Breaking News:

Serba serbi

Apa Saja Pantangan Seorang Pemangku? Berikut Penjelasan Jro Mangku Ketut Maliarsa

Menurut keputusan Mahashaba Parisada Hindu Dharma Indonesia ke II, pada 5 Desember 1968, bahwa yang dimaksud dengan pemangku, adalah mereka yang

Penulis: AA Seri Kusniarti | Editor: Ida Ayu Suryantini Putri
Tribun Bali/AA Seri Kusniarti
Para pemangku di Pura Campuhan Windhu Segara 

Guna, adalah sifat manusia yang cenderung mabuk karena kegelapan pikiran akibat kepandaiannya.

Kasuran, adalah sifat manusia yang cenderung mabuk karena kegelapan pikiran akibat pengaruh keturunan atau kebangsawanan.

Sura, adalah sifat manusia yang cenderung mabuk karena kegelapan pikiran akibat pengaruh minuman keras, seperti arak, bir, tuak, narkoba, dan minuman alkohol lainnya.

Baca juga: Pengangguran di Karangasem Meningkat Selama Pandemi, Kini Jumlahnya Capai 5.306 Orang

Baca juga: Ketua FPI Galang Ditangkap Polisi, Upload Gambar Megawati Gendong Jokowi di Facebook

Baca juga: Izin Operasional Lab PCR Turun, RSUD Klungkung Sudah Dapat Umumkan Hasil Swab Secara Resmi

Surupa, adalah sifat manusia yang cenderung mabuk karena kegelapan pikiran akibat pengaruh keindahan rupa, semisal kecantikan karena dia terlalu tampan atau cantik.

Yowana, sifat manusia yang cenderung mabuk karena kegelapan pikiran akibat pengaruh keremajaan, karena masih muda usianya.

“Ketujuh kegelapan tersebut, tidak boleh dilaksanakan oleh seorang pemangku karena itu adalah tindakan atau perbuatan kotor, baik dalam bhuana alit pemangku sendiri. Maupun di dalam bhuana agung atau alam semesta,” tegasnya.

Pemangku asli Bondalem ini, menambahkan hal tersebut juga tertulis dalam Bhagawan Gita XVI.21.

Baca juga: Terlibat Kasus Narkotik, Bule Australia yang Sempat Ngamuk & Depresi saat Ditahan Mulai Diadili

Baca juga: Tim Kajian Daerah Setjen Dewan Ketahanan Nasional Kunker di Bali, Lalu Sambangi Makodam IX/Udayana

Baca juga: Akun Shoumaya Tazkiyyah Hilang dari Instagram Setelah Kabar Penangkapan Dua Artis di Kamar Hotel

Kutipannya ‘Triwindhu naraksyedam dwaram nasaram atmanah, kamah, krodhas tahta lobhas tasmed etat trayam ayajet’ dengan arti ada tiga jalan menuju neraka; kama, krodha, dan lobha.

Setiap orang hendaknya menjauhkan ketiga sifat tersebut, sebab ketiga hal tersebut akan menjerumuskan manusia ke alam neraka.

Sehingga manusia tidak bisa mencapai tujuan utama Agama Hindu, yakni ‘Moksartam Jagadhita Ya Ca Iti Dharma’ artinya mencapai kebahagiaan lahir dan batin, baik di atas dunia maupun di akhirat.

Halaman
123
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved