Corona di Bali

Pekerja Migran Yang Tinggal di Sesetan, Wajibkan Isolasi Mandiri Setelah Dikarantina 14 Hari

Pekerja Migran Yang Tinggal di Sesetan, Wajibkan Isolasi Mandiri Setelah Dikarantina 14 Hari

Tribun Bali/Adrian Amurwonegoro
Bersama dua kawannya, usai menjalani masa karantina di Rumah Singgah, Putu Arthana (bertopi, 44), Pekerja Migran yang pulang di tempat tinggalnya di wilayah Kelurahan Sesetan, Denpasar Selatan, Denpasar, Bali, pada Rabu (24/6/2020) kemarin. 

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Satgas Gotong Royong Kelurahan Sesetan, Denpasar Selatan, hampir setiap hari menerima kepulangan Pekerja Migran yang telah menjalani masa karantina 14 hari di Rumah Singgah Kota Denpasar.

Petugas pun langsung sigap untuk melakukan penyemprotan disinfektan terhadap barang bawaan para pekerja migran setiap kali petugas Dinas Perhubungan datang mengantar dengan mobil.

Total sudah ada lebih dari 50 pekerja migran yang pulang dan kembali tinggal di Kelurahan Desa Adat Sesetan dalam kurun waktu 3 bulan terakhir ini.

Lurah Sesetan, Ketut Sri Karyawati mewajibkan pekerja migran untuk menambah waktu isolasi mandiri selama 14 hari di rumah, meskipun pekerja migran juga telah menjalani masa karantina 14 hari setibanya di tanah air serta telah dinyatakan negatif covid-19 melalui swab test.

"Pekerja Migran yang pulang dari rumah singgah sebelum ke tempat tinggalnya, diterima di kelurahan dengan protokol kesehatan, mereka sudah dipastikan negatif melalui swab test dan menjalani masa karantina, selanjutnya setelah diserahkan kepada keluarga, mereka masih harus diwajibkan menjalani isolasi mandiri di tempat tinggalnya selama 14 hari setelah itu berkoordinasi dengan Puskesmas untuk mengecek kondisi kesehatannya," kata Tut Karyawati kepada Tribun Bali, Kamis (25/6/2020)

Salah seorang pekerja migran yang diserahkan kepada keluarga pada Rabu (24/6/2020) kemarin, Putu Arthana (44), Putu mengapresiasi langkah-langkah yang diterapkan oleh Pemerintah Provinsi Bali hingga level kelurahan dalam percepatan penanganan covid-19.

"Saya tidak keberatan dengan adanya protokol kesehatan yang ketat ini, mulai dari tiba si tanah air, kemudian di rumah singgah, swab test 2 x dan dinyatakan negatif, lalu sampai pulang ditempat tinggal dijemput keluarga juga dengan protokol kesehatan ketat seperti ini, saya menyadari bahaya virus corona ini, jadi memang harus dipastikan aman, dan yang dilakukan Pemprov Bali, akomdasi pelayanan kesehatan kebutuhan kami sangat bagus," ungkap dia.

Ayah dua anak ini sudah bekerja di sebuah kapal pesiar sejak 10 tahun yang lalu, sebelum dikarantina di rumah singgah, saat di kapal pesiar Karnival pun juga dilakukan karantina mandiri di ruangan masing-masing.

"Semenjak covid-19 semua dipulangkan, di kapal pun juga ketat, kami sudah menjalani test dan karantina selama 3 bulan, ada security yang menjaga, keluar cuma 30 menit, kegiatan di luar kamar dibatasi, jadi memang dipastikan agar tidak ada penyebaran virus corona," ujar warga Banjar Gaduh Sesetan itu. (*)

Penulis: Adrian Amurwonegoro
Editor: Aloisius H Manggol
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved