Breaking News:

Serba serbi

Mengapa Bulan di Dekat Ufuk Terlihat Lebih Besar? Semua Hanya Ilusi Otak Kita

Baru-baru ini, para psikolog mulai memahami bahwa penampakan bulan yang besar di dekat ufuk adalah contoh nyata dari tipuan atau ilusi optik.

Tribun Bali/Rizal Fanany
Detik-detik terjadinya fenomena Supermoon di Bali, Rabu (8/4/2020). 

TRIBUN-BALI.com - Selama ribuan tahun, pemandangan yang membingungkan kerap tampak di langit malam. Kadang-kadang, bulan raksasa tampak melayang di dekat ufuk. Namun saat satelit alami bumi itu naik ke atas, ia tampak menyusut menjadi sangat kecil.

Fenomena yang mencolok ini dikenal sebagai ilusi bulan. Penampakan ilusi bulan ini telah didokumentasikan dengan baik setidaknya sejak abad keempat Sebelum Masehi (SM).

Tentu saja bulan tidak benar-benar berubah ukuran. Namun untuk menemukan penjelasan yang tepat mengapa bulan tampak mengembang dan menyusut terus membingungkan para ilmuwan hingga saat ini.

Berikut adalah beberapa penjelasan mengenai ilusi bulan dan misterinya yang abadi ini.

Baca juga: Abrasi di Pantai Kuta Semakin Parah, Air Pasang Saat Purnama Menggerus Lahan 

Lunar Trickery (Tipu Daya Bulan)

Kembali ke abad keempat SM, filsuf Yunani Aristoteles berpendapat bahwa atmosfer bumi mungkin memperbesar citra bulan di ufuk. Ia mengibaratkannya seperti halnya air dapat membuat objek yang tenggelam tampak lebih besar di mata kita.

Ufuk sendiri adalah garis yang memisahkan bumi dari langit. Ufuk biasa disebut juga sebagai horizon, cakrawala, atau kaki langit. Yang jelas, ufuk adalah garis pembatas --yang tampak mendatar lurus atau lengkung-- pada pemandangan antara bagian permukaan bumi dan bagian langit.

Astronom Yunani-Mesir Ptolemeus mengusulkan penjelasan yang mirip dengan teori Aristoteles dalam risalahnya yang terkenal Almagest, yang diterbitkan pada abad kedua Masehi. Begitu pula astronom Yunani Cleomedes yang mengutarakan teori serupa pada sekitar waktu yang sama dengan Ptolemeus tersebut bahwa atmosfer bumi memberi efek bulan tampak lebih besar di dekat ufuk. Namun selain itu, mereka berdua juga menganggap fenomena tersebut disebabkan oleh perubahan jarak bulan.

Baca juga: Fenomena Hari Tanpa Bayangan di Bali pada 26 dan 27 Februari 2021, Ini Kata BMKG

Sekarang kita tahu bahwa atmosfer bumi tidak memberikan efek semacam itu. Atmosfer bumi mungkin bisa mengubah warna bulan, tergantung pada bagaimana partikel membelokkan dan memfilter cahaya bulan, tapi hanya itu yang bisa dilakukannya.

Baru-baru ini, para psikolog mulai memahami bahwa penampakan bulan yang besar di dekat ufuk adalah contoh nyata dari tipuan atau ilusi optik, ilusi yang terjadi karena kesalahan penangkapan mata manusia. Mudah bagi kita untuk melihat sendiri bahwa segala sesuatunya tidak seperti yang terlihat.

Halaman
123
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved