Tokopedia Tersandung Masalah, Begini Profil Bos Tokopedia William Tanuwijaya, Awalnya Penjaga Warnet

Nama William Tanuwidjaya mulai sering diperbincangkan setelah perusahaan rintisannya itu masuk sebagai salah satu unicorn Indonesia.

Editor: Kambali
KOMPAS.com/PRAMDIA ARHANDO JULIANTO
Chief Executive Officer (CEO) Tokopedia William Tanuwijaya saat acara Forum Ekonomi, kerja sama antara Bank Indonesia dan Harian Kompas di Hotel Pullman, Jakarta, Kamis (26/10/2017). 

TRIBUN-BALI.COM, JAKARTA - Startup e-commerce Tokopedia tengah tersandung masalah. Disebut-sebut, ada 91 juta akun pengguna Tokopedia diperjualbelikan di internet setelah diretas. Kasus kebocoran 91 juta data pengguna Tokopedia kini bergeser ke ranah hukum.

Komunitas Konsumen Indonesia (KKI) menggugat Tokopedia dan Menteri Komunikasi dan Informatika Rp 100 miliar di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat.

Pasca- kebocoran data pengguna tersebut, CEO Tokopedia William Tanuwidjaya langsung mengiriman surat elektronik ke seluruh pemakai startup besutannya itu.

Di dalam suratnya yang dilayangkan kepada semua pengguna Tokopedia, William mengatakan bahwa selama 11 tahun Tokopedia beroperasi di Indonesia, perusahaan selalu memperhatikan sistem keamanan, dan terus meningkatkannya.

Nama William Tanuwidjaya mulai sering diperbincangkan setelah perusahaan rintisannya itu masuk sebagai salah satu unicorn Indonesia.

Unicorn adalah istilah usaha rintisan yang memiliki valuasi di atas 1 miliar dollar AS atau sekitar Rp 13,3 triliun.

Tokopedia makin menjulang setelah pada Agustus lalu mendapatKAN pendanaan dari Alibaba sebesar Rp 14,7 triliun.

Diberitakan Harian Kompas, 16 Oktober 2017, William adalah anak perantauan yang lahir dan besar di Pematang Siantar, Sumatera Utara.

Ia mengaku berasal dari keluarga sederhana dan tidak memiliki latar belakang berwirausaha.

Setelah lulus SMA, ayah dan pamannya memberi kesempatan untuk merantau ke Jakarta.

CEO Tokopedia Kirim Surat ke Konsumen Jelaskan Soal Pencurian Data

”Sampai di Jakarta, saya melihat beberapa ketimpangan. Masalah ketimpangan benar-benar suatu hal yang nyata. Contohnya, keberadaan toko buku karena saya senang membaca. Di Pematang Siantar tidak ada toko buku besar, cuma toko kecil dan harganya lebih mahal, sementara di Jakarta adalah sebaliknya,” kisahnya.

Pilih kerja jaga warnet

Tahun 1999, ketika tiba di Jakarta, ia kuliah di Jurusan Teknik Informatika, Universitas Bina Nusantara.

Namun, baru dua tahun kuliah, ayahnya mulai sakit sehingga ia harus mencari pekerjaan sampingan.

Pekerjaan ini, di satu sisi adalah beban, tetapi di sisi lain adalah berkah terselubung.

Halaman
123
Sumber: Kompas.com
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved