Corona di Bali
Lockdown Bali: Ahli Virologi Tegaskan 'Tanda Alam' terlihat pada Daya Tular dan Fatalitas Covid-19
Lockdown Bali: Ahli Virologi Tegaskan 'Tanda Alam' terlihat pada Daya Tular dan Fatalitas Covid-19
Penulis: Adrian Amurwonegoro | Editor: Aloisius H Manggol
TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR – Dibukanya akses Pulau Bali untuk wisatawan nusantara pada 31 Juli 2020 lalu, dari sisi sains terangkum tren penyebaran virus menunjukkan peningkatan kasus yang tajam.
Ahli Virologi asal Universitas Udayana Bali, Prof. Dr. drh. I Gusti Ngurah Kade Mahardika yang terus mengamati perkembangan virus ini menawarkan solusi kepada pemerintah untuk melockdown Pulau Bali.
“Konsepnya adalah kesehatan nomor satu, baru memikirkan ekonomi. Keadaannya saat ini extra ordinary kasus fatalitas 60 orang dalam waktu 8 hari terakhir, jumlah ini lebih tinggi dari total bulan Agustus dan Juli digabung jadi satu.
Ini sudah sesuatu tanda alam, kasus juga meningkat drastis,” kata Prof. Mahardika saat dikonfirmasi Tribun Bali.
Prof. Mahardika menyebut kasus di Bali menunjukkan tren yang extra ordinrary, bahwa melihat perkembangan penyakit bukan saja pada disiplin masyarakat, akan tetapi melalui tiga aspek, yakni virus, masyarakat dan lingkungan.
“Bukan saja pada disiplin masyarakat, saya melihatnya dari 3 hal, yakni dari virus, orang dan lingkungan.Dilatih membaca masalah penyakit dari 3 aspek itu,” ujarnya.
Dari segi virus, dijelaskan Prof. Mahardika, banyak ditengarai bahwa virusnya sekarang dominan semakin mudah menyebar antar orang yang disebut virus strain D614G, virus ini dominan di seluruh dunia sebesar 60 persen dan 12 dari 22 data virus Indonesia adalah strain D614G.
“Virus semakin mudah menular, karena semakin mudah menular, secara lagsung kasus fatal akan meningkat, kalau dulu misalnya 100 orang sakit meninggal dunia 5 orang.
Sekarang asumsinya 1000 orang sakit yang meninggal dunia 50 orang, meskipun belum ada indikasi peningkatan keganasan virus hanya peningkatan daya tular virus meningkat dengan tajam,” ungkapnya.
Lanjutnya, dari segi masyarakat, diakuinya setelah pembukaan Bali 31 juli 2020 kasus memang sempat turun, karena idealnya jika suatu program dilaksanakan maka efeknya baru terlihat akan terlihat satu hingga dua minggu berikutnya.
“Terbukti pada pertengahan bulan Agustus 2020 kasus melambung tinggi.
Harus diketahui yang disebut dengan budaya aman covid-19 bukan hanya menggunakan masker, cuci tangan dan jaga jarak tapi juga disiplin, sifat tingkah laku manusia ini yang sulit dihilangkan,” katanya.
“Misalkan dari lahir suka menyentuh hidung atau mengucek mata, memangnya hilang pas jaman covid-19 ini, kan tidak.
Karena memang bawaan lahir sifat orang tidak mudah dihilangkan, kalau hanya mengandalkan ketaatan masyarakat untuk protokol covid saya rasa tidak mungkin menekan virus dengan semaksimal mungkin,” ungkap Prof Mahardika.
Sedangkan dari segi lingkungan, pihaknya mengaku masih mengkaji lebih dalam dari aspek lingkungan dalam korelasinya pada kasus fatalistas meningkat tajam di Bali pada awal September 2020 ini.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/petugas-pemakaman-membawa-peti-jenazah-pasien-suspect-virus-corona-atau-covid-19-di-tpu-tegal-alur.jpg)