Pengamat Politik: Kampanye Media Sosial Bisa Jadi Pilihan Peserta Pilkada Serentak di Bali
Pilkada Serentak di 6 Kabupaten Kota di Bali dipastikan bakal berbeda euforianya. Bagi pasangan calon kepala daerah yang ingin memenangkan pilkada
Penulis: I Wayan Erwin Widyaswara | Editor: Ida Ayu Suryantini Putri
TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Pilkada Serentak di 6 Kabupaten Kota di Bali dipastikan bakal berbeda euforianya.
Bagi pasangan calon kepala daerah yang ingin memenangkan pilkada 9 Desember 2020 nanti, harus sadar dan tahu betul strategi berkampanye di era internet dan media sosial seperti saat ini.
Hal itu dikatakan Pengamat Politik Universitas Udayana, Dr Kadek Dwita Apriani dalam program Bincang Tribun Bali Kamis (23/7/2020).
Berdasarkan riset yang pernah ia lakukan di Denpasar, tingkat penggunaan internet di Kota Denpasar dari usia 17 tahun sampai usia lanjut itu berada angka 75 persen.
Bahkan, hasil risetnya membuktikan bahwa 92 persen lebih pemilih generasi milenial aktif menggunakan internet di Denpasar.
• Pastikan Tak Ada Oknum Petugas Bisa Disuap, Tim UPP Provinsi Bali Inspeksi ke Pelabuhan Gilimanuk
• KPU Badung Target Partisipasi Pemilih Bupati dan Wakil Badung 2020 Capai 80 Persen
• Tiga Koperasi di Bali Dapat Bantuan dari LPDB, Nilainya Capai Miliaran Rupiah
“Jadi pada saat angkanya dipotong dan terfokus pada usia 35 tahun ke bawah, itu tingkat penggunaan internet di Denpasar di atas 92 persen,” papar Dwita
Berdasarkan data yang ia dapatkan, Dwita juga membeberkan bahwa usia pemilih milenials di Denpasar mencapai 40 persen dari total jumlah pemilih yang ada.
Mereka semua adalah para generasi yang aktif menggunakan media sosial, seperti instagram, facebook , WA dan platform media sosial lainnya.
Itu sebabnya, Dwita berpendapat bahwa jika pasangan calon kepala daerah tidak sadar era sekarang, maka dipastikan sulit memenangkan pertarungan di Pilkada Serentak 2020 ini.
• Daftar Promo Alfamart hingga 31 Juli 2020, Hajatan Gopay, PaHe hingga Bonus Poin Member
• Bank Indonesia Dorong Penggunaan QRIS, Desa Blimbing Sari Terapkan Digitalisasi
• Warga Perancak Jembrana Ceburkan Diri ke Sungai Seusai Tengkar dengan Suami
“Jadi ada pergerakan pola perpolitikan dari konvensional menjadi digitalisasi. Seperti semacam online, kemudian jarak kampanye dan platform-nya,” kata Dwita
Dr Dwita juga mengamati tren kampanye di musim Pilkada sejak 2005 silam.
Menurutnya, pada 2005 silam, tren kampanye pasangan calon pemilu adalah menggunakan media televisi.
Kemudian mulai 2010, tren kampanye yang dilakukan menggunakan baliho raksasa, dan baliho unik dan kece.
Kemudian pada 2015, tren kampanye mulai beralih ke internet, karena maraknya penggunaan Facebook dan Twitter di masyarakat.
“Nah pada 2020 ini mungkin menggunakan platform yang berbeda misalnya sekarang ada Instagram di sana, Youtube, ada Tik Tok yang baru,” kata Dwita
Dalam program Bincang Tribun Bali yang bertemakan “Tantangan dan Tatanan Baru Pilkada Serentak di Bali” itu juga menghadirkan Komisioner KPU Pusat, yakni I Dewa Kade Wiarsa Raka Sandi, dan Pengamat Politik Universitas Mahasaraswati Denpasar, Dr Dra I Gusti Ayu Diah Yuniti, Msi.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/pilkada-serentak_20151208_195622.jpg)