Regional
Kisah Warga Bali di Majene yang Terdampak Gempa, Putu Muliati: Susah Nyari Makan, Warung Tutup
“Karena banyak yang mengungsi takut tsunami, jadinya sulit nyari makan di sini. Warung-warung pada tutup dan tidak berani jualan,” aku perempuan yang
Penulis: Putu Supartika | Editor: Noviana Windri
Laporan Wartawan Tribun Bali, I Putu Supartika
TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Jumat (15/1/2021) Kabupaten Majene, Sulawesi Barat diguncang gempa berkekuatan 6.2 SR.
Gempa ini terjadi pada pukul 02.28 Wita.
Hingga kini masyarakat pun masih waswas dengan adanya gempa susulan.
Salah seorang warga Bali yang tinggal di Majene, Putu Muliati pun merasakan hal yang sama.
Baca juga: Analisis BMKG terkait Gempa Majene: Dari Gempa Kerak Dangkal hingga Sesar Naik Mamuju
Dihubungi Sabtu (16/1/2021) siang, Muliati menuturkan dirinya tinggal di pusat Kota Majene.
Sehingga dampak yang dialami tidak terlalu serius.
Namun dirinya mengaku waswas jika seandainya terjadi gempa susulan yang mengakibatkan tsunami.
Apalagi rumahnya berada di dekat pantai.
“Kalau saya di Majene kota, tidak terlalu terdampak. Tidak ada bangunan sampai rusak. Tapi katanya kalau di Kecamatan Malunda katanya hancur,” kata warga asli Bangli ini.
Walaupun begitu, karena takut akan tsunami, banyak warga di wilayahnya yang memilih mengungsi.
“Karena banyak yang mengungsi takut tsunami, jadinya sulit nyari makan di sini. Warung-warung pada tutup dan tidak berani jualan,” aku perempuan yang tinggal di Majene sejak tahun 1998 ini.
Namun, sejak gempa terjadi dirinya mengaku tidak ikut mengungsi walaupun tetap waswas.
Sebenarnya, sejak tahun 2010 lalu ia bersama keluarganya sudah pindah ke Makassar.
Namun, ia masih punya rumah di Majene yang digunakan sebagai tempat usaha.
Baca juga: Gempa di Sulawesi Barat, Wayan Santika Sebut Kondisinya di Polewali Mandar Aman