Friedrich Silaban Ternyata Pakai Nama Samaran Agar Terpilih Jadi Arsitek Masjid Istiqlal Jakarta
Masjid yang berdiri pada 22 Februari 1978 tersebut dianggap sebagai simbol toleransi antarumat beragama di Indonesia.
TRIBUN-BALI.COM, JAKARTA - Hari Senin 22 Februari 2021 Masjid Istiqlal Jakarta genap berusia 43 tahun.
Masjid yang berdiri pada 22 Februari 1978 tersebut dianggap sebagai simbol toleransi antarumat beragama di Indonesia.
Makna toleransi dilekatkan kepada Masjid Istiqlal tak cuma karena berlokasi di seberang Gereja Katedral di Jakarta Pusat.
Ada alasan lain yakni sosok di balik perancang desain Masjid Istiqlal bernama Friedrich Silaban.
Baca juga: Imam Besar Masjid Istiqlal Sebut Kalau Ada yang Bilang Covid-19 Tidak Ada, Pembodohan Publik
Baca juga: Masjid Istiqlal Disebutkan Menteri Agama Tidak Menggelar Sholat Idul Adha 1441 H, Ini Penyebabnya
Situs Jakarta Tourism menjelaskan, Friedrich merupakan penganut Kristen Prostestan yang dipilih Presiden Soekarno untuk merancang Masjid Istiqlal.
Pemilihan arsitek lewat sayembara yang diselenggarakan Presiden Soekarno pada 1955.
Putra Friedrich Silaban, Panogu Silaban, mengisahkan awal mula sang ayah memutuskan ikut sayembara merancang masjid tersebut.
Dia menjelaskan, Friedrich yang memiliki hubungan dekat dengan Soekarno, meminta izin Bung Karno agar turut berpartisipasi pada sayembara tersebut.
"Dia (Friedrich) pernah bertanya kepada Soekarno langsung: 'Ini mau ngadain sayembara Istiqlal loh? Saya ikut enggak ya?' Mereka memang dekat ya. Lalu (Soekarno jawab): 'Tapi kalau ikut harus pakai nama samaran. Kalau enggak, enggak ada yang mau milih'," kata Panogu dalam wawancara dengan tayangan SINGKAP Kompas TV pada akhir Februari 2018.
Panogu mengatakan, ayahnya memang kerap mengikuti sayembara memakai nama samaran berupa moto.
"Setiap kali sayembara itu pakai nama-nama samaran, motto istilahnya. Pernah ada satu sayembara, (Friedrich) pakai (nama) 'Bhinneka Tunggal Ika' motonya. Juga pernah pakai 'Kemakmuran'. Lalu, untuk Istiqlal ini motonya 'Ketuhanan'," ujarnya.
Anak Petani
Friedrich lahir di Bonan Dolok, Sumatera Utara, pada tanggal 16 Desember 1912 dari keluarga petani yang sederhana.
Dia merupakan lulusan Koningin Wilhermina School, sebuah sekolah setingkat Sekolah Teknik Menengah (STM) di Jakarta pada 1931. Friedrich melanjutkan studinya ke Belanda pada 1949 hingga 1950.
Menurut Panogu, ayahnya seorang pekerja keras dengan kecerdasan yang tinggi.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/friedrich-silaban-dan-soekarno.jpg)