Badung Unggul Maju Sejahtera
Badung Unggul Maju Sejahtera

Serba serbi

Besok Pagerwesi, Ini Bantennya Dalam Agama Hindu

Setelah rahinan Siwaratri dan Saraswati, kini saatnya umat Hindu di Bali menyambut Hari Raya Pagerwesi.

Tayang:
Tribun Bali/AA Seri Kusniarti
Ida Rsi Bhujangga Waisnawa Putra Sara Shri Satya Jyoti 

Laporan Wartawan Tribun Bali, A A Seri Kusniarti

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR – Setelah rahinan Siwaratri dan Saraswati, kini saatnya umat Hindu di Bali menyambut Hari Raya Pagerwesi.

Dalam ‘Alih Aksara, Alih Bahasa, dan Kajian Lontar Sundarigama’ dijelaskan bahwa Pada Rabu Kliwon Sinta dinamakan dengan Pagerwesi.

Saatnya Sang Hyang Paramestiguru beryoga, diiringi para dewata nawa sanga (sembilan dewa penghuni sembilan penjuru).

Untuk mendoakan kesuburuan mahluk yang hidup dam tumbuh di alam semesta.

Sehari Sebelum Pagerwesi Disebut Sabuh Mas, Upacara untuk Sarwa Berana, Ini Persembahannya

Krama Desa Adat Buleleng Gelar Tradisi Memujung Saat Pagerwesi

Memagari Diri Saat Hari Raya Pagerwesi, Ini Upakara yang Dipersembahkan

Pada saat itu, pendeta agung wajib melakukan pemujaan, memohon air suci, dan memuja kebesaran Bhatara Sang Hyang Parameswara.

“Sesajennya terdiri atas satu daksina, satu suci, satu pras, satu panyeneng, sasayut panca lingga, penek ajuman, beserta raka wangi-wangi selengkapnya."

"Ini dipersembahkan di sanggah kemulan,” jelas I Nyoman Suarka, Koordinator Tim Alih Aksara, Alih Bahasa dan Kajian Lontar Sundarigama, Selasa 2 Februari 2021.

Adapun sesajen untuk manusianya, terdiri atas satu sasayut pageh urip dan prayascita.

“Pada tengah malam umat wajib melakukan yoga semadi,” imbuhnya.

Adalagi sesajen caru untuk Sang Panca Mahabhuta. Terdiri atas segehan warna sesuai dengan neptu kelima penjuru.

Purnama Kawulu Sebelum Saraswati, Makna dan yang Harus Dilakukan Menurut Lontar

Kerap Dianggap Tenget, Penyuluh Bahasa Bali Minta Masyarakat Jangan Takut pada Lontar

Diletakkan di kelima penjuru di halaman sanggah.

Sesajen untuk keselamatan sesama manusianya dilengkapi dengan satu segehan agung.

Ida Rsi Bhujangga Waisnawa Putra Sara Shri Satya Jyoti, menjelaskan bahwasanya Pagerwesi tidak lepas dari Saraswati dan kisah Watugunung Runtuh.

Setelah Watugunung kalah oleh Dewa Wisnu, karena keserakahannya dan kesombongannya.

Datanglah hari Saraswati, yang merupakan hari turunnya ilmu pengetahuan ke bumi melalui Weda.

Watugunung adalah simbol dari kebodohan dan keserakahan manusia, karena ia menikahi ibunya sendiri yaitu Dewi Sinta.

Namun akhirnya berhasil dikalahkan oleh Dewa Wisnu.

Sehingga kebodohan yang sirna diisi dengan ilmu pengetahuan saat Saraswati, guna menuntun umat manusia ke jalan dharma.

Setelah Saraswati, ada namanya Banyupinaruh.

“Filosofinya, pada saat menerima ilmu pengetahuan ketika Saraswati. Maka besoknya ada Banyupinaruh, berarti bahwa pengetahuan terus mengalir,” jelas ida rsi. 

Sehingga ilmu pengetahuan yang didapat bagus dan bersih, maka dari itu diperlukan Asuci Laksana yakni menyucikan pikiran diri sendiri, serta menyucikan perilakunya sendiri.

Dengan demikian pengetahuan, yang diturunkan akan berguna dan memberikan manfaat yang besar.

Baru setelahnya, saat Buda Kliwon Sinta yang disebut dengan Pagerwesi. 

“Pagar dari besi artinya pagar yang kokoh, di sana kita memagari diri kita. Jangan sampai pengetahuan disalahgunakan,” ujar beliau."

"Sehingga manusia memiliki batasan mana yang baik dan buruk. Oleh sebab itu, Saraswati sangat penting buat kehidupan."

"Dan Saraswati harus diketahui oleh semua masyarakat baik tua atau muda serta anak-anak dan sebagainya. Beliau pun mengatakan bahwa Pagerwesi di Bali kerap disebut Galungan kedua dan sama pentingnya dengan Hari Raya Galungan. (*) 

Sumber: Tribun Bali
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved