Berita Bangli

Sejumlah Prosesi Jelang Nyepi Dibatasi, Ketua PHDI Bangli Sebut Tanpa Ogoh-ogoh Tak Kurangi Makna

Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Bangli, I Nyoman Sukra, Selasa 9 Maret 2021 menjelaskan, pembatasan kegaitan lantaran masih dalam situasi

Tribun Bali/Muhammad Fredey Mercury
Ketua PHDI Bangli I Nyoman Sukra. 

TRIBUN-BALI.COM, BANGLI – Kegiatan melasti dalam rangkaian Hari Raya Nyepi Tahun Saka 1943 dilaksanakan dengan cara berbeda.

 Jika umumnya prosesi penyucian Pratima tersebut dilaksanakan di pantai, kini pelaksanaan melasti dilakukan dengan cara ngubeng di tempat atau nyangku.

Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Bangli, I Nyoman Sukra, Selasa 9 Maret 2021 menjelaskan, pembatasan kegaitan lantaran masih dalam situasi pandemi Covid-19.

Tak hanya kegiatan melasti, beberapa rangkaian Hari Raya Nyepi lainnya juga dilaksanakan terbatas dengan tetap mengutamakan protokol kesehatan.

Baca juga: Dinas PKP Bangli Kekurangan Anggaran Sebesar Rp 900 Juta Lebih, Rencananya Digunakan Untuk Hal Ini

 Seperti kegiatan tawur agung hingga meobor-obor.

“Intinya pelaksanaan upacara penyepian terutama tawur, berjalan seperti biasa. Tetapi protokol kesehatan diutamakan.

Artinya, jaga jarak, cuci tangan, menggunakan masker, serta jumlah peserta upacara di catus pata pasti tidak banyak.

Kalau toh dilaksanakan,  cukup di lingkungan banjar, dan di rumah masing-masing,” jelas dia.

Pengetatan prokes saat rangkaian hari raya Nyepi kembali diterapkan, supaya tidak menjadi klaster baru bagi penyebaran Covid-19 di kabupaten Bangli.

Dalam hal ini, Satgas Desa Adat diharapkan pula untuk melakukan pengawasan dan pengaturan di wilayahnya masing-masing.

 “Yang jelas yang paling krusial seperti mebuu-buu hingga arak-arakan ogoh-ogoh sudah sama sekali dilarang,” tegasnya.

Sukra menambahkan, kendati tanpa pengarakan ogoh-ogoh, hal tersebut tidak mengurangi makna rangkaian penyepian.

 Sebaliknya, tanpa ogoh-ogoh justru lebih menghemat pengeluaran masyarakat ditengah kondisi pandemi saat ini.

 Terlebih, imbuh Mantan Kadisdik Bangli itu, ogoh-ogoh bukan bagian dari upacara pengerupukan dan nyepi.

Baca juga: Nyepi 2021, Tradisi Magoak-goakan di Desa Kintamani Bangli Bali Hanya Dilaksanakan Peduluan

“Bagian dari pengerupukan itu adalah mebuu-buu, meobor-obor

Yang tujuannya untuk menetralisir butha kala,” jelasnya. (*)

Sumber: Tribun Bali
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved