Techno
Ternyata Ini, Asal Muasal Tanaman Pemakan Serangga di Bumi
sekelompok tim ahli botanika dan biologi membandingkan genom dan anatomi dari tiga tanaman pemakan daging modern.
TRIBUN-BALI.com - Sekitar 70 juta tahun yang lalu, ketika dinosaurus masih ada di Bumi, beberapa jenis tanaman tiba-tiba berubah menjadi pemakan daging.
Bagaimana hal ini bisa terjadi? Sebuah studi yang dipublikasikan dalmam jurnal Current Biology mengungkapnya.
Dilansir dari Live Science, Selasa (2/6/2020); sekelompok tim ahli botanika dan biologi yang dipimpin oleh Jörg Schultz dari University of Würzburg, Jerman membandingkan genom dan anatomi dari tiga tanaman pemakan daging modern.
Baca juga: Tanaman Hias Ajaib, 4 Tanaman Ini Bisa Hidup di Lahan Gersang bahkan Bersalju, Apa Saja?
Baca juga: 5 Tanaman Hias Ini Ternyata Bisa Berfungsi sebagai Anti Polutan dan Penyaring Debu, Apa Saja?
Baca juga: Anda Jangan Tergoda Lagi untuk Beli Enam Jenis Tanaman Hias Ini
Ketiga spesies yang terpilih adalah penangkap lalat venus (Dionaea muscipula), Aldrovanda vesiculosa dan Drosera spatulata.
Sebetulnya, ada ratusan spesies tanaman karnivora di dunia.
Namun, tim peneliti memilih tiga saja karena mereka saling saling terkait, merupakan anggota dari famili Droseraceae dan memiliki metode menangkap mangsa yang serupa yakni menggunakan gerakan.
Setelah menganalisis ketiganya, para ahli mendapati bahwa evolusi beberapa tanaman non-karnivora menjadi karnivora terjadi lewat pengubahan nilai guna gen-gen akar dan daun.
Perubahan ini tidak terjadi tiba-tiba, melainkan melalui tiga tahap.
Pada tahap pertama, yakni sekitar 70 juta tahun yang lalu, nenek moyang ketiga tanaman yang awalnya non-karnivora mengalami duplikasi genom seutuhnya.
Hal ini membuat tanaman memiliki dua genom, sementara ia hanya perlu satu untuk bertahan hidup.
Genom kedua inilah yang lantas dikembangkan oleh tanaman untuk berkembang ke arah tanaman karnivora.
Gen daun kopian misalnya menjadi gen jebakan, sementara gen akar dikembangkan untuk menyerap nutrisi dari mangsa.
Tahap kedua terjadi ketika tanaman berhasil menyerap nutrisi dari mangsa.
Ini membuat daun dan akar tradisional pada tanaman menjadi tidak diperlukan dan gen-gen yang membentuknya perlahan-lahan menghilang.
Pada tahap ketiga atau yang terakhir, terjadi perubahan evolusioner yang spesifik pada tanaman terhadap lingkungannya.