Berita Bali

Kisah Clekontong Mas, Dibayar Rp 45 Juta Tampil Hanya 20 Menit, Kini Kembali Berjuang dari Nol

Dalam waktu dekat ini, grup bondres Bali Clekontong Mas rencananya akan merilis beberapa film

Tribun Bali/Rizal Fanany
Grup bondres Bali Clekontong Mas melakukan siaran langsung melalui media sosial di Sanggar Clekontong Mas di Gianyar, Sabtu (18/4/2020). Grup Clekontong Mas mengisi waktu selama tidak dapat tampil di tempat hiburan karena pandemi COVID-19 dengan berlatih di rumah dan melakukan interaksi dengan penggemarnya melalui media sosial. 

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR – Nama Clekontong Mas Balinese Art Production merupakan grup lawak Bali paling populer saat ini.

Bayarannya pun terbilang paling tinggi. Kelompok bondres asal Bali ini bahkan pernah dibayar Rp 45 juta hanya untuk durasi 20 menit.

Meski banderolnya tinggi, Clekontong Mas tetap laris manis sebelum adanya pandemi Covid-19.

Bahkan dalam sebulan mereka pernah tampil 40 kali. Artinya, dalam 10 hari mereka harus tampil dua kali di panggung berbeda.

Di sisi lain, mereka juga tetap mengusung visi untuk ngayah (sukarela). Mereka kadang juga tampil tanpa harus dibayar.

Berikut ini kisah suka duka grup bondres Clekontong Mas Balinese Art Production sejak awal berdiri hingga menuai masa emas, dan perjuangan mereka bertahan di masa pandemi Covid-19 ini. 

Bondres Clekontong Mas beranggotakan tiga orang, yakni I Komang Dedi Diana (Tompel), I Ketut Gede Rudita (Sokir), dan I Nyoman Ardika ( Sengap). 

Ketika ditemui Tribun-Bali.com di Yamaha FFS Bali, salah satu personil Clekontong Mas Balinese Art Production, yakni I Komang Dedi Diana (Tompel) menuturkan cikal bakal terbentuknya Clekontong Mas Balinese Art Production hingga akhirnya bisa sangat dicintai oleh masyarakat karena berbagai lawakannya yang lucu, kreatif, dan inovatif. 

Clekontong Mas Balinese Art Production muncul dari tanggal 8 Oktober 2012. Setelah itu kami menyatukan persepsi karena dulunya dibentuk dari beberapa grup, baik grupnya Sengap Tompel Sokir Pokokne (STSP) dan Luh Kembung dan Cablek. Tapi, karena Luh Kembung dan Cablek lepas dari grupnya sehingga kami membentuk komitmen di tanggal tersebut untuk lebih serius dan tidak ingin namanya terlalu panjang juga,” ucap I Komang Dedi Diana (Tompel). 

Kemudian dari sanalah terbentuk Sanggar Clekontong Mas hingga Yayasan Clekontong Mas Batayang dengan harapan dapat menjadi wadah bagi generasi berikutnya dalam memproduksi banyak hal dalam bidang kesenian Bali. 

“Kata Clekontong sebenarnya berarti sarana upakara dan kalau di Hindu namanya tempat berstananya Ida Sang Hyang Widhi Wasa, sedangkan Mas artinya mulia. Harapan kita Clekontong Mas ini adalah sebagai wadah, tidak hanya sebagai wadah untuk seniman pemula tapi juga untuk seniman-seniman lainnya,” ungkapnya. 

Masing-masing anggota Clekontong Mas Balinese Art Production ini pun memiliki ciri khasnya sendiri baik dari segi karakter maupun penampilannya. 

Sifat dan penampilan Tompel sendiri terinspirasi dari karakter topeng yang diciptakan para penglisir terdahulu, kemudian Sokir terinspirasi dari tokoh-tokoh yang ada di pewayangan dan sedangkan Sengap terinspirasi dari senior Bondres Bali seperti Dolar dan Lolak. 

Clekontong Mas Balinese Art Production sendiri memiliki ciri khas, yakni pada kemampuan masing-masing personil yang kemudian saling melengkapi ketika berada di atas panggung. 

Halaman
123
Sumber: Tribun Bali
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved