup di Bumi fana.

Tapi yang mau beradaptasi dengan perubahan zaman.

Dikau yang cantik dan rupawan hidup di era Corona.

Beradaptasilah termasuk dengan kekejiannya.

Patuhi terus protokol kesehatan yang sekarang sudah menjadi bagian dari keseharian tuan dan puan.

Maka semua lini kehidupan boleh mulai mendesain agenda aksi masing-masing.

Agenda hidup normal ala Corona. Jangan menanti virus berlalu baru bergerak. Keburu ludes semua energi
dan sumber daya.

Kalau nanti lanjutan Bundesliga musim ini bergulir lancar dan tidak menjadi klaster baru pandemi Covid-19, langkahnya bakal dititu liga lain seperti Inggris, Spanyol, Polandia dan sebagainya.

Pun menjadi role model untuk bidang lain di luar sepak bola.

Intinya adalah hidup dengan cara baru. Restart Project, meminjam diksi Liga Inggris.

Hidup normal ala Covid-19 artinya hotel, restoran, mal, toko silakan buka lagi agar ekonomi bergeliat sehingga tidak menambah jumlah karyawan yang dirumahkan atau PHK.

Disiplin sungguh mengikuti petunjuk protokol memerangi virus.

Di restoran misalnya, atur meja dan kursi berjarak aman agar orang tidak berdesak-desakkan.

Mungkin rombak pula interior dan eksteriornya.

Hotel pun demikian. Barangkali satu kamar satu orang.

Tak perlu semua kamar hotel terisi tamu. Masuk lift satu atau dua orang cukup.

Jangan ramai -ramai. Naik eskalator di mal pakai antre.

Lapak penjual di pasar tradisional harus berjarak agar menjauhkan kerumunan.

Penataan jarak antar lapak pedagang minimal 1,5 meter di Pasar Kumbasari dan Pasar Badung Denpasar sejak 7 Mei 2020 merupakan langkah elok.

Bisa dimengerti dalam konteks berdagang normal ala Corona.

Hidup normal versi Corona menuntut aturan ulang cara menumpang moda transportasi umum darat, laut dan udara.

Pesawat Boeing atau Airbus berkapasitas 200 penumpang, cukup angkut separuhnya atau malah seperempat.

Bus 30 kursi cukup muat 10 sampai 15 orang.

Gerbong kereta api atau kapal laut pun demikian.

Pokoknya semua diseting sedemikian rupa mencegah kontak fisik, berdesak-desakkan yang memudahkan virus Corona berbiak.

Penumpang moda transportasi umum harus sehat. Negatif Corona. Tugas negara menghadirkan sarana prasarana rapid test, PCR swab test di mana-mana.

Mudah diakses oleh siapa saja dan tanpa biaya mestinya.

Hasil tes pun cepat diketahui. Jangan lebih dari 24 jam. Yang reaksi positif harus tahu diri. Segera isolasi mandiri atau terorganisir.

Lembaga pendidikan berasrama semisal pondok pesantren dan seminari patut tata kembali rumah tangganya.

Tidak mudah memang tetapi harus mulai dirancang agar anak-anak bangsa tetap melanjutkan sekolah pada
waktunya.

Tahun ajaran baru 2020-2021 sudah di depan hidung.

Model pembelajaran sekolah mulai dari tingkat PAUD hingga perguruan tinggi tak mungkin sama kali.

Perlu modifikasi dan kombinasi antara belajar dari rumah seperti yang sudah berjalan saat ini dengan pertemuan tatap muka di kelas.

Tatap muka di kelas barangkali tak mesti saban hari.

Jumlah peserta didik pun tidak boleh bertumpuk 30 sampai 40 orang dalam satu kelas.

Sebagian bisa kelas online saja agar tidak berhimpit-himpitan.

Urusan ibadah, para pemuka agama tentu lebih tahu cara terbaik yang layak diambil agar umatnya tidak ramai berkumpul lalu terserang Corona.

Diperlukan modifikasi dan inovasi cerdas dan bijaksana.

Konser musik yang menampilkan artis dan musisi top boleh berlangsung dalam format baru.

Baru-baru ini tepatnya tanggal 17 April 2020, penggemar musik di Jerman menyaksikan pertunjukan band
secara langsung.

Caranya unik dan bisa ditiru. Band Brings di Cologne, naik ke panggung pertunjukan drive-in terbuka. Penonton tetap di dalam 250 mobil.

Setiap mobil hanya menampung maksimal dua orang dewasa dan seorang anak.

Staf keamanan terus memeriksa keliling untuk pastikan tidak ada pelanggaran.

Ketika band bermain live di panggung, penampilan mereka disiarkan di layar lebar lalu suaranya dikirim ke mobil penonton melalui nirkabel.

Para penggemar boleh bergoyang pinggul di dalam mobil dan menunjukkan apresiasi mereka setelah satu lagu selesai diputar dengan membunyikan klakson. Asyik bukan?

Contoh lain hidup normal ala Covid-19 sudah terjadi di ruang seminar.

Selama pandemi ini gairah diskusi dan seminar malah meluap-luap sehingga pemilik Zoom kaya raya.

Namanya webinar. Seminar virtual tanpa kehadiran secara fisik.

Ini bakal jadi opsi seterusnya. Cukup andalkan zoom selesai perkara.

Rapat koordinasi via telekonferensi.

Malah makin mudah melakukan koordinasi karena bisa di mana saja ketimbang harus rapat konvensional di kantor.

Corona diam-diam melahirkan cara kerja baru yang jauh lebih efisien dan efektif.

Pemerintah pusat dan daerah jangan terlalu lama lagi menahan realisasi proyek fisik tahun anggaran berjalan agar padat karya dapat menghidupkan khalayak.

Pun pabrik-pabrik boleh secara bertahap beroperasi lagi.

Atur shift kerja yang memungkinkan karyawan tetap jaga jarak fisik.

Covid-19 mengurangi produksi dan profit perusahaan.

Ya pastilah. Inilah waktunya dunia agak mengekang produksi untuk memenuhi nafsu konsumerisme dan kapitalisme semata.

Pandemi Covid-19 tentu mengurangi mobilitas manusia dan barang.

Pendapatan berkurang. Wajib ikat perut. Hidup hemat. Kurangi hura-hura.

Tapi berani mulai menjalani hidup normal ala Corona niscaya jauh lebih elok ketimbang berbulan-bulan diam di rumah saja, tanpa pendapatan dan roda ekonomi, politik, sosial dan budaya mati gaya.

Pandangan ini sungguh sekenanya saja.

Takkan enteng merealisasikannya semudah pakai masker atau semprot hand sanitizer.

Hanya selalu ada keyakinan bahwa normal ala Corona mungkin pada akhirnya akan menjadi normal sesungguhnya.

Keterlaluan kalau pandemi ini tidak bertepi.

Dari purnama ke purnama selalu ada waktu sampar mengamuk dan membunuh.

Tapi manusia tetap tegak berdiri karena Sang Pencipta memberinya otak dan hati.

Dia mau belajar dan beradaptasi. Dia tetap memelihara harapan hidup.

Pepatah Jerman berkata ’’Die Hoffnung stirbt zuletzt.” Atau versi Inggris, ”Hope dies last.” Keduanya bermakna harapan adalah yang terakhir tumbang atau mati.

Selama masih bernapas, tetaplah berharap. Dum spiro spero. Kata Cicero, negarawan dan filsuf Romawi kuno.

Selamat menjalani hari baru saudaraku. Pelihara semangatmu selalu.(*)

Sumber: Tribun Bali
Halaman 4/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved