Corona di Bali

Kebijakan Belajar di Rumah di Gianyar Dinilai Tidak Perlu Ada yang Dievaluasi, Siswa Pinjam Hp Teman

Dinas Pendidikan Gianyar menyebut, sistem belajar di rumah yang diterapkan di Kabupaten Gianyar dinilai tidak perlu ada yang dievaluasi

Tribun Bali/I Wayan Eri Gunarta
Kepala Dinas Pendidikan Gianyar, Wayan Sadra 

TRIBUN-BALI.COM, GIANYAR – Dinas Pendidikan Gianyar menyebut, sistem belajar di rumah yang diterapkan di Kabupaten Gianyar, Bali, akibat Covid-19, dinilai tidak perlu ada yang dievaluasi.

Sebab berjalan baik.

Sempat mengalami kendala permasalahan kuota internet saat ujian, namun sudah bisa diatasi melalui dana BOS.

Kepala Dinas Pendidikan Gianyar, Wayan Sadra, Selasa (3/6/2020) mengatakan, sistem belajar di rumah melalui media daring, tentu bukan merupakan sebuah sistem pembelajaran yang efektif.

Via Vallen Tanggapi Kabar Tetangganya Dirumahkan Tanpa Gaji, Imbas Postingannya Tentang Covid-19

86 Persen Pengendara yang Masuk ke Denpasar Tanpa Dilengkapi Surat Keterangan Tujuan yang Jelas

Surabaya Zona Hitam Virus Corona, Begini Penjelasan Khofifah dan Risma

Namun, karena situasi yang mengharuskan hal tersebut, pihaknya pun terpaksa melakukannya.

Meski demikian, Sadra menyebutkan tidak ada yang perlu dievaluasi terhadap sistem ini, mengingat semua proses pembelajaran tetap bisa berjalan.

Karena bersifat tidak efektif, Sadra mengatakan, persentase penilaian belajar di rumah tidak mempengaruhi nilai rapor secara signifikan.

Sebab dalam sistem belajar di rumah, pihak sekolah hanya bisa melihat pendidikan karakter siswa, seperti bangun pagi, membersihkan tempat tidur dan sebagainya.

Untuk akademis, kata dia, hal tersebut tidak bisa terpantau.

Sebab melalui sistem daring ini, ketika diberikan soal jawaban, para siswa bisa mencarinya di internet, sehingga tidak murni dari pengetahui siswa.

“Kalau tidak wabah, tentu lebih bagus belajar di sekolah. Karena itu, nilai rapor selama belajar di rumah ini tidak menjadi patokan, paling persentase hanya 15 sampai 20 persen saja. Nilai yang menentukan anak itu berprestasi atau tidak adalah nilai-nilai ujian harian, tingkah laku sebelum Covid-19,” ujarnya.

Terkait sistem belajar daring yang mewajibkan siswa ‘memegang’ smartphone, Sadra mengatakan, selama ini tidak ada keluhan dari orangtua siswa.

Dia tidak menampik saat ini masih banyak siswa dari keluarga miskin.

Namun berdasarkan informasi yang didapatkannya, siswa miskin biasanya meminjam Hp pada teman atau tetangganya.

“Yang miskin kami pantau lewat ujian, yang kami lihat mereka bisa mengirimkan jawaban melalui daring. Lalu kami tanya darimana dapat Hp, katanya dari teman. Nah, uang BOS untuk pembelian kuota internet, kami sarankan agar memberikannya pada teman yang meminjamkan Hp tersebut,” ujarnya. (*)

Penulis: I Wayan Eri Gunarta
Editor: Putu Dewi Adi Damayanthi
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved