Badung Unggul Maju Sejahtera
Badung Unggul Maju Sejahtera

Oka Rusmini Adaptasi Kidung Jerum Kundangdya Jadi Novel, Perluas Bacaan Karya Klasik di Zaman Modern

Ia mengadaptasi Kidung Jerum Kundangdya menjadi novel berjudul Jerum yang diterbitkannya pada Agustus 2020 ini.

Tayang:
Penulis: Putu Supartika | Editor: Wema Satya Dinata
Screenshoot diskusi di zoom
Ngorbit#6: Ngobrol-Buku Virtual bersama jagadbuku via zoom membedah novel Jerum karya Oka Rusmini 

Laporan Wartawan Tribun Bali, I Putu Supartika

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Setelah terinspirasi dari Kakawin Sumanasantaka karya Mpu Monaguṇa untuk menulis puisi berjudul Saiban dan memenangkan Kusala Sastra Khatulistiwa (2014), kini penulis perempuan Bali, Oka Rusmini melakukan adaptasi karya sastra Bali klasik atau tradisional ke dalam novel terbarunya.

Ia mengadaptasi Kidung Jerum Kundangdya menjadi novel berjudul Jerum yang diterbitkannya pada Agustus 2020 ini.

Novel ini dibedah pada acara Ngorbit#6: Ngobrol-Buku Virtual bersama jagadbuku via zoom pada Sabtu (12/9/2020) sore dengan dua pembedah yakni I Wayan Artika seorang dosen Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Pendidikan Ganesha, Singaraja dan Putu Eka Guna Yasa, dosen sastra Bali Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana.

Wayan Artika menyebutkan lahirnya novel Jerum ini merupakan bentuk kreativitas Oka Rusmini untuk mengalirkan sastra Bali klasik ke dalam zaman modern ini.

Azriel Hermansyah Dikabarkan Sedang Mendekati Gadis Bali, Begini Respons Ashanty & Anang

Ini Kata Menko Airlangga Terkait Penanganan Covid-19 di Bali

234 Duktang Terdata di Terunasari Desa Dauh Puri Kaja Denpasar, Turut Kampanyekan Protokol Kesehatan

Ia juga mengatakan, apa yang dilakukan Oka Rusmini bukan sekadar alih wahana dalam memilih teks, namun berdasarkan fondasi ideologi dari Oka sendiri.

“Dalam novel ini, masih ada jejak Oka Rusmini. Ada pandangan ideologis Oka, bagaimana memandang sisi perempuan Bali. Banyak penelitian yang menyebut jika Oka Rusmini berbicara perempan, ketertindasan, resistensi dan kebebasan hampir semua penelitian menggunakan itu,” kata Artika.

Sementara itu, Putu Eka Guna Yasa mengatakan dengan adanya adaptasi kidung ke dalam novel ini, otomatis akan memperluas pembacaan kidung tersebut ke dalam kehidupan masyarakat luas.

“Kalau masih misalnya kidung ini ditulis dalam Bahasa Kawi Bali, maka tidak akan banyak yang membaca, dengan ini otamatis memperluas keterbacaan kidung ini di masyarakat saat ini,” kata Guna.

Guna mengatakan Kidung Jerum Kundangdeya ini populer pada tahun 1920-an hingga 1930-an dan banyak dinyanyikan sekaa santi di wilayah Padangbulia, Penglatan maupun Kubutambahan, Buleleng.

Juga diangkat menjadi sebuh lakon pementasan Arja di wilayah Bajera, Tabanan.

“Dalam perkembangannya, popularitas kidung ini meredup dan hanya jadi pengiring upacara yadnya khususnya upacara Bhuta Yadnya dan itupun hanya dibaca tiga bait,” imbuhnya.

Guna menyebut, meskipun sudah diadaptasi ke dalam novel, akan tetapi Oka masih ketergantungan pada Kidung Jerum Kundangdya ini yang bisa dilihat dari alur cerita.

Secara singkat Kidung Jerum Kundangdya ini bercerita tentang tragedi cinta seorang lelaki bernama Kundangdya dari Banjar Kidul dengan Jerum.

Pada awalnya ibu dari Kundangdya memintanya untuk menikah dengan seorang gadis bernama Jerum.

Ungkap Parahnya Corona di Brasil, Ini Doa Teco Bagi Anak Eks Pelatih Persija yang Positif Covid-19

Alexandre Lacazette Pilih Bertahan di Arsenal Ketimbang Pindah ke Juventus

1 Pasien Covid-19 Meninggal Dunia di Denpasar, Kasus Positif Bertambah 33 Orang

Sumber: Tribun Bali
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved