Corona di Indonesia

Pemerintah Rancang Konsep New Normal, Ini Masukan Ahli Jika Harus Buka Kembali ‘Keran’ Pariwisata

Konsep tersebut melonggarkan pembatasan terkait covid-19 dan masyarakat diminta hidup berdampingan dengan corona

Shutterstock
ILUSTRASI-New normal di restoran dengan menerapkan physical distancing 

Laporan wartawan Tribun Bali, Adrian Amurwonegoro

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Konsep New Normal mulai digaungkan oleh pemerintah Indonesia.

 Konsep tersebut melonggarkan pembatasan terkait covid-19 dan masyarakat diminta hidup berdampingan dengan corona, namun dengan tetap menjalankan protokol kesehatan.

Ahli Virologi asal Universitas Udayana Bali Prof. Dr. drh. I Gusti Ngurah Kade Mahardika untuk menuju fase New Normal harus ada kajian bagaimana Standar Operasional Prosedur (SOP) protokol kesehatan aktivitas di dalam ruang maupun luar ruang, contohnya pembukaan tempat pariwisata.

"Implementasi dilakukan berbeda-beda, daerah tujuan wisata terbuka, ada hewan yang peka terhadap covid-19 misalnya di Bali ada Sangeh, Monkey Forest agar tidak menyebar ke hewan, bagaimana polanya diatur," kata Prof. Mahardika kepada Tribun Bali

Pemerintah Godog Konsep New Normal, Ini Masukan Ahli Virologi, Harus Straight dan Rigid

‘Pay Now, Stay Later’, Strategi Industri Pariwisata Bali untuk Bertahan di Tengah Pandemi Covid-19

Update Virus Corona di Bangli: Klaster Tukang Suun Tambah Lima Orang Positif Covid-19

"Lalu misalnya di pantai jangan sampai terjadi crowding satu tempat leyeh-leyeh dengan lainnya diberi jarak, bisa diterapkan seperti di Negara Jerman, dikecualikan bersama anggota keluarga, di Jerman boleh keluar dengan 2-3 orang kalau dengan anggota keluarga, kalau orang lain harus 2 meter," imbuhnya.

Meski dalam fase New Normal harus ada etika-etika dalam bersosialisasi dan dipatuhi dengan penuh kedisiplinan supaya tidak kontradiktif justru mendorong laju penyebaran, seperti tetap menggunakan masker, jaga jarak, cuci tangan dengan sabun, pemeriksaan ketat di pintu masuk daerah dan lain sebagainya.

"Pariwisata seperti apa, industri seperti apa harus dibedakan dalam ruang dan luar ruang protokolnya harus berbeda," katanya.

Prof. Mahardika menyampaikan bahwa selama ini Indonesia belum maksimal dalam penerapan social distancing hal ini bisa menjadi tolok ukur untuk melaksanakan fase New Normal.

"Indonesia tidak benar-bemar melaksanakan pembatasan sosial atau social distancing dibandingkan dengan negara lain. Di jerman straight sekali, jarak antar orang, berapa orang yang boleh masuk ke suatu mall atau suatu tempat straight sekali itu yang disebut social distancing. Indonesia tidak diatur sedemikian rigidnya, tiba-tiba mall ramai, pembagian sembako ramai, bandara dibuka berjubel artinya tidak pernah dilakukan dengan terencana. Overall bagi saya Indonesia tidak benar-benar melakukan pembatasan sosial," jabar dia.

Pria yang sudah dalam menekuni bidang virologi itu beranggapan iklim tropis dan kelembaban di Indonesia sebenarnya bermanfaat untuk menghambat penyebaran pandemi covid-19.

Ia menyarankan agar restoran-restoran fokus menyediakan tempat makan di luar ruang.

"Lebih aman memakai open space daripada yang close, akan lebih menurun risikonya memanfaatkan udara Indonesia yang panas dan lembab. Sepanjang tidak ada crowding dan dilaksanakan dengan SOP yang rigid serta dipantau," jelasnya.

Pada sebuah kesempatan, ia berunding dengan Warga Negara Asing (WNA) jumlahnya tidak banyak, sekitar 5 orang, diungkapkannya kenapa banyak ditemukan bule yang enggan pakai masker di luar ruang karena secara logis jika tidak crowded maka tidak ada potensi penularan.

Pemain Bali United Agus Nova Sudah Pulih 100 Persen dari Cedera, M.Taufiq: Sangat Positif Buat Tim

Facebook Messenger Rooms Sudah Bisa Dinikmati Pengguna di Indonesia

Tabrak Mobil Saat Nyalip, Nyawa Ketut Suardana Tak Tertolong Usai Alami Lakalantas di Dalung

"Banyak bule orang luar negeri tidak memakai masker, menurut logika mereka, ini negara tropis selama tidak crowded, dan dalam jumlah massa besar ya saya tidak ada risiko, risikonya hampir nol. Kalau di ruangan ber-AC, mobil, mereka harus memakai masker," tutupnya. (*)

Penulis: Adrian Amurwonegoro
Editor: Wema Satya Dinata
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved