Menpar: Sektor MICE Mampu Dongkrak Pariwisata Berkualitas
Wishnutama Kusubandio, dalam webinar online “Roadmap to Bali’s Next Normal” membahas potensi MICE pasca new normal
Penulis: AA Seri Kusniarti | Editor: Aloisius H Manggol
TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR – Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Wishnutama Kusubandio, dalam webinar online “Roadmap to Bali’s Next Normal” membahas potensi MICE pasca new normal resmi diberlakukan nanti.
Wishnutama menjadi narasumber dalam webinar online itu.
“Tanggal 5 Juli nanti hari baik, dan Bali ready for MICE,” katanya, Kamis (28/5/2020). Pariwisata adalah sektor yang terdampak cukup parah oleh Covid-19, dan tentunya sektor pariwisata sangat vital di Bali. Walaupun Covid-19 memang menghantam dunia, tetapi dampak di Bali sangat luar biasa pada perekonomian yang disampaikan BI Bali.
Intinya penurunan sangat dalam untuk sektor pariwisata ini, dari tingkat hunian kamar kunjungan dan lain sebagainya. “Dan ini menjadi konsen kami bersama sejak awal. Data BI menunjukkan penurunan wisatawan ke Bali mengakibatkan penutupan sementara operasional hotel dan usaha terkait, yang mempunyai dampak pada pekerjaan atau lapangan pekerjaan yang ada,” jelasnya.
Percepatan pemulihan sektor pariwisata di Bali, kata dia, sangat penting dan strategis. Sebab selain perekonomian di Bali sangat tergantung pariwisata, Bali juga adalah icon Indonesia untuk dunia. “Keberhasilan kita menangani Covid-19 di Bali cermin untuk icon Indonesia,” jelasnya. Ia mengapresiasi Bali dalam menangani Covid-19.
Dari data BI, diketahui kontribusi pariwisata terhadap perekonomian Bali itu sekitar 57 persen, artinya dampak Covid-19 ini luar biasa. Memberikan tekanan pada industri pariwisata di Bali.
“Dampak Covid-19 pada industri MICE, serta potensi MICE dalam kondisi ini juga sangat terdampak,” jelasnya.
Berdasarkan data Ivendo, kurang lebih sekitar 96 persen penundaan kegiatan MICE dan 84 persen pembatalan kegiatan MICE yang tersebar di 17 provinsi dengan potensi kerugian Rp 2,6 triliun – Rp 6,9 triliun.
Potensi MICE terhadap perekonomian di suatu destinasi wisata sangat tinggi. “Spending bisnis visitor di MICE 17,5 persen lebih besar daripada pengeluaran leisure visitor. Artinya MICE ini menjadi bagian strategis di pariwisata,” katanya. Berdasarkan datanya, komposisi pengeluaran MICE 43 persen untuk perjalanan dan komodtias pariwisata lainnya seperti makan-minum. Kemudian 57 persen, untuk keperluan meeting dan pertemuan.
“Dampak ekonomi MICE serta event betul-betul bisa menetes ke bawah, banyak peluang yang terlibat di MICE. Industri tranportasi, suvenir, pekerja seni, dan lainnya,” tegasnya.
Sehingga MICE tidak hanya berdampak langsung di sektor pariwisata.
“Tetapi dengan adanya Covid-19 ini, yang terdampak juga banyak, band, penyanyi, penari, supir juga kena,” imbuhnya.
Seperti IMF pada 2018 dampak langsung yang dirasakan Rp 5,4 triliun investasi infrastruktur dan sisanya pengeluaran peserta meeting.
Bali memiliki brand luar biasa, kesiapan masyarakat, keindahan alam-budaya ini menjadi brand yang harus terus didorong.
“Walaupun pemerintah menetapkan 5 wilayah prioritas menurut saya Bali tetap hebat,” tegasnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/wishnutama-seusai-meluncurkan-123-agenda-wisata-banyuwangi-festival.jpg)