Wawancara Khusus
PPKM di Bali Belum Efektif Tekan Penyebaran Covid-19
Wawancara Khusus dengan Kepala Dinas Kesehatan Bali, dr. Ketut Suarjaya, PPKM di Bali Belum Efektif Tekan Penyebaran Covid-19
Penulis: Ni Luh Putu Wahyuni Sari | Editor: Putu Dewi Adi Damayanthi
TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - SUDAH 12 hari penerapan Pelaksanaan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) di Bali, yakni sejak 11 Januari 2021 lalu.
Namun jumlah kasus positif di Bali bukannya berkurang, justru mengalami lonjakan.
Bali pun masih zona merah.
Sekarang Pemerintah sudah memutuskan kembali memperpanjang PPKM Jawa-Bali.
Baca juga: Sistem Pemeriksaan Covid-19 di Indonesia Disebut Salah Oleh Menkes, Ini Kata Epidemiolog
Baca juga: Pengantin Sempat Sakit, Kluster Nganten Muncul di Klungkung Bali, 15 Warga Terkonfirmasi Covid-19
Baca juga: Brimob Polda Bali Beberkan Alasan Kenapa Distribusi Vaksin Covid-19 Harus Dikawal Ketat
Setelah PPKM tahap pertama berakhir 25 Januari nanti, kembali diperpanjang dua minggu mulai 26 Januari hingga 8 Februari 2021.
Bagaimana Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Bali, dr. Ketut Suarjaya, menyikapi fenomena melonjaknya kasus Covid-19 di masa PPKM ini?
Berikut petika wawancaranya saat ditemui di Gedung Jayasaba, Denpasar, Bali, Jumat 22 Januari 2021.
Bagaimana perkembangan kasus Covid-19 di Bali selama 11 hari diterapkannya PPKM?
Kasus positif Covid-19 kian meningkat khususnya di Provinsi Bali.
Bahkan kemarin Rabu, 20 Januari 2021, Provinsi Bali mencatatkan jumlah kasus positif sebanyak 494 kasus.
Naiknya kasus positif Covid-19 di Provinsi Bali diketahui terjadi sejak 11 Januari 2021 lalu.
Semenjak itu, kasus positif Covid-19 di Provinsi Bali selalu di atas 200 kasus.
Kenapa justru saat PPKM terjadi lonjakan kasus, bahkan sampai pecahkan rekor tertinggi. Kenapa bisa, apa kira-kira faktornya?
Penyebab utama lonjakan kasus positif Covid-19 ketika PPKM adalah perluasan dari kasus positif yang ada sebelumnya.
Kasus sebelumnya yang meliputi upacara adat sehingga banyak menimbulkan kerumunan hingga masuk pada kluster keluarga.
Dari kluster keluarga bergerak ke kluster perkantoran.
Ini terus berputar dan membuat saat ini banyak satu keluarga yang positif Covid-19.
Setelah ditemukan kasus positif, selanjutnya pihak Satgas melakukan tracing dengan kontak erat sehingga jumlah kasus terus bertambah.
Intinya penambahan kasus ini terjadi berawal dari kluster upacara adat dan keluarga.
Apakah dengan lonjakan kasus ini, PPKM dipandang efektif menekan penyebaran kasus Covid? Kira-kira apa yang masih perlu ditingkatkan?
Saya belum melihat PPKM ini efektif untuk menekan penyebaran virus Covid-19.
Kerumunan tetap terjadi misalkan pada restoran, ketika masuk restorannya penuh, masuk mall juga penuh.
Karenanya kita mengimbau kepada masyarakat agar lebih mentaati peraturan PPKM untuk mencegah penyebaran transmisi Covid-19.
Saya berharap pada masyarakat agar lebih mentaati peraturan PPKM dan tentu saja ini sangat perlu kesadaran bersama.
Pemerintah akan memperpanjang PPKM Jawa-Bali sampai 8 Februari, karena salah satu alasannya selama dua pekan ini dianggap belum maksimal. Bagaimana komentar Bapak?
Semoga dengan memperpanjang PPKM hingga 8 Februari kasus positif Covid-19 dapat turun, khususnya pada Provinsi Bali.
Kalau PPKM diterapkan dengan disiplin, kasus positif Covid-19 pasti akan turun.
Terkait vaksin, Bali kembali mendapat tambahan vaksin dari pusat. Berapa banyak dan bagaimana distribusinya?
Dinas Kesehatan Provinsi Bali kembali terima vaksin Covid-19 jenis Sinovac dari Biofarma melalui jalur udara pada hari ini, Jumat 22 Januari 2021.
Vaksin tiba pukul 10.00 Wita.
Jumlah yang kita terima 25.320 vial.
Untuk kegiatan vaksinasi selanjutnya akan diselesaikan pada tiga kota/kabupaten terlebih dahulu yang meliputi Kota Denpasar, Kabupaten Badung, dan Gianyar.
Kalau sudah selesai pada tiga kota/kabupaten tersebut akan mengarah pada enam kabupaten berikutnya yang belum mendapatkan vaksin.
Untuk saat ini kita benar-benar fokuskan tenaga kesehatan terlebih dahulu.
Target tenaga kesehatan di Provinsi Bali yang akan divaksin sebanyak 38 ribu nakes.
Saya menargetkan pemberian vaksinasi terhadap tenaga kesehatan paling lambat selesai pada bulan akhir Februari.
Saat ini beberapa faskes seperti puskesmas dalam 1 hari dapat melayani vaksinasi sebanyak 50 orang sedangkan rumah sakit melayani vaksinasi sebanyak 200 orang.
Setelah tenaga nakes, kelompok masyarakat yang mana akan mendapat vaksinasi selanjutnya?
Nantinya setelah vaksin telah selesai didistribusikan ke tenaga kesehatan maka sisanya akan dilanjutkan untuk prioritas selanjutnya yang meliputi SDM yang bekerja di pelayanan public yang meliputi TNI dan Polri.
Saya kira semua aspek nanti akan mendapatkan vaksin ini tinggal menunggu waktu saja.
Ada sebagian masyarakat yang masih ragu-ragu dengan vaksin Sinovac, apa yang dilakukan Dinkes untuk meyakinkan masyarakat bahwa vaksin ini aman dan bisa mencegah penularan Covid-19?
Dengan melakukan penyuntikan vaksin Covid-19 ke beberapa pejabat yang telah dilakukan beberapa waktu lalu, itu sudah membuktikan bahwa vaksin Covid-19 aman.
Dan pasca vaksinasi kemarin belum ada ditemukannya kasus KIPI (Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi) sampai saat ini.
Berapa target masyarakat Bali yang akan menerima vaksin?
Sebanyak 70 persen penduduk akan menerima vaksin Covid-19.
(Wahyuni Sri Utami)
Catatan Redaksi: Mari cegah dan perangi persebaran Covid-19. Tribun Bali mengajak seluruh Tribunners untuk selalu menerapkan protokol kesehatan dalam setiap kegiatan.
Ingat Pesan Ibu: Memakai Masker, Mencuci Tangan, dan Menjaga Jarak
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/kepala-dinas-kesehatan-provinsi-bali-ketut-suarjaya-memberikan-keterangan.jpg)