Diakui sebagai Anjing Ras Dunia, Anggaran Pemuliabiakan Anjing Kintamani hanya Rp 45 Juta

Pasca mendapat pengakuan sebagai anjing ras dunia, anggaran pemuliabiakan anjing kintamani justru cenderung terbatas.

Tribun Bali/Muhammad Fredey Mercury
Anjing kintamani di penangkaran milik dinas PKP Bangli, Senin (15/6/2020) 

TRIBUN-BALI.COM, BANGLI – Pasca mendapat pengakuan sebagai anjing ras dunia, anggaran pemuliabiakan anjing kintamani justru cenderung terbatas.

Usut punya usut, terbatasnya anggaran lantaran pihak dinas lebih memprioritaskan untuk pengadaan vaksin rabies.

Kepala Bidang Kesehatan Hewan Dinas Pertanian Ketahanan Pangan dan Perikanan (PKP) Bangli, Ni Nyoman Sri Rahayu mengungkapkan, pada tahun ini jumlah anggaran untuk anjing kintamani sebesar Rp 45 juta per tahun.

“Jumlah anggaran ini sama dengan besaran di tahun sebelumnya,” ucap dia Senin (15/6/2020).

Sri Rahayu tak memungkiri dengan anggaran pakan sebesar Rp 45 juta, akhirnya harus mencukupkan dalam hal pemberian pakan bagi 23 ekor anjing.

Pihaknya juga menerapkan substitusi pakan, dari pabrikan menjadi pakan campuran.

Anggota Polisi Ditusuk Kenalannya Saat Tertidur Lelap, Warga Dengar Teriakannya

Tak Perlu Angin Kencang, Layang-layang Celepuk Diburu oleh Rare Angon di Masa Pandemi Covid-19

Tak Boleh Bergaya Hidup Mewah, Berikut Ini Besaran Gaji Polisi, Lengkap dari Tamtama hingga Jenderal

“Jadi tidak selalu pakan pabrikan saja. Pemberian pakan campuran pun juga melihat situasi dan kondisi anjing,” ujarnya.

Dengan anggaran yang terbatas, Sri Rahayu mengakui ada sejumlah kendala, terutama dari segi pemberian obat-obatan.

Pihaknya mengungkapkan pada tahun sebelumnya kebutuhan obat bagi anjing dipenuhi oleh pihak provinsi.

“Kalau tahun ini tidak ada. Kebutuhan obat-obatan ini salah satunya seperti vitamin hingga vaksin. Untuk vaksin yang wajib yakni vaksin regular, karena penyakit pada anjing tidak hanya rabies saja. Ada sejumlah penyakit lain seperti parvo hingga distemper,” sebutnya.

Mengenai pemberian vaksin wajib ini, dokter hewan asal Rendang, Karangasem itu menyebut dalam setahun normalnya diberikan dua kali vaksin.

Riwayat Karir Fedrik Adhar, JPU Kasus Novel Baswedan di Kejaksaan dari CPNS Hingga Jadi Jaksa

Petugas Pilah Sampah TOSS Karangdadi Klungkung Kerap Temukan Limbah Medis di Sampah Rumah Tangga

Sejarah Persib Bandung, Inilah Pemain Maung Bandung yang Pertama Kali Berseragam Timnas Indonesia

Yakni rabies dan vaksin regular. Sementara disinggung mengenai kebutuhan anggaran secara keseluruhan mulai dari vaksin hingga biaya pemeliharaan, Sri Rahayu menyebut kebutuhan anggaran ditaksir mencapai Rp 75 juta per tahun.

“Kalau yang tahun ini, Rp 45 juta itu untuk pakan saja karena keterbatasan anggaran. Sedangkan vaksin kami fokuskan pada kebutuhan vaksin rabies saja. Ini karena setiap kegiatan menggunakan skala prioritas,” ucapnya.

Kepala Dinas PKP Bangli, I Wayan Sarma menamabahkan sejak tahun 2011 silam pihaknya telah memberlakukan adopsi anjing kintamani bagi masyarakat.

Adopsi pun tidak dipungut biaya, namun pihak yang ingin mengadopsi wajib mengisi surat ketersediaan adopsi untuk memelihara anjing dengan baik.

“Tujuan adopsi ini dalam rangka pelestarian, kami yang men-suplay bibit sedangkan masyarakat yang memelihara. Jadi upaya adopsi ini bukan semata-mata untuk mengurangi cost pemeliharaan,” tegasnya. (*)

Sumber: Tribun Bali
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved