Breaking News:

Gubernur Koster: Bendesa yang Terpapar Aliran di Luar Budaya Bali, Silakan Mundur

“Saya minta semua majelis sampai bendesa, jaga desa adat ini baik-baik, sudah ada keputusan majelis desa adat Provinsi Bali,

Tribun Bali/I Wayan Sui Suadnyana
ilustrasi-Gubernur Bali Wayan Koster menyampaikan pidatonya saat peluncurkan Peraturan Daerah (Perda) Nomor 4 Tahun 2020 tentang Penguatan dan Pemajuan Kebudayaan Bali di Gedung Karangasem Museum Bali, Denpasar, Kamis (16/7/2020) 

TRIBUN-BALI.COM, GIANYAR – Gubernur Bali, Wayan Koster menaruh perhatian penuh terhadap polemik sampradaya di Bali, yang dinilai sejumlah pihak dapat merusak adat dan budaya Bali.

Karena itu, politikus PDIP asal Buleleng tersebut meminta bendesa agar membentengi diri.

Koster juga meminta masyarakat Bali tidak mentolerir unsur-unsur yang dapat merusak Bali.

“Saya minta semua majelis sampai bendesa, jaga desa adat ini baik-baik, sudah ada keputusan majelis desa adat Provinsi Bali, tentang kaitannya dengan pengaruh luar, ada sampradaya itu tidak bisa, baca itu (keputusan majelis desa adat provinsi Bali,red) ikuti itu, “ ujar Gubernur Bali Wayan Koster, Selasa (18/8/2020).

Ide Kreatif di Masa Pandemi,Andalkan Platform Jualan Online untuk Bangkitkan Bisnis yang Sempat Lesu

Mengenal i-Car, Mobil Listrik Canggih Buatan ITS yang Libatkan Puluhan Ahli Dalam Pembuatannya

Satgas Gotong Royong Covid-19 Kelurahan Panjer Sosialisasi Prokes ke Pasar Nyanggelan Setiap Pagi

Koster menegaskan, para bendesa harus kokoh menjaga desa adat, tidak membiarkan berkembangnya unsur-unsur yang dapat merusak adat budaya Bali.

“Jangan berikan kesempatan sedikit pun unsur-unsur yang merusak ini, kalau sampai budaya kita rusak maka akan hancur Bali ini ke depan, saya katakan kalau bapak (seluruh bendesa, red) terpengaruh membiarkan itu di desa adat, Bali ini akan hancur, sanggah bisa membongkar, karena tidak lagi memuja leluhurnya, sing dadi mebanten sing dadi megalungan mekuningan, megulingan, Bali bisa tinggal nama, “ katanya.

Pihaknya juga memuji selama sikap toleransi masyarakat Bali yang relatif tinggi.

Namun Koster mengingatkan, harus tetap waspada menjaga sejumlah hal yang bersifat prinsip.

“ Hati-hati, jangan sok toleran, sok longgar, ingat di tengah toleran ada hal prinsip harus kita jaga seketat-ketatnya tidak boleh dibuka.

Saya minta bendesa serius, saya mohon karena kita sedang dirongrong sekarang ini, saya mohon perhatikan betul, ikuti keputusan majelis desa adat Provinsi Bali, jalankan di wewidangan masing-masing,“ pintanya.

Koster pun kembali mengingatkan apa yang disampaikan oleh Presiden Soekarno, jika menjadi Hindu, menjadilah Hindu nusantara.

“Kita di pura jalankan upacara keagamaan ke bhatara dengan dresta adat istiadat masing-masing di desa, gunakan itu jangan ikut yang lain, “ tandasnya.

Koster meminta jika ada bendesa yang terpapar aliran di luar budaya Bali, agar mengundurkan diri.

Ia juga menegaskan bila ada bendesa adat di Bali yang terpapar aliran di luar budaya Bali, agar mundur sebagai bendesa adat.

Rayakan HUT Kemerdekaan RI ke-75, AirAsia Berikan Promo Rute Domestik Mulai Rp. 217 Ribu 

Ramalan Zodiak Cinta 19 Agustus 2020, Sagitarius Jangan Menyinggung Perasaan Kekasihmu

Fraksi Golkar Sebut Rancangan APBD Perubahan Badung Akan Timbulkan Defisit

“Bendesa jangan sampai ada nilai lain menggerus adat kita di Bali, kalau bapak bendesa kena, bapak harus berhenti jadi bedesa adat, jangan sampai terpapar yang lain, kalau corona kena masih bisa dirawat di rumah sakit, kalau ini kena bisa hancur adat budaya kita, jangan main-main, “ tegasnya. (*)

Penulis: I Wayan Eri Gunarta
Editor: Wema Satya Dinata
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved