4 Seniman Muda Gagas Pameran Virtual Bertajuk 'Bosan, Bosan, Bosan, Kami Mulai Bosan'

Pameran 'Bosan.. Bosan.. Bosan.. Kami Mulai Bosan, Pameran Virtual Seni Rupa: Tidak Menyinggung Corona,' ini menampilkan sebanyak 19 karya

Penulis: Karsiani Putri | Editor: Wema Satya Dinata
Istimewa
Tampilan salah satu dari penggagas Pameran 'Bosan.. Bosan.. Bosan.. Kami Mulai Bosan, Pameran Virtual Seni Rupa: Tidak Menyinggung Corona,' 

"Karya drawing yang Ia hasilkan menggunakan berbagai macam pulpen menggambarkan macam-macam bentuk yang Ia akui muncul begitu saja dalam pikirannya. Alam bawah sadarnya seolah menyediakan objek secara acak ketika ia mulai menarik garis hingga ia akhirya menghasilkan sebuah objek yang utuh. Objek-objek dalam karyanya berupa figur-figur yang menyerupai patung, tengkorak, hewan, hingga bentuk yang tidak umum. Paduan antara bidang kosong, warna dan garis-garis luwes dan dinamis adalah yang ingin ditonjolkan Mamang dalam karya drawingnya," ungkap Vincent Chandra.

Dalam kesempatan tersebut, Ia menuturkan bahwa empat anak muda ini di dalam pameran ini terbaca lebih mempersoalkan bentuk atau teks visual dibanding apa yang ingin mereka kemukakan.

"Meski demikian, karya-karya mereka tidak menutup kemungkinan untuk ditafsir lebih dalam dan rinci," ungkapnya.

Vincent Chandra juga menuturkan bahwa di pameran kali ini,  karya-karya yang ditampilkan ini tidak akan menyinggung persoalan wabah corona maupun isu-isu yang terbangun karenanya.

Menurutnya, ini merupakan pernyataan sekaligus sikap yang dipilih oleh empat anak muda tersebut.

Vincent Chandra kepada Tribun Bali menuturkan bahwa baik Aco, Ucup, Joning dan Yoga memilih untuk menampilkan karya mereka apa adanya tanpa ada imbuhan isu apapun di dalamnya.

Sebagai gantinya mereka mengusahakan karya-karya mereka dapat terbaca dan menggugah secara indrawi dengan menampilkan ciri khas kepribadian masing-masing, lewat keterampilan teknis, wahananya, hingga cara mereka memainkan unsur-unsur intrinsik secara unik dan usil.

"Keistimewaan pameran ini bagi Saya adalah karya yang mereka tampilkan polos, mereka membahas persoalan bentuk dan tidak terlalu membahas diksi sebagai tujuan atau akhir karya. Diksi pun hanya dijadikan sebagai titik berangkat  mereka untuk karya mereka," ucap Vincent Chandra. (*)

Sumber: Tribun Bali
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

Berita Populer

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved