Breaking News:

Serba Serbi

Buda Wage Ukir, Ini Makna dan Persembahan yang Dihaturkan

Mulai dari Kajeng Kliwon yang rutin dilaksanakan setiap 15 hari sekali, begitupula Purnam Tilem dan hari raya besar lainnya termasuk Buda Wage Ukir.

Tribun Bali/I Putu Supartika
Ilustrasi banten. 

Laporan Wartawan Tribun Bali, I Putu Supartika

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR- Umat Hindu di Bali tak bisa dipisahkan dari ritual atau upacara.

Mulai dari Kajeng Kliwon yang rutin dilaksanakan setiap 15 hari sekali, begitupula Purnama Tilem dan hari raya besar lainnya termasuk Buda Wage Ukir.

Buda Wage Ukir ini dirayakan setiap enam bulan sekali atau 210 hari sekali.

Pertemua antara saptawara Buda (Rabu) dengan pancawara Wage serta wuku Ukir inilah yang disebut sebagai hari raya Buda Wage Ukir.

Hari raya ini juga dikenal dengan nama Buda Cemeng Ukir dan dirayakan hari ini, Rabu (22/7/2020).

Pada hari ini melakukan persembahan terhadap Sang Hyang Sri Nini, Dewa Sadhana pada tempat penyimpanan harta benda.

Hari ini juga tidak baik untuk membayar sesuatu.

Apa Persembahan Saat Kajeng Kliwon Agar Tak Diganggu Sang Kala Tiga Bhucari?

Segehan Lima Warna Dipersembahkan Saat Kajeng Kliwon, Somya Sang Kala Tiga Bhucari Agar Tak Diganggu

Pagerwesi Payogan Sang Hyang Pramesti Guru, Memagari Diri dengan Pengetahuan

Hari raya ini merupakan pemujaan terhadap Bhatara Rambut Sedana yang dilaksanakan di merajan keluarga, pemilik toko, pura khayangan tiga desa pakraman, maupun pura khayangan jagat di Bali.

Beberapa umat Hindu juga ada yang memaknainya dengan menghaturkan banten di tempat penyimpanan uang maupun di uangnya.

Halaman
12
Penulis: Putu Supartika
Editor: Ady Sucipto
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved