Breaking News:

RUU Pelarangan Minuman Beralkohol Bisa Pasung Petani Arak di Karangasem

Rinciannya, di Kecamatan Manggis terdapat 800 orang petani arak, Kecamatn Abang 2.500 orang, Kecamatan Kubu 600 orang.

Penulis: Saiful Rohim
Editor: Eviera Paramita Sandi
Tribun Bali/Saiful Rohim
Petani arak di Desa Tri Eka Buana, Kecamatan Sidemen memproses minuman arak dengan cara tradisional. 

TRIBUN-BALI.COM, KARANGASEM - BARU saja petani arak di Kabupaten Karangasem mendapat angin segar dengan dikeluarkannya Pergub Nomor 1 tahun 2020 tentang Tata Kelola Minuman Fermentasi dan/atau Destilasi Khas Bali, kini mereka kembali mendapat kabar buruk dengan diusulkannya Rancangan Undang-Undang Larangan Minuman Beralkohol (Minol).

Petani arak di Karangasem pun mengeluhkan RUU tersebut, yang melarang minuman beralkohol yang mengandung etanol atau minumaan yang diprosees secara tradisional seperti arak dan berem.

Petani arak asal Desa Tri Eka Buana, Sidemen, I Nyoman Redana, mengatakan RUU Larangan Minuman Beralkohol merupakan kebijakan yang tak memedulikan petani. Kebijakan tersebut sama dengan memasung petani arak.

“Kebebasan kami mencari nafkah seperti dibatasi," ungkap Redana, Jumat (13/11/2020) siang.

Baca juga: DPRD dan Gubernur Akan Berkoordinasi Samakan Persepsi Sikapi RUU Larangan Minuman Beralkohol

Baca juga: Kariyasa Serukan Anggota DPR Dapil Bali Harus Ikut Tolak RUU Pelarangan Minuman Beralkohol

Ditambahkan, pemerintah harus menyediakan lapangan pekerjaan yang lebih mapan seandainya benar ada larangan memproduksi dan menjual arak.

Mengingat hampir 90 persen warga di Tri Eka Buana berkerja sebagai petani arak.

Jika seandainya benar dilarang memproduksi atau menjual arak, kata Redana, berapa orang yang menjadi pengangguran karena banyak yang berhenti menjadi petani arak.

Keluarga yang bertumpu dari penghasilan menjual arak juga kesulitaan untuk memenuhi kebutuhan dapur dan anaknya.

Baca juga: Ketut Kariyasa Tegaskan Tolak RUU Pelarangan Minuman Beralkohol Sebut Pengusul Sangat Gigih

"Tidak hanya petani arak di Desa Tri Eka Buana mengeluh. Semua petani arak di seluruh Karangasem pasti mengeluhkan kebijakan ini. Seperti di Desa Tlagatawang, Kepung, Merita, dan Sidemen. Soalnya ini masalah isi perut," kata Regen, sapaan Nyomn Redana.

Data dihimpun Tribun Bali, jumlah petani arak tradisional di Karangasem mencapai 7.600 orang yang tersebar di empat kecamatan.

Halaman
12
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved