Breaking News

Ngopi Santai

Espana 82

Kepergiannya menambah duka setelah dunia ditinggalkan  megabintang Argentina, Diego Maradona yang wafat p25 November 2020. 

Penulis: DionDBPutra | Editor: Eviera Paramita Sandi
FIFA
Bintang tim nasional Italia, Paolo Rossi, melakukan selebrasi setelah mencetak gol pembuka timnya ke gawang Jerman Barat (sekarang Jerman) pada final Piala Dunia 1982. Italia menang 3-1 dan menjadi juara. 

TRIBUN-BALI.COM - Saya baru sesaat melepas seragam putih merah ketika dia menjadi bintang pujaan  dunia. 

Belum banyak paham soal bola tapi sebagai anak dusun saya sungguh beruntung dianugerahi ayah hebat bernama Thomas Bata yang hobi dengar radio transistor.

Pun mengoleksi majalah bulanan dan buku-buku.

Siaran idola ayahku mulai dari RRI, Radio Australia, Suara Amerika (VoA) hingga BBC London.

Itulah sebabnya sekalipun bermukim di kampung udik Lio Timur Flores, saya dan kakak adikku berenam tidak terlalu jauh ketinggalan informasi.

Sekilas terekam dalam memori bocahku satu nama yang berulangkali disebut penyiar berita olahraga RRI.

Radio Autralia ataupun BBC.

Awalnya kudengar sambil lalu saja. Namun, saat masuk SMP Negeri 2 di Kota Ende pada bulan Juli yang hangat 1982, saya  mulai mengenal lebih jauh tentang sang bintang.

Lebih-lebih lagi pada sampul depan buku tulis  yang kakak sulungku, Eman Bata Dede beli di Toko Fungkam Ende,  terpampang jelas foto dan nama  Paolo Rossi

Dia sedang beraksi bersama si kulit bundar. Tertulis pula di sana dengan huruf mencolok,  Espana 82.

Espana 82 menunjuk pada kejuaraan sepak bola empat tahunan Piala Dunia yang berlangsung di Spanyol tanggal 13 Juni hingga  11 Juli 1982.

Italia juara Piala Dunia untuk kali ketiga.  Setelah  tahun 1934 dan 1938, Italia baru juara lagi tahun 1982 berkat kontribusi luar biasa Paolo Rossi.

Paolo Rossi menjadi idola kami pada masa itu. Saya memiliki lebih dari tiga buku tulis untuk catat mata pelajaran bersampul depan foto Paolo Rossi.

Kawan-kawan sekelasku di SMPN 2 Ende seperti Mohammad Husen.  Kletus Kamu,  M Khaidir,  Baltasar Kadju, Ishak Marzuki,  Gerard Gaga dan Dus Lolo juga sama.

Ketika bermain bola plastik saat isi waktu istirahat di halaman sekolah di Jalan Kelimutu Kota Ende, kami membayangkan diri sebagai Paolo Rossi.

Sumber: Tribun Bali
Halaman 1/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved