Tukar Sampah Plastik Dengan Perabotan Rumah Tangga, Warga Tabanan Setor Hampir 4 ton Sampah Plastik
Tukar Sampah Plastik Dengan Perabotan Rumah Tangga, Warga Tabanan Setor Hampir 4 ton Sampah Plastik
Penulis: I Made Prasetia Aryawan | Editor: Aloisius H Manggol
TRIBUN-BALI.COM, TABANAN- Seorang pengusaha restauran, I Made Janur Yasa memperlihatkan sampah plastik seberat hampir 4 ton di sebuah tegalan di Banjar Jangkahan, Desa Batuaji, Kecamatan Kerambitan, Tabanan, Minggu (14/6).
Sampah plastik yang sudah ditempatkan dalam sebuah karung besar merupakan sampah yang sebelumnya sudah disetorkan warga setempat untuk bisa ditukarkan sembako seperti beras, gula, hingga minyak goreng.
Setelah sukses, kini ia kembali mulai menerapkan menukar sampah plastik dengan pakaian, perabotan rumah tangga, hingga alat tulis.
Made Janur menuturkan, setelah hampir 1.5 bulan lamanya, gerakan peduli lingkungan kini sudah semakin menyadarkan warganya di Banjar Jangkahan dan Banjar Penulisan, Desa Batuaji.
Terbukti, sejak 3 Mei hingga 14 Juni, sampah plastik yang terkumpul sebanyak hampir 4 ton. Selain itu, juga membuat lingkungan sekitar menjadi semakin bersih dari sampah plastik.
"Disini kami sudah menerima hampir 4 ton sampah plastik dari warga. Ada dua Banjar yang selama ini menukarkan sampah dengan sembako yakni Banjar Jangkahan dan Banjar Penulisan," kata Made Janur saat dijumpai di rumahnya, Minggu (14/6) sore.
Ia melanjutkan, setelah berhasil dengan sembako, kini ia akan mulai menerapkan membawa sampah plastik bisa ditukar dengan pakaian (baju), alat tulis terutama untuk anak-anak sekolah, hingga perabotan rumah tangga. Program ini mulai dibuka sejak kemarin, Minggu (14/6).
Untuk sistem penukaran sampahnya tersebut dengan sistem poin. Kemudian ia juga membagi klasifikasi sampah dalam empat kategori untuk memperoleh poin.
Kategori tersebut nantinya menentukan berapa poin yang warga dapatkan dari kualitas sampah yang dibawa.
Pertama adalah sampah yang termasuk kualitas satu atau sampah yang juga ketap sulit dipungut seperti sedotan, bungkus snack, kulit permen, dan lainnya.
Kualitas satu ini dihitung dalam satu kilogram akan mendapatkan satu poin. Kedua, adalah jika membawa sampah kualitas satu tersebut dalam keadaan kotor dan basah akan dihitung dua kilogram mendapat satu poin.
Kemudian sampah jenis botol minuman plastik akan dihitung tiga kilogram untuk mendapatkan satu poin. Selanjutnya, untuk sampah yang notabene gampang dicari dan ukurannya cukup besar seperti centong, ember plastik, pot plastik, karung, akan dihitung empat kilogram memperoleh satu poin.
Tak hanya itu, ia juga menyediakan jasa titip buang artinya warga bisa membawa sampah seperti baliho, pecahan kaca, besi paralon, kursi rusak dan lainnya untuk selanjutnya bisa dibuang. Intinya setiap satu poin kita umpamakan seharga Rp 10 ribu hingga lebih.
"Jadi kami saat ini sudah mulai menerapkan hal yang berbeda, dari awalnya sampah bisa ditukar sembako sekarang programnya adalah sampah bisa ditukar dengan pakaian, alat tulis, dan juga perabotan rumah tangga. Kemudian untuk penukarannya nanti menggunakan sistem poin, dan poin tersebut diperoleh sesuai dengan sampah yang dibawa," jelas Janur.
Dengan program ini, kata dia, selain membuat lingkungan sekitar mulai mengikis jumlah sampah plastik, juga bisa menumbuhkan kebiasaan warga tak acuh dengan sampah plastik artinya sadar akan lingkungan dengan motivasi sampah plastik bisa memiliki nilai jual yang tinggi jika dikelola dengan baik.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/sampah-plastik-tabanan.jpg)