Kim Jong Un Kembalikan Masker ke China Karena Curiga Dibuat Oleh Korea Selatan

Pedagang di kota perbatasan China Dandong mengungkapkan, masker itu disimpan di gudang Korut selama satu bulan

Editor: Eviera Paramita Sandi
STR/AFP/KCNA VIA KNS via Tribunnews
Dalam gambar yang diambil pada tanggal 25 Agustus 2020 dan dirilis Kantor Berita Pusat Korea (KCNA) resmi Korea Utara pada tanggal 26 Agustus 2020 ini, Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un (tengah) menghadiri pertemuan biro politik dan dewan kebijakan eksekutif Komite pusat ke-7 Partai Pekerja Korea (WPK) di Pyongyang. 

TRIBUN-BALI.COM, PYONGYANG -  Kim Jong Un dikabarkan telah mengembalikan masker ke China. 

Hal ini dilakukan pemimpin Korea Utara tersebut di tengah kecurigaan bahwa masker itu diproduksi di Korea Selatan.

Salah atu pegadang, yang mengaku terkejut dengan langkah yang dilakukan negara penganut ideologi Juche itu.

Diduga Kim Jong Un paranoid dengan mulai kuatnya pengaruh Korea Selatan di negaranya, terutama dalam maraknya aksi pembelot yang mengkritiknya.

Karena itu, pemerintahannya melarang segala produk yang dibuat di Korea Selatan.

Bahkan, mereka juga melarang produk China yang diproses menggunakan bantuan asing.

Semua berawal ketika masker menjadi barang yang paling banyak dicari selama virus corona, meski Korea Utara mengaku belum mendapat satu kasus pun.

Pedagang di kota perbatasan China Dandong mengungkapkan, masker itu disimpan di gudang Korut selama satu bulan sebelum dikembalikan.

Kepada Radio Free Asia, dia menuturkan awalnya mereka mendapat pesanan mengirimkan masker berkualitas baik meski harganya sedikit mahal.

"Jadi para pedagang mengirim 15.000 unit KF94, yang kualitasnya sangat baik bahkan di Korsel sekali pun," ucapnya dikutip Daily Express Kamis (17/9/2020).

Namun anehnya, setelah disimpan selama satu bulan, benda itu dikembalikan karena terdapat kecurigaan tidak diproduksi di "Negeri Panda".

Pengusaha yang tidak disebutkan identitasnya itu mengatakan, mereka menyelundupkan barang itu seolah-olah dibuat di China.

 Bahkan, mereka tidak menyertakan label untuk memperkuat alibi. Tapi Pyongyang mengembalikannya karena kualitasnya berbeda dari yang selama ini mereka impor.

"Alasan kami mengirim produk Korsel karena permintaan 'kirim yang berkualitas baik meski sedikit mahal'," keluh pengusaha tersebut.

Karena itu, mereka mencoba mengirim barang dari "Negeri Ginseng" yang harganya bisa ditekan demi memperoleh keuntungan.

Sumber: Kompas.com
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved