Breaking News:

Pengusiran Krama Saat Ngayah Kembali Terjadi di Pejeng

Pengusiran krama (warga) saat ngayah atau mengikuti kegiatan adat di Desa Adat Jro Kuta Pejeng, Tampaksiring kembali terjadi, Kamis (10/9/2020).

Istimewa
Suasana ngayah di Pura Kebo Edan, Desa Adat Jro Kuta Pejeng, Tampaksiring, Kamis (10/9/2020). 

TRIBUN-BALI.COM, GIANYAR –  Pengusiran krama (warga) saat ngayah atau mengikuti kegiatan adat di Desa Adat  Jro Kuta Pejeng, Tampaksiring kembali terjadi, Kamis (10/9/2020).

Kali ini, yang mendapatkan sanksi kanorayang tersebut adalah I Ketut Suteja.

Ia diusir oleh prajuru saat ngayah di Pura Kebo Edan.

Suteja merupakan satu dari dua krama yang namanya telah dicoret sebagai anggota adat secara sepihak, karena melaporkan prajuru adat atas penyertifikatan tanah teba sebagai milik desa adat.

Informasi dihimpun Tribun Bali, pengusiran Suteja dari kegiatan adat ini sempat membuat situasi tegang.

Bahkan saat ini, Kapolsek Tampaksiring, Camat, dan Koramil datang ke Pura Kebo Edan dan Rumah Ketut Suteja menjaga agar situasi kondusif.

Tak Alami Kendala Apapun, Victor Igbonefo Siap Arungi Jadwal Padat Bersama Persib Bandung

Lima Tradisi di Karangasem Diusulkan Jadi WBTB, Ada Tarian Abuang Loh Muani hingga Seni Lukis Perasi

Pembalap Moto2, Jorge Martin, Dinyatakan Positif Covid-19

Kepada wartawan, Ketut Suteja menegaskan, dirinya  keberatan atas pengusirannya tersebut.

Dia menjelaskan, saat itu ia datang ke pura untuk ‘ngaturang ayah’ mempersiapkan sarana upakara, yang tengah berlangsung di sana.

Namun saat itu tiba-tiba datang seorang prajuru, lalu menyuruhnya pulang.

“Datang salah satu prajuru, kelihan adat (kepala desa). Tiang (saya) disuruh pulang. Sebab tiang dapat surat kanorayang," ujarnya.

Halaman
12
Penulis: I Wayan Eri Gunarta
Editor: Ida Ayu Suryantini Putri
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved