Badung Unggul Maju Sejahtera
Badung Unggul Maju Sejahtera

Berita Bali

Belum Banyak Digeluti Masyarakat Bali, Seni Menulis Baligrafi Perlu Difamiliarkan

Bali mempunyai seni menulis menggunakan aksara Bali atau yang disebut dengan Baligrafi.

Penulis: I Wayan Sui Suadnyana | Editor: Putu Dewi Adi Damayanthi
Dokumentasi Pemprov Bali
Krialoka (workshop) ngreka baligrafi serangkaian dengan Bulan Bahasa Bali 2021di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Provinsi Bali, Rabu 10 Februari 2021 - Belum Banyak Digeluti Masyarakat Bali, Seni Menulis Baligrafi Perlu Difamiliarkan 

Akademisi STAHN Mpu Kuturan lain, Made Reland Udayana Tangkas dalam makalahnya yang berjudul 'Baligrafi; Petemuan, Aksara, Sastra dan Rupa' menjelaskan awal mula Baligrafi.

Kesenian ini berawal dari sebuah Festival Baligrafi Internasional pada 2013 di Museum Gunarsa.

"Seni Baligrafi penting dilakukan karena merupakan budaya Bali yang adiluhung. Apalagi di jaman globalisasi ini ngreka Baligrafi sebagai ajang untuk melestarikan Budaya Bali," tuturnya.

Penjabat Pelaksana Teknis Bulan Bahasa Bali 2021, Made Mahesa Yuma Putra mengatakan, ngreka Baligrafi merupakan kegiatan workshop paling pertama ini disamput antusias oleh para generasi muda.

Peminat workshop tersebut sebenarnya cukup banyak, namun karena dalam suasana pandemi Covid-19, peserta kemudian dibatasai yang hanya 25 orang.

“Penerapan protokol kesehatan menjadi bagian dari krialoka, seperti memakai masker, mencuci tangan, cek suhu dan menjaga jarak,” jelasnya.

Krialoka ngreka baligrafi diadakan guna melestarikan aksara, bahasa dan sastra dalam bentuk penulisan naskah dalam lontar.

Baligrafi ini sebagai suatu rangkain huruf atau sastra yang memiliki suatu makna.

“Penulis Baligrafi ini memang sangat langka, makanya kita panitia pelaksana kegiatan dalam rangka Bulan Bahasa Bali 2021 ini melaksanakan workshop. Intinya untuk mengajak masyarakat agar tertarik untuk membuat suatu rangkaian aksara yang bermakna itu,” terangnya.

Walau hanya digelar dalam sehari, kegiatan krialoka ini diharapkan dapat memberikan penyegaran dalam pelaksanaan Bulan Bahasa Bali yang berlangsung selama Februari 2021.

Maka dari itu, dalam workshop ini tak hanya dilakukan secara teori semata, tetapi juga dibarengi dengan pratek mengenai cara ngreka Baligrafi.

“Orang yang bisa ngreka Baligrafi ini sangat langka karena jarang peminatnya, maka itu dibuatkan suatu workshop. Ini sangat perlu dilestraikan, karena antara nyurat lontar dan ngreka Baligrafi itu berbeda,” paparnya.

Menurutnya, dalam Baligrafi itu ada gambar yang dirangkai dari aksara yang bermakna.

Medianya sama daun lontar dan menggunakan alat pengrukapak.

“Kalau istilah modernnya komik. Jadi leluhur kita sudah biasa membuat komi yang inspirasinya dari cerita rakyat dan pewayangan yang menjadi pemacu budi pekerti,” tutupnya. (*)

Sumber: Tribun Bali
Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved