Pura di Bali
Babad Wongayah Dalem, Bantu Telusuri Sejarah Pura Maospahit
Jro Mangku Ketut Gede Sudiasna, menceritakan bahwa sejak Pura Maospahit, Banjar Grenceng, Pamecutan Kaja, Denpasar Utara ada, ia tidak mendapati
Penulis: AA Seri Kusniarti | Editor: Wema Satya Dinata
Jro dasaran ini menggunakan metode lontar tanpa sastra. Atau lontar kosong, yang jika nanti beruntung dan mendapatkan petunjuk maka lontar itu akan terisi sendirinya.
Jro dasaran itu, kemudian Munggah menghaturkan upakara dan puja mantra berdoa.
Sebelumnya ia mengatakan kepada keluarga Jro Mangku Ketut Gede Sudiasna. Bahwa jika berjodoh akan ada tulisan yang muncul di lontar. Baik itu tulisan dari aksara Bali, Jawa Kuna, maupun Sansekerta.
Ternyata Tuhan memang memberi petunjuk, dan terlihatlah tulisan di lontar itu. 'Kema ning ke Blahsigaran' demikian bunyi tulisannya.
"Karena ayah saya tidak tahu itu di wilayah mana, kemudian bertanya kepada jro dasaran. Dimana lokasi tempat ini," katanya. Jro dasaran memberitahu bahwa itu adalah wilayah Blahbatuh.
Tanpa menunggu lama, jro mangku bersama keluarganya menuju ke Pura Dalem di Blahbatuh.
Sebab memang kepercayaan di Bali, kata dia, apabila nunas tamba karena kabrebehan atau musibah adalah meminta ke bhatara-bhatari yang berstana di Pura Dalem.
Dengan membawa banten pejati, rombongan ini diterima oleh pemangku Pura Dalem di sana.
Namun sayang, pemangku menegaskan bahwa ia tidak bisa memberikan Tamba atau pengobatan. Tetapi pemangku itu memberikan informasi, agar keluarga jro mangku datang lagi keesokan harinya.
"Besoknya kami datang kagi ke Pura Dalem, dan diantar oleh pemangku ke Griya Kekeran di Blahbatuh," jelasnya.
Griya ini tidak lain adalah rumah dari almarhum Ida Pedanda Gede Made Gunung.
Mungkin memang jodoh, di sana lalu dibukalah sebuah lontar. Berjudul Babad Wongayah Dalem.
Lontar ini berisikan sejarah tentang raja-raja Bali pada zamannya. Dan terus dibaca, sampailah pada kisah Pura Maospahit di Banjar Grencong. Atau nama lain Grenceng saat ini.
"Grencong itu nama kunonya," jelas Jro mangku.
Dari dalam lontar inilah, diketahui bahwa Pura Maospahit dibangun oleh Sri Kebo Iwa tahun 1200 Caka.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/salah-satu-candi-raras-di-pura-maospahit-dengan-patung-teracota-di-depannya.jpg)