Badung Unggul Maju Sejahtera
Badung Unggul Maju Sejahtera

RS Mata Bali Mandara Adakan Penyuluhan Ingatkan Bahaya Kelebihan Penggunaan Antibiotik

Rumah Sakit Mata Bali Mandara adakan penyuluhan tentang resistensi antibiotik di masa pandemic Covid-19

Tayang:
Tribun Bali/Ni Luh Putu Wahyuni Sari
Rumah Sakit Mata Bali Mandara Denpasar adakan penyuluhan tentang resistensi antibiotic dimasa pandemic Covid-19 yang bertempat di Ruang Tunggu Poliklinik Mata RS Mata Bali Mandara pada, Jumat (20/11/2020) yang dimulai pada pukul, 09.00 Wita. 

Laporan Wartawan, Ni Luh Putu Wahyuni Sri Utami 

TRIBUN-BALI.COM, DENPASARRumah Sakit Mata Bali Mandara adakan penyuluhan tentang resistensi antibiotik di masa pandemic Covid-19, bertempat di Ruang Tunggu Poliklinik Mata RS Mata Bali Mandara, Denpasar, Bali,  Jumat (20/11/2020), pukul, 09.00 Wita. 

Penyuluhan dibawakan langsung oleh Apoteker yang juga selaku anggota tim pengendalian resistensi antibiotik di RS Mata Bali Mandara, Adi Budi Hendrawan, menjelaskan beberapa poin tentang antibiotik.
  
Adi menjelaskan, bahwa Resistensi Antibiotik adalah kemampuan suatu mikroorganisme terutama pada bakteri untuk melawan kemampuan dari antibiotik yang biasanya digunakan untuk membunuh bakteri.

Jadi nantinya bakteri akan memiliki kekebalan sendiri sehingga tidak bisa dibunuh oleh antibiotik yang biasa membunuh bakteri itu sendiri. 

Baca juga: Nekad Apeli Gadis Anak Anggota Brimob, Kedok Polisi Gadungan Ini Malah Terbongkar & Berakhir Begini

Baca juga: Jual Batu Seberat 1,7 Kilogram, Pria Ini Jadi Jutawan

Baca juga: Kiper Utama Persib Bandung asal Bali Ini Bicara Soal Pensiun, Made Wirawan Punya Opsi Ini

“Perkembangan antibiotic sendiri sudah mulai stagnan untuk saat ini. Dahulu memang sejak pertama antibiotik ditemukan seperti penicilin ketika zaman perang dunia 1 hingga pada tahun 2012 terakhir ditemukan antibiotik yang bernama polimiksin dan semenjak saat itu tidak ada lagi antibiotik yang dapat ditemukan oleh ilmuwan-ilmuwan di seluruh dunia. Sedangkan bakteri sendiri dapat beradaptasi dan bermutasi terhadap antibiotik yang dapat membunuhnya,” katanya. 

Hingga suatu ketika perkembangan dan kecepatan dari bakteri itu sendiri untuk dapat melawan semua macam antibiotik ternyata lebih cepat dibandingkan kecepatan dari penemuan suatu antibiotik.

Karena kita sudah dalam masa post antibiotik jadi sudah tidak ada lagi antibiotik yang ditemukan, dikhawatirkan semua antibiotik yang ada didunia nantinya tidak dapat membunuh semua bakteri yang dapat sebabkan infeksi.

Sehingga misalkan terjadi infeksi yang sangat simple seperti luka tidak dapat diobati lagi. 

“Terlebih di tengah pandemic Covid-19, gejala virus Covid-19 sendiri sangat mirip dengan flu dan demam. Untuk masyarakat saat ini memang sudah banyak edukasinya. Namun belum semua masyarakat terpapar mengenai edukasi penggunaan dari antibiotik. Sehingga masih banyak ditemukan penggunaan antibiotik yang tidak bijak yang nantinya akan mempercepat resistensi antibiotik. Dikhawatirkan ketika pandemic ini, masyarakat yang flu langsung mengonsumsi antibiotik terlebih dibayangi dengan rasa takut karena flu merupakan salah satu gejala dari Covid-19. Yang seharusnya flu dapat ditanggulangi dengan istirahat seperti imbauan pemerintah malah mengonsumsi antibiotik secara berlebihan dan nantinya hal tersebut dapat membuat terjadinya resistensi antibiotik,” tambahnya. 

Ia juga menambahkan, terlalu banyak mengonsumsi antibiotik tentunya tidak baik untuk kesehatan, maka dari itu sejak awal antibiotik di produksi, dalam kemasannya sudah terdapat logo lingkaran merah disertai dengan huruf K yang artinya itu merupakan obat keras.

Dan obat keras itu sendiri seharusnya digunakan sesuai dengan anjuran atau resep dari dokter. 

”Jadi penggunaan antibiotik yang tidak tepat atau tanpa rekomendasi dari dokter, nantinya akan menyebabkan resistensi antibiotik. Selain itu, antibiotik sendiri mempunyai banyak efek samping. Dokter sendiri pun saat mengobati menggunakan antibiotik pasti mempertimbangkan risk dan benefitnya. Sementara untuk masyarakat sendiri tidak memiliki pertimbangan risk atau benefit seperti itu dan dikhawatirkan tanpa pertimbangan yang seperti itu, penggunaan antibiotik jadi sangat tinggi di masyarakat,” jelasnya. 

Maka dari itu penting dilakukannya sosialisasi sebisa mungkin di rumah sakit atau di sekitar kita.

Dan untuk penerapan pengendalian antibiotik ini, kebetulan sudah menjadi suatu standar di setiap rumah sakit di Indonesia.

Jadi itu juga merupakan suatu dukungan dari pemerintah untuk mendukung program resistensi antibiotik ini.

Sumber: Tribun Bali
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved