Jadi Tandem Tamba, Anak Mantan Bupati Winasa Ingin Pulang Kampung Bangun Jembrana
Jadi Tandem Tamba, Anak Mantan Bupati Winasa Ingin Pulang Kampung Bangun Jembrana
Penulis: Ragil Armando | Editor: Aloisius H Manggol
TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Bakal calon wakil bupati Jembrana, I Gede Ngurah Patriana Krisna alias Ipat telah menegaskan kesiapannya untuk maju di Pilkada Jembrana nanti. Putra sulung mantan Bupati Jembrana dua periode, Gede Winasa itu bahkan siap untuk mengundurkan diri dari posisinya sebagai Aparatur Sipil Negara (ASN) di lingkungan Pemkot Kediri.
Pria yang kini masih duduk sebagai Kasi. Pemeliharaan Jaringan Irigasi Bidang Pengairan Dinaa PUPR Kota Kediri ini bahkan mengaku hal tersebut sebagai bagian dari resiko maju di politik.
"Kalau saya dapat rekomendasi saya siap untuk mundur dari PNS. Pasti siap menang, siap kalah," katanya Senin (8/6/2020).
Saat disinggung mengenai alasannya untuk maju di Pilkada sendiri. Ia mengaku niat itu muncul dari rasa prihatinnya terhadap Jembrana yang dinilai mundur pasca kepemimpinan ayahnya sebagai bupati.
"Saya kan memang dari 2002, sudah di Kediri, tahun 2010 memang sempat jadi Cabup, setelah kepemimpinan bapak kok saya lihat dan serap dari masyarakat nggak ada gregetnya, malah menurun. Dulu contoh dari Kediri, banyak yang ke Jembrana study banding," paparnya.
Hal ini membuat dirinya mengaku ingin kembali mewujudkan Jembrana seperti di masa ayahnya berkuasa. "Muncul keinginan untuk memperbaiki itu, dan mengembalikan masa jaya, dan datang tawaran dari Pak Tamba, saya ingin pulang kampung membangun Jembrana," jelasnya.
Ipat juga menjelaskan berbagai program-program di masa dinasti yang itu saat ini dipakai oleh pemerintah pusat. Program-program tersebut seperti JKN yang inspirasi dari Jaminan Kesehatan Jembrana (JKJ) dan e-KTP yang sudah dimulai di Jembrana sejak tahun 2008.
"Contoh dulu JKJ, sekarang yang diadopsi JKN. Justru itu yang bikin saya bangga, bahwa program bapak sudah dipakai, E-KTP dulu 2008 Jembrana sudah mulai," akunya.
Justru, saat ini malah Banyak program-program yang bagus di masa winasa tidak dilanjutkan di masa ini. "Sekarang program yang baunya Winasa pasti hilang," tegasnya.
Saat disinggung alasan dirinya mau berpaket dengan Nengah Tamba. Ia mengaku sudah memiliki chemistry yang kuat dengan politisi Demokrat tersebut.
"Dulu saya dipinang Demokrat, ada hubungan, dulu saya dibantu beliau, sekarang saya yang membantu beliau," bebernya.
Bahkan, dia mengaku sudah mendapatkan restu dari ayahnya I Gede Winasa. Ia bercerita bahwa Winasa sendiri pesan kepadanya untuk mengambil sisi positif pemerintahan Winasa selama dua periode.
"Namanya orang tua ya memberikan restu, pesan bapak ya, ambil hikmahnya ambil yang baik-baik," akunya.
Ipat sendiri bukan orang baru di pentas pilitik Pilkada. Jauh sebelumnya, putra sulung mantan Bupati Winasa ini sempat maju tarung sebagai Cabup di Pilkada Jembrana 2010. Kala itu, Patriana Krisna maju berpaket dengan I Ketut Subanda di posisi Cawabup.
Pasangan Patriana-Subanda yang diusung Golkar-Demokrat kala itu, tarung segi empat melawan I Putu Artha-I Made Kembang Hartawan (diusung PDIP), IGM Kartikajaya-IGN Cipta Negara (diusung koalisi 12 parpol gurem), dan Wayan Dendra-Ketut Sumantra (diusung koalisi PN-BKI-PKB-PIB). Sayangnya, Patriana-Subanda yang berstatus semi incumbent karena Gede Winasa baru lengser dari kursi Bupati, harus puas berada di posisi kedua hasil Pilkada Jembrana, Desember 2010.
Ketika itu, pasangan Putu Artha-Kembang Hartawan mendominasi 67.-870 suara atau sekitar 44 persen dari total 153.106 suara sah. Sedangkan Patriana-Subanda membayangi di posisi kedua dengan raihan 47.693 suara atau kisaran 31 persen. Disusul kemudian pasangan Kartikajaya-Cipta Negara di peringkat tiga dengan 34.528 suara (23 persen), dan Dendra-Sumantra sebagai juru kunci dengan 3.015 suara (sekitar 2 persen). (gil)