Corona di Bali
Sosok Almarhum Romo Wayan Di Mata Guru Seminarinya: Baik, Disiplin dan Tak Banyak Bicara
Jenazah Romo Wayan diberangkatkan dari Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Sanglah Denpasar menuju Pemakaman Palasari pada Minggu 31 Januari 2021
Penulis: Adrian Amurwonegoro | Editor: Wema Satya Dinata
TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Pastor Kepala Paroki Santo Petrus Monang - Maning Denpasar Barat, Keuskupan Agung Denpasar, Romo Aloysius Wayan Supriyadi SVD wafat pada Sabtu 30 Januari 2021 di Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Sanglah Denpasar pukul 18.20 Wita.
Jenazah Romo Wayan diberangkatkan dari Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Sanglah Denpasar menuju Pemakaman Palasari pada Minggu 31 Januari 2021.
Tentu, meninggalnya Romo Wayan menjadi kabar duka bagi umat Katolik khususnya di Bali.
Tak terkecuali Pastor Paroki Roh Kudus Katedral Denpasar, Romo Herman Yosep Babey yang merasakan kehilangan sosok Romo Wayan.
• Kabar Duka, Pastor Paroki Monang Maning Denpasar Bali Meninggal Dunia Akibat Covid-19
Romo Babey merupakan guru dari almarhum pastor muda tersebut semasa menempuh pendidikan Katolik di Lembaga Seminari Menengah Roh Kudus Tuka, Canggu, Kuta Utara, Badung, Bali pada tahun 1992-1994.
"Semasa seminari saya yang mengajar, kurang lebih, 2 tahun 92-94 saya mengajar almarhum, Romo Wayan ini murid yang baik, disiplin dalam menjalankan tugas di asrama," kata Romo Babey dalam wawancara khusus dengan Tribun Bali.
Selepas Seminari Menengah di Tuka, Romo Wayan melanjutkan Novisiat SVD Roh Kudus Batu.
Romo Wayan kemudian menjalani pendidikan dari S1 hingga S2 di Sekolah Tinggi Filsafat dan Teologi (STFT) di Malang, Jawa Timur sampai dengan tahun 2003.
Pada tahun yang sama, Romo Wayan ditahbiskan sebagi Diakon Mgr. H.J.S. Pandoyoputro, OCarm
Setahun kemudian, Romo Wayan ditahbiskan menjadi Imam di Paroki Hati Kudus Yesus Palasari pada 15 Januari 2004 oleh Monsinyur (Mgr) Benyamin Bria.
Dengan moto Tahbisan Imam, "Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna" (2 Kor 12, 9a)
Romo Wayan lahir di Palasari, Jembrana, Bali, pada 15 September 1974, merupakan sulung dari tiga bersaudara pasangan I Wayan Rinus dan Ni Ketut Suleni.
Dalam karya perutusannya, pertama kali Romo Wayan bertugas di Paroki San Jose Obrero, Keuskupan Rancagua, Chile tahun 2005-2010, kemudian di Aceh Tenggara serta Kalimantan Timur dan pada tahun 2008 hingga akhir hayatnya kini, Romo Wayan memberikan karya perutusan di Paroki Santo Petrus Monang-Maning Denpasar.
Bagi Romo Babey, alm.Romo Wayan merupakam Imam yang sungguh setia dalam pelayanan dan tugas perutusan sebagai Pastor Gereja Katolik.
• Kronologi Satu Uskup Agung dan 4 Orang Pastor di Kota Medan Dinyatakan Positif Terinfeksi Covid-19
Romo Wayan juga pribadi yang tidak terlalu banyak bicara diluar tugas dan karya perutusannya bagi umat.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/romo-aloysius-wayan-supriya-svd-semasa-hidup-mhng.jpg)