Corona di Indonesia

Ketua IDI: Pelaksanaan New Normal Jangan Sampai Mengesampingkan Hal ini

Ketua IDI: Pelaksanaan New Normal Jangan Sampai Mengesampingkan Hal ini

Tribun Bali/Zaenal Nur Arifin
Suasana penumpang kategori terbatas saat akan memasuki pintu masuk terminal keberangkatan domestik Bandara I Gusti Ngurah Rai Bali. 

TRIBUN-BALI.COM, JAKARTA- Meski pandemi virus corona (Covid-19) belum berakhir, isu pembatasan sosial berskala besar (PSBB) akan dilonggarkan semakin kencang, menyusul sejumlah mal rencananya segera beroperasional Juni mendatang.

Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto juga telah mengeluarkan panduan new normal atau normal baru pengendalian virus corona (covid-19) di tempat bekerja dengan mengeluarkan Keputusan Menteri Kesehatan nomor HK.01.07/MENKES/328/2020.

Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Daeng M Faqih menegaskan sebelum melakukan new normal harus mempertimbangkan indikator kesehatan dan epidemiologi.

Daeng M Faqih menyebutkan sebaiknya tunggu kondisi stabil terlebih dulu alias tunggu sampai kasus covid-19 di Indonesia menurun dan stabil.

"Sebaiknya new normal diterapkan apabila indikator dan kriteria kesehatan atau epidemiologis terpenuhi, yaitu saat kondisi sudah stabil atau curva sudah melandai," ungkap Daeng kepada Tribunnews.com, Rabu (27/5/2020).

Sementara itu saat ini kasus covid-19 di Indonesia masih naik turun, terakhir tanggal 26 Mei 2020 terdapat 415 penambahan kasus positif dengan total mencapai 12.022 pasien.

Rekor penambahan kasus terbanyak terjadi pada data Kamis 21 Mei 2020 dengan total 973 orang yang positif.

Humas IDI dr. Halik Malik sebelumnya menyebutkan aturan new normal yang dibuat untuk beradaptasi dalam kondisi covid-19 ini harus mengutamakan pertimbangan kesehatan untuk menjamin masyarajat tidak tertular maupun menularkan virus.

"Kalau protokol-protokol kesehatan itu tidak diterapkan, dikhawatirkan penularan covid tetap terjadi, jika penularannya massif dikhawatirkan akan semakin sulit diantisipasi, akibatnya bukan new normal tapi situasinya menjadi makin abnormal atau tidak terkendali," ungkap dr. Halik kepada Tribunnews.com, Selasa (26/5/2020).

Kemudian dr. Halik juga mengingatkan sesuai standar dari WHO atau organisasi kesehatan dunia ada enam hal yang harus disiapkan pemerintah sebelum menerapkan new normal.

Halaman
12
Editor: Aloisius H Manggol
Sumber: Tribunnews
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved