Badung Unggul Maju Sejahtera
Badung Unggul Maju Sejahtera

Myanmar

Polisi Myanmar yang Membelot Meningkat Tajam, Mereka Dukung Rakyat Melawan Junta Militer

Kondisi terkini dilaporkan, lebih dari 600 orang polisi Myanmar bergabung dengan gerakan pembangkangan sipil.

Tayang:
Editor: DionDBPutra
AFP/YE AUNG THU
Polisi Myanmar menindak demonstran yang menentang kudeta militer di Yangon pada 27 Februari 2021. Kini semakin banyak jumlah polisi yang membelot. Mereka bergabung dengan gerakan pembangkangan sipil. 

TRIBUN-BALI.COM, NAYPYIDAW – Gerakan melawan kudeta militer di Myanmar semakin menarik perhatian dunia internasional mengingat korban terus berjatuhan.

Kondisi terkini dilaporkan, lebih dari 600 orang polisi Myanmar bergabung dengan gerakan pembangkangan sipil.

Aksi pembelotan di tubuh kepolisian Myanmar meningkat tajam sejak terjadi kebrutalan saat menumpas demonstran pada akhir Februari 2021.

Seperti dilansir The Irrawaddy, Jumat 5 Maret 2021, ratusan orang polisi yang membelot ini berasal dari berbagai divisi dan departemen kepolisian di seluruh Myanmar.

Baca juga: Selamat Jalan Angel, Sosok Gadis 19 Tahun yang Ditembak Mati Polisi Myanmar, Ini Pesan Terakhirnya

Baca juga: Ned Price Sebut Amerika Sangat Sedih Atas Kekerasan Junta Myanmar yang Makin Brutal

Menurut The Irrawaddy, lebih dari 500 polisi yang berpartisipasi dalam gerakan pembangkangan sipil pada Kamis 4 Maret 2021.

Setelah itu menyusul 100 orang polisi lainnya ikut bergabung dengan gerakan pembangkangan sipil pada Jumat 5 Maret 2021.

Sumber dari kepolisian di Naypyidaw mengatakan, hanya negara bagian Rakhine yang tidak dilaporkan adanya aksi protes dari polisi yang membelot.

Menurut dia, partisipasi Kepala Kepolisian Cabang Khusus Tin Min Tun dalam gerakan pembangkangan sipil berdampak besar di lingkungan kepolisian.

Tin Min Tun menulis di Facebook, dia bergabung dengan pegawai negeri yang melakukan pembangkangan sipil.

“Saya tidak mau lagi mengabdi di bawah rezim militer. Saya bergabung dengan pegawai negeri yang berpartisipasi dalam pembangkangan sipil,” demikian Tin Min Tun.

Dia mengungkapkan rasa hormat kepada pengunjuk rasa yang lebih muda yang memimpin gerakan melawan junta militer.

Seorang perwira senior, yang enggan disebutkan namanya, mengatakan junta militer belum memberikan perintah untuk menindak polisi yang membelot.

“Para komandan hanya meminta untuk membawa mereka kembali, membujuk mereka untuk kembali ke tugas mereka dan menyelesaikan masalah mereka,” kata perwira tersebut.

Beberapa sumber dari kepolisian Myanmar mengatakan, tidak ada polisi yang bergabung dengan gerakan pembangkangan sipil yang kembali bekerja dan tidak ada yang ditahan.

Seorang polisi di Yangon yang bergabung dengan gerakan pembangkangan sipil mengatakan, dia tidak tahan melihat penderitaan yang dialami rakyat Myanmar.

“Saya tahu sebiji wijen tidak bisa membuat minyak tapi saya tetap memilih untuk pergi, berkata pada diri sendiri bahwa mereka setidaknya akan kehilangan seorang petugas untuk menekan pengunjuk rasa jika saya berhenti,” ujarnya.

Polisi yang berpartisipasi dalam gerakan pembangkangan sipil mengatakan, mereka hanya akan menerima perintah dari pemerintahan terpilih.

Beberapa di antaranya berujar, mereka akan menawarkan jasa jika anggota parlemen Myanmar terpilih membentuk tentara untuk melawan rezim militer.

Mayoritas petugas yang telah bergabung dengan gerakan pembangkangan sipil mengajukan pengunduran diri.

Baca juga: AS Berikan Sanksi Bagi Militer Myanmar : Akses Kementerian, Bisnis Militer dari Perdagangan Diblokir

Beberapa lainnya hanya memberi tahu atasan mereka bahwa mereka bergabung dengan gerakan itu, kata seorang polisi di Naypyidaw.

Dalam surat pengunduran diri sejumlah polisi mengatakan, mereka tidak akan melaksanakan perintah dewan militer dan mengundurkan diri untuk bersama rakyat.

Reuters melaporkan pada Kamis bahwa setidaknya 19 petugas telah melarikan diri ke Mizoram di India melalui Negara Bagian Chin dan meminta suaka politik.

Beberapa petugas yang membelot memiliki pengalaman selama bertahun-tahun dan telah memenangi penghargaan kinerja yang luar biasa.

Siap Mati Membela Demonstran

Sementara itu biarawati Katolik yang berlutut dan menangis di depan militer Myanmar berkata, dia siap mati demi melindungi demonstran.

Dalam aksi dramatis di Myitkyina, Negara Bagian Kachin, Suster Ann Roza Nu Tawng memohon kepada polisi dan tentara agar tak menembak.

Dalam gambar yang dirilis 28 Februari 2021, tembakan terdengar saat Ann Roza mendekati penegak hukum yang berpakaian lengkap.

Kepada Sky News, Suster Ann Roza mengatakan, dia tahu bakal mati. Namun, dia siap berkorban demi menyelamatkan nyawa pengunjuk rasa.

Dia menceritakan, pada saat kejadian, dia tengah berada di klinik dan melakukan tugasnya untuk merawat pasien.

Saat itulah, dia melihat ada serombongan orang berada di jalan. Dia langsung tahu kelompok itu adalah demonstran.

Secara tiba-tiba, penegak hukum dari arah berlawanan dipersenjatai meriam air datang untuk membubarkan unjuk rasa.

Kericuhan pun pecah. Militer mulai menembaki, mengejar, dan menghajar pengunjuk rasa dan membuatnya terkejut.

"Saya langsung berpikir bahwa hari ini (28 Februari) adalah hari saya mati. Jadi, saya siap melakukannya," katanya.

Biarawati Katolik berusia 45 tahun itu keluar, dan memohon kepada aparat untuk tak menembaki massa karena mereka tak berbuat jahat.

Dia mengungkapkan, saat itu dia menangis seperti orang gila, seperti induk ayam yang berusaha melindungi anak-anaknya.

Ann Roza mengatakan, dia langsung pergi keluar saat melihat aparat memukuli demonstran, dan mengaku suasananya seperti perang.

"Saya berpikir lebih baik saya yang mati daripada mereka. Saya menangis sejadi-jadinya. Tenggorokan saya sakit," ujarnya.

Saat itu, yang ada dalam benak Ann Roza adalah menyelamatkan massa dan menghentikan kekejaman aparat.

Dia mengaku tidak takut karena memikirkan korban dua orang gadis di Naypyidaw dan Mandalay yang ditembak mati.

"Saya berpikir tentang korban yang jatuh di negara ini. Jadi, saya khawatir dengan orang-orang di Myitkyina," ujar dia. Saat pihak berwenang mencapai pohon banyan, Ann Roza menerangkan, dia langsung memohon mereka untuk berhenti.

Dengan menangis keras, dia meminta kepada tentara dan polisi untuk membunuhnya. Aparat sempat berhenti beberapa lama.

"Suster, jangan terlalu khawatir. Kami tak akan menembak mereka," kata seorang aparat yang mendekatinya. Mendengar jawaban itu, Ann Roza menyatakan, dia khawatir karena massa bisa terbunuh dengan senjata yang lain.

Dalam pikirannya, Ann Roza tidak percaya dengan omongan itu karena dia sudah sering mendengar orang ditembak mati.

"Saya mereka (militer) bukanlah penjaga masyarakat. Kami tidak nyaman dan terjadi penangkapan brutal," jelasnya. Suster Ann Roza dengan lantang mengkritik aparat yang tak segan-segan membunuh demonstran yang tak mereka sukai.

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul 600 Polisi Myanmar Membelot, Ikut Rakyat Lawan Junta Militer

Sumber: Kompas.com
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved