Breaking News:

Corona di Bali

Agar Tidak Berkerumun, PHDI Bali Sarankan Umat Laksanakan Banyupinaruh Pakai Air Kumkuman

Biasanya masyarakat Bali akan mencari pantai atau sumber-sumber air seperti air pegunungan, dan danau.

Tribun Bali/Wema Satyadinata
Ketua PHDI Bali, Prof I Gusti Ngurah Sudiana. 

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR- Sehari setelah hari raya Saraswati, umat Hindu khususnya di Bali biasanya menggelar prosesi Banyupinaruh.

Biasanya masyarakat Bali akan mencari pantai atau sumber-sumber air seperti air pegunungan, dan danau.

Air tersebut dibasuh ke wajah dan rambut untuk dipakai sebagai sarana melukat atau membersihkan diri

Untuk mencegah adanya penyebaran covid-19, PHDI memberikan alternatif bagi umat Hindu agar tidak berkerumun ke pantai dan sumber air untuk melaksanakan Banyupinaruh.

Di Daerah Ini, Harga Satu Dus Mie Instan Sama Dengan 2 Gram Emas

TRC BPBD Badung Diterjunkan ke Pura Campuhan Giri Putri yang Tertimpa Pohon, Kendala Saat Proses Ini

Mulai Besok 5 Juli 2020, Syarat Penerbangan ke Bali via Bandara Ngurah Rai Makin Mudah

Banyupinaruh ternyata bisa dilakukan di rumah dengan cara membasuh wajah, rambut dan tubuh dengan air kumkuman atau air yang dicampur dengan bunga harum

"Kalau yang dekat pantai silakan ke pantai, kalau yang dekat danau silakan ke danau, kalau yang dekat sumber air silakan. Yang tidak sempat kesana atau menghindari kerumunan bisa pakai air kumkuman di rumah," kata Ketua PHDI Bali, Prof Dr Drs I Gusti Ngurah Sudiana, Sabtu (4/7/2020)

Sudiana menjelaskan, PHDI tidak bisa melarang umat hindu untuk melaksanakan Banyupinaruh.

Itu sebabnya, jika masyarakat memang mau melaksanakan Banyupinaruh, diharapkan agar melaksanakan protokol kesehatan seperti menjaga jarak, tidak berkerumun, dan menggunakan masker.

"Pada saat mandi silakan jaga jarak, dan tidak berkerumun. Saat sembahyang dan nunas tirta juga jaga jarak," harap Rektor IHDN Denpasar itu

Sudiana menjelaskan, Banyupinaruh merupakan rangkaian dari Hari Saraswati.

Dimana, hari Saraswati merupakan hari turunnya ilmu pengetahuan. Sedangkan, Banyupinaruh artinya air pengetahuan.

Banyu pinaruh berasal dari dua kata, yakni Banyu dan Pinuruh. Banyu berarti air dan pinaruh artinya Pengetahuan.

"Sehingga pada saat Banyupinaruh, ramai-ramai masyarakat menyucikan dirinya dengan wujud nyata melukat ke tempat-tempat air, dengan air kumkuman, ke segara, sehingga semua kebodohan-kebodohannya itu dilebur," jelas Sudiana.

Setelah melukat, dan kebodohan dilebur oleh air banyupinaruh, umat Hindu biasanya memakan nasi pradnyan.

Bagus Haryana Rilis Single Perdana Ngambang, Cerita Tentang Kesedihan Kekasih Diambil Teman

Ini Alasan Amerika Kirim Dua Kapal Induknya ke Laut China Selatan Saat Beijing Gelar Latihan Militer

Kisah Pilu Pria di Magelang Tiduran Selama 10 Tahun, Tetangga: Diawali Saat Meletusnya Gunung Merapi

"Nah nasi pradnyan itu simbol kecerdasan, kewikanan yang dimiliki seseorang," ujar Sudiana.(*)

Penulis: I Wayan Erwin Widyaswara
Editor: Wema Satya Dinata
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved