Lima Mahasiswa di Buleleng Ditangkap BNN, Ngaku Konsumsi Ganja Sejak SMA

Lima Mahasiswa di Buleleng Ditangkap BNN, Ngaku Konsumsi Ganja Sejak SMA

Shutterstock
Ilustrasi mahasiswa 

TRIBUN-BALI.COM, SINGARAJA– Sebanyak lima orang mahasiswa di Buleleng ditangkap petugas Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) Bali dan BNNK Buleleng. Mereka terbukti mengedarkan dan mengonsumsi ganja, sejak masih duduk dibangku SMA.

Kepala BNNK Buleleng, AKBP Gede Astawa ditemui Selasa (23/6) mengatakan, lima tersangka masing-masing bernama Dewa Made Karisma Anggasana Alias Ama (21) yang beralamat di BTN Taman Wira Negara, Desa Pemaron, Kecamatan Buleleng.

Gede Andika Pramana Putra alias Dika (20) yang tinggal di Jalan Sudirman, Desa Adat Banyuasri, Kecamatan Buleleng. Komang Yudi Krisna Putra alias Yudi (22) beralamat di Jalan Melati, Banjar Jawa, Kecamatan Buleleng. I Made Raditya Prasada alias Radit (20) yang beralamat di Jalan Kenanga, Kelurahan Kaliuntu, Kecamatan Buleleng. dan Dani Ilham alias Dani (20) yang tinggal di jalan Pulau Samosir, Desa Penarukan, Kecamatan Buleleng. Kelima pelaku, diciduk pada Senin (15/6).

Penangkapan ini berhasil dilakukan atas adanya informasi dari Bea Cukai Bali yang mengatakan, ada satu paket barang berisi ganja yang dikirim salah satu perusahaan ekpedisi ke wilayah Buleleng. Berdasarkan informasi itu, BNNP Bali dan BNNK Buleleng pun melakukan penelusuran.

Hingga berhasil menemukan penerima paket berisi ganja tersebut, ialah Dewa Made Karisma Anggasana Alias Ama.

“Setelah diinterogasi, Ama mengaku jika ganja seberat 338.64 gram brutto itu dikonsumsi dan dijual ke empat teman SMAnya. Ganja ini dipesan oleh Ama lewat Instagram, di wilayah Sumatera kemudian dikirim lewat ekspedisi,” terang AKBP Astawa sembari menyebut kelima pelaku kini diamankan di BNNP Bali.

AKBP Astawa pun menyebut, ke lima pelaku ini sudah mengonsumsi ganja sejak masih duduk dibangku SMA. Bahkan, kepada petugas, Ama mengaku sudah biasa mengonsumsi ganja bersama sekitar 20 teman sekolahnya.

Dengan adanya kasus ini, AKBP Astawa mengaku pihaknya sejatinya sudah sering memberikan pemahaman terkait bahaya mengonsumsi narkoba di kalangan pelajar dan mahasiswa.

“Pelajar itu mengonsumsi narkoba karena gengsi, ingin tau rasanya. Ada juga karena faktor masalah di lingkungan keluarganya. Oleh karena itu peran orangtua sangat penting. Jika melihat anaknya berperilaku menyimpang, baiknya segera dilaporkan ke BNN untuk kami rehab, dari pada tejerat hukum,” jelas Astawa.

Di BNNK Buleleng, saat ini sudah ada 85 orang pengguna narkotika yang direhab. Sebagian besar berasal dari kalangan pekerja dan ada beberapa yang masih berstatus sebagai pelajar dan mahasiswa.

“Sekolah, orangtua, dan aparat desa juga harus berperan memberikan pemahaman bahaya narkoba. Jika ada anaknya yang mengonsumsi, harus cepat dilapor ke BNN agar bisa direhab. Dengan direhab, otomatis permintaan terhadap narkoba semakin sedikit, pengedar juga pasti bisa berkurang,” katanya. (rtu)

Penulis: Ratu Ayu Astri Desiani
Editor: Aloisius H Manggol
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved