Corona di Indonesia

Sekelumit Dinamika Komunikasi Publik Selama Dua Bulan Pandemi COVID-19 di Indonesia

Mengelola komunikasi publik selama pandemi COVID-19 menjadi hal yang tidak mudah akan tetapi harus dilakukan

Gambar oleh Tumisu dari Pixabay
Foto ilustrasi virus Corona atau Covid-19 

Laporan Wartawan Tribun Bali, Zaenal Nur Arifin

TRIBUN-BALI.COM, JAKARTA - Mengelola komunikasi publik selama pandemi COVID-19 menjadi hal yang tidak mudah akan tetapi harus dilakukan, untuk memberikan pemahaman kepada masyarakat agar lebih tahu bagaimana menangani permasalahan yang juga dihadapi banyak negara di dunia ini.

Direktur Jenderal Informasi dan Komunikasi Publik, Kementerian Komunikasi dan Informatika, Widodo Muktiyo mengatakan, bahwa hal yang menjadi kendala tersebut salah satunya adalah faktor geografi Indonesia yang terdiri dari banyak pulau dan ragam kebudayaan tiap wilayahnya.

“Ada yang di kota, ada yang di pelosok sampai pada yang di terpencil,” kata Widodo, Rabu (13/5/2020) di Media Center Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19, Graha BNPB Jakarta.

Kondisi geografis Indonesia dan ragam budaya itu menurut Widodo mempengaruhi penyampaian dan penerimaan informasi di tengah masyarakat. 

Tak Mau Bebankan Pemerintah di Tengah Pandemi Covid-19, Warga Bonjaka Perbaiki Jalan Secara Swadaya

WIKI BALI - Berkenalan dengan STMIK STIKOM Indonesia

Takjil Drive-Through Menjawab Rasa Rindu WNI di Canberra Akan Kudapan Khas Ramadhan Indonesia

Sehingga hal itu juga kemudian melahirkan berbagai bentuk respon di tengah masyarakat.

Adapun berbagai bentuk respon yang muncul tersebut adalah mulai dari yang belum tahu menjadi belum percaya kemudian memicu kepanikan hingga pada akhirnya mengubah perilaku masyarakat dan berujung stres.

“Paniknya tidak hanya ada di dalam diri kita, tapi paniknya sampai pada perilaku ekonominya. Ada panic buying, dibeli macam-macam itu,” jelas Widodo.

Selain itu, Widodo memahami bahwa timbulnya stres itu juga disebabkan oleh suatu keadaan masyarakat yang ‘dipaksa’ untuk mengubah pola kehidupan sehari-hari, dari yang awalnya berjalan normal, menjadi dibatasi dan diatur ruang geraknya.

“Ini kan gaya hidup baru yang dipaksa harus ikut, setelah (masyarakat) tahu. Nah di situlah kemudian terjadi satu situasi yang di dalam keluarga itu menjadi sesuatu yang baru, dipaksa, punya implikasi yang lebih luas lagi,” terang Widodo.

Halaman
12
Penulis: Zaenal Nur Arifin
Editor: Putu Dewi Adi Damayanthi
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved