Berita Bali
Belum Banyak Digeluti Masyarakat Bali, Seni Menulis Baligrafi Perlu Difamiliarkan
Bali mempunyai seni menulis menggunakan aksara Bali atau yang disebut dengan Baligrafi.
Penulis: I Wayan Sui Suadnyana | Editor: Putu Dewi Adi Damayanthi
Laporan Jurnalis Tribun Bali, I Wayan Sui Suadnyana
TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Bali mempunyai seni menulis menggunakan aksara Bali atau yang disebut dengan Baligrafi.
Namun kesenian menulis tersebut sampai saat ini belum banyak digeluti oleh masyarakat.
Akademisi dari Sekolah Tinggi Agama Hindu Negeri (STAHN) Mpu Kuturan, Made Susila Putra menilai, seni menulis Baligrafi masih perlu difamiliarkan.
Oleh karena itu, kesenian ini ke depan perlu semakin dikembangkan.
• Jangan Salah Memberi Nama, Ini Aksara Suci Sesuai Pancawara Kelahiran Dalam Kepercayaan Hindu Bali
• Aksara Bali Didaftarkan ke Domain Internet Internasional
• Terkait Aksara Bali Alun-alun Gianyar, PU Gianyar Bersurat ke Unud
"Baligrafi itu seni menulis dengan menggunakan aksara Bali. Singkatnya membuat kaligrafi dengan menggunakan aksara Bali. Ini mesti difamiliarkan karena belum terlalu banyak yang mampu melakukannya," kata Susila.
Hal ini Susila sampaikan saat menjadi moderator dalam krialoka (workshop) ngreka Baligrafi serangkaian dengan Bulan Bahasa Bali 2021 di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Provinsi Bali, Rabu 10 Februari 2021.
Menurutnya, belajar ngreka Baligrafi ini sangat penting karena sebuah budaya Bali yang tidak dimiliki oleh daerah bahkan negara lain.
Baginya, seni Baligrafi merupakan akar budaya yang kuat sehingga perlu dipelajari.
“Saat ini pariwisata masih down, maka ini menjadi kesempatan supaya belajar lagi tentang budaya-budaya yang belum tergali. Apalagi pemerintah Bali sudah menerapkan aksara Bali pada nama-nama intansi, maka itu sebagai sebuah cara untuk belajar aksara Bali dan Baligrafi,” ucapnya.
Susila menuturkan, karya seni Baligrafi, yaitu pengetahuan dasar aksara, baik dalam penyesuain, penempatan detail, seperti gantungan, gempelan dan lainnya.
Baligrafi bagian dari seni rupa menggunakan dasar-dasar seni yang digunakan untuk mewujudkan sebuah karya seni rupa (Baligrafi), diantaranya titik, garis, bidang, bentuk, ruang, warna, tekstur, gelap terang dan lainnya.
“Kami memberikan dasar-dasar yang simpel, karena Baligrafi ini juga bagian dari unsur-unsur seni rupa,” terangnya.
Menurutnya, pengetahuan dasar untuk bisa ngreka Baligrafi, terlebih dahulu harus memahami unsur seni rupa kemudian memahami unsur aksara.
Setelah itu baru memadukan aksara dengan unsur seni rupa untuk menjadi sebuah karya Baligrafi.
Akademisi STAHN Mpu Kuturan lain, Made Reland Udayana Tangkas dalam makalahnya yang berjudul 'Baligrafi; Petemuan, Aksara, Sastra dan Rupa' menjelaskan awal mula Baligrafi.
Kesenian ini berawal dari sebuah Festival Baligrafi Internasional pada 2013 di Museum Gunarsa.
"Seni Baligrafi penting dilakukan karena merupakan budaya Bali yang adiluhung. Apalagi di jaman globalisasi ini ngreka Baligrafi sebagai ajang untuk melestarikan Budaya Bali," tuturnya.
Penjabat Pelaksana Teknis Bulan Bahasa Bali 2021, Made Mahesa Yuma Putra mengatakan, ngreka Baligrafi merupakan kegiatan workshop paling pertama ini disamput antusias oleh para generasi muda.
Peminat workshop tersebut sebenarnya cukup banyak, namun karena dalam suasana pandemi Covid-19, peserta kemudian dibatasai yang hanya 25 orang.
“Penerapan protokol kesehatan menjadi bagian dari krialoka, seperti memakai masker, mencuci tangan, cek suhu dan menjaga jarak,” jelasnya.
Krialoka ngreka baligrafi diadakan guna melestarikan aksara, bahasa dan sastra dalam bentuk penulisan naskah dalam lontar.
Baligrafi ini sebagai suatu rangkain huruf atau sastra yang memiliki suatu makna.
“Penulis Baligrafi ini memang sangat langka, makanya kita panitia pelaksana kegiatan dalam rangka Bulan Bahasa Bali 2021 ini melaksanakan workshop. Intinya untuk mengajak masyarakat agar tertarik untuk membuat suatu rangkaian aksara yang bermakna itu,” terangnya.
Walau hanya digelar dalam sehari, kegiatan krialoka ini diharapkan dapat memberikan penyegaran dalam pelaksanaan Bulan Bahasa Bali yang berlangsung selama Februari 2021.
Maka dari itu, dalam workshop ini tak hanya dilakukan secara teori semata, tetapi juga dibarengi dengan pratek mengenai cara ngreka Baligrafi.
“Orang yang bisa ngreka Baligrafi ini sangat langka karena jarang peminatnya, maka itu dibuatkan suatu workshop. Ini sangat perlu dilestraikan, karena antara nyurat lontar dan ngreka Baligrafi itu berbeda,” paparnya.
Menurutnya, dalam Baligrafi itu ada gambar yang dirangkai dari aksara yang bermakna.
Medianya sama daun lontar dan menggunakan alat pengrukapak.
“Kalau istilah modernnya komik. Jadi leluhur kita sudah biasa membuat komi yang inspirasinya dari cerita rakyat dan pewayangan yang menjadi pemacu budi pekerti,” tutupnya. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/krialoka-ngreka-baligrafi.jpg)