Breaking News:

AS Izinkan Pesawat Boeing 737 MAX Terbang Lagi, Keluarga Korban Kecelakaan Lion Air Kecewa

Tragedi di Indonesia sendiri terjadi pada pesawat 737 MAX yang dioperasikan oleh Lion Air jatuh ke Laut Jawa dan menewaskan 189 orang

Reuters
ILUSTRASI. Pesawat Boeing 737 MAX akan mendarat setelah uji coba penerbangan di Boeing Field di Seattle, Washington, Amerika Serikat, Senin (29/6/2020). 

TRIBUN-BALI.COM - Beberapa kerabat korban kecelakaan pesawat tipe Boeing 737 MAX di Indonesia mengecam keputusan otoritas penerbangan Amerika Serikat (AS) yang mengizinkan pesawat jet itu kembali mengudara.

Mereka mengatakan langkah tersebut dilakukan terlalu cepat.

Federal Aviation Administration (FAA) AS pada hari Rabu mencabut larangan terbang Boeing 737 MAX setelah dua kecelakaan fatal di Indonesia dan Ethiopia yang menewaskan 346 orang dalam rentang waktu lima bulan.

Tragedi di Indonesia sendiri terjadi pada pesawat 737 MAX yang dioperasikan oleh Lion Air jatuh ke Laut Jawa dan menewaskan 189 orang.

Baca juga: Ruang Kelas SDN 7 Tianyar Barat Rusak Parah,Disdikpora Karangasem Usulkan Anggaran Perbaikan di 2021

Baca juga: Gerakan Bali Kembali Akan Gelar Tes Swab Gratis untuk 100 Orang per Hari

Baca juga: Wapres Maruf Amin: Vaksinasi Covid-19 Tunggu Izin dari BPOM dan MUI

"Pihak berwenang AS seharusnya tidak mencabut perintah grounded secepat ini.

Mereka harus mempertimbangkan perasaan keluarga korban," kata Aris Sugiono, yang kehilangan saudara perempuan dan saudara iparnya dalam kecelakaan tersebut seperti dikutip Reuters.

Di masa lalu, regulator penerbangan global segera mengikuti panduan FAA, yang selama beberapa dekade dianggap sebagai perintis keselamatan penerbangan.

“Bukan hanya penerbangan Lion Air, tapi juga korban di Ethiopia.

Keluarga korban belum pulih 100%,” timpal Anton Sahadi, kerabat korban yang lain

Di Indonesia, beberapa kerabat yang dirugikan mengatakan izin diberikan lebih cepat daripada kompensasi.

 “Mengapa izin penerbangan sudah diberikan sedangkan urusan keluarga korban belum tuntas?” tanya Latief Nurbana, seorang pegawai negeri sipil yang kehilangan putranya dalam penerbangan tersebut.

Dia mengatakan pembayaran kompensasi dan pengaturan dengan Boeing Community Investment Fund (BCIF) masih belum diselesaikan.

 Situs BCIF mengatakan bahwa pendistribusian dana untuk memberikan dukungan filantropi kepada komunitas yang terkena dampak kecelakaan akan selesai pada 15 Januari 2021.

Di sisi lain, keluarga korban kecelakaan Ethiopia Airlines mengatakan dalam sebuah pernyataan bahwa mereka merasakan kekecewaan dan kesedihan baru setelah keputusan FAA untuk mengizinkan pesawat tersebut untuk terbang lagi.

Baca juga: Lawan Dustin Poirier, Tony Ferguson Sebut Conor McGregor Kini Bagai Kurcaci Irnandia

Baca juga: Isu Bagus Kahfi Menuju Ajax Amsterdam Gemparkan Media Thailand

Baca juga: 6 Fakta Sidang Putusan Jerinx, JRX SID Peluk Sejenak Nora Alexandra hingga Hukuman 14 Bulan Penjara

"Keluarga kami hancur," kata Naoise Ryan, yang suaminya meninggal di dalam pesawat Ethiopian Airlines penerbangan 302.(*)

Sumber: Kontan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved