Breaking News:

Myanmar

Ned Price Sebut Amerika Sangat Sedih Atas Kekerasan Junta Myanmar yang Makin Brutal

Seruan ini disampaikan Price hanya sehari setelah munculnya beberapa video yang menunjukkan aparat keamanan menembak seseorang dari jarak dekat.

AFP/YE AUNG THU
Polisi Myanmar menindak demonstran yang menentang kudeta militer di Yangon pada 27 Februari 2021. 

TRIBUN-BALI.COM, NAYPIYDAW - Tindakan junta militer Myanmar yang semakin brutal terhadap demonstran melahirkan keprihatinan dari berbagai negara di dunia.

Juru Bicara Departemen Luar Negeri Amerika Serikat ( AS) Ned Price mengatakan AS sangat sedih serta menyerukan China ikut membantu menghentikan kekerasan di negeri itu.

Seruan ini disampaikan Price hanya sehari setelah munculnya beberapa video yang menunjukkan aparat keamanan menembak seseorang dari jarak dekat.

Polisi juga mengejar serta memukuli para demonstran secara kejam. Sebanyak tiga puluh delapan orang tewas.

Baca juga: AS Berikan Sanksi Bagi Militer Myanmar : Akses Kementerian, Bisnis Militer dari Perdagangan Diblokir

Baca juga: Dibagikan Uskup Agung Yangon, Foto Biarawati Menangis dan Berlutut di Depan Polisi Myanmar Viral

VOA Indonesia melaporkan, tanggapan dunia internasional terhadap kudeta militer di Myanmar sejauh ini dianggap kurang memadai.

Banyak sekali video yang beredar di internet yang menunjukkan pasukan keamanan Myanmar secara brutal menghajar pedemo dan warga sipil lainnya.

Utusan PBB Schraner Burgener mengatakan pasukan keamanan junta juga telah menangkap sedikitnya 1.200 orang, termasuk wartawan.

Menurut UNICEF, Kamis 4 Maret 2021, lebih dari 500 anak diperkirakan termasuk di antara mereka yang ditahan secara sewenang-wenang.

Wartawan tersebut termasuk Thein Zaw dari The Associated Press. Zaw dan 5 anggota media lainnya didakwa melanggar undang-undang keselamatan publik yang bisa membuat mereka dipenjara hingga 3 tahun.

Video penangkapan Thein Zaw pada hari Sabtu 27 Februari 2021 menunjukkan lehernya dipiting sebelum ia dibawa pergi.

Baca juga: Militer Myanmar Dilarang Pakai Facebook dan Instagram, 137 LSM Desak PBB Embargo Senjata

Kudeta tersebut mengubah drastis kemajuan lamban selama bertahun-tahun menuju demokrasi di Myanmar, yang selama lima dekade berada di bawah pemerintahan militer ketat, yang menyebabkan isolasi dan sanksi internasional.

Ketika para jenderal melonggarkan cengkeraman mereka dalam beberapa tahun terakhir, komunitas internasional mencabut sebagian besar sanksi dan menggelontorkan investasi ke Myanmar.

Artikel ini sudah tayang di Kompas.com berjudul Kekerasan Myanmar Makin Tinggi, AS Desak China Ikut Turun Tangan

Editor: DionDBPutra
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved