Badung Unggul Maju Sejahtera
Badung Unggul Maju Sejahtera

Berita Bali

Lontar Berisi Kulit Penyu, Penyuluh Bahasa Bali Harapkan Warga Peduli Lontarnya

Penyuluh Bahasa Bali Provinsi Bali di Kecamatan Denpasar Selatan, kembali melaksanakan konservasi lontar milik warga di Desa Sanur Kaja

Istimewa
Lontar dengan kulit penyu di Denpasar - Lontar Berisi Kulit Penyu, Penyuluh Bahasa Bali Harapkan Warga Peduli Lontarnya 

"Entahlah, pewarisnya pun tidak tahu. Hanya saja mereka tahu, hasil karya panglingsir mereka itu memakai kulit tempurung penyu itu sendiri," jelasnya.

Menurut keluarga tersebut, dahulu banyak yang memesan lontar di Kumpi Sabang ini.

Kemudian pasti dibuatkan dengan ciri seperti itu.

Sehingga adanya kulit penyu, dimungkinkan sebagai ciri khas identitasnya.

Yogik mengatakan, kulit penyu memang membuat lontar terlihat lebih menarik dan indah.

Jumlah naskah keseluruhan sekitar 45 naskah.

Jenis naskahnya beraneka ragam.

Namun yang berhasil dikonservasi diantaranya wariga, Kuranta Bolong, usada, kakawin seperti Ramayana dan Sutasoma, kidung, serta pipil.

"Proses konservasi lontar dimulai dengan menghilangkan debu menggunakan kuas. Jika setelah dibersihkan, tulisan kurang jelas, bisa dihitamkan dengan menggunakan kemiri yang sudah dibakar," sebutnya.

Kemudian dilanjut dengan mengoleskan minyak sereh+alkohol dengan perbandingan 1:1, lalu dianginkan, setelah kering barulah bisa disimpan kembali ke tempat penyimpanan.

Yogik menyebutkan, untuk lontar dan isinya yang paling unik adalah berupa lontar embat-embatan yang berisi catatan rerainan dan odalan di pura keluarganya.

Lalu setiap bersembahyang ada mantra khusus yang berupa Bijaksara (aksara suci) yang digunakan khusus pada saat rerainan dan odalan tersebut.

"Judulnya lontar itu tidak ada, karena berupa catatan pada lontar embat-embatan. Lontar embat-embatan adalah lontar yang tidak mengalami proses tuntas dalam pembuatan lontar yang diambil dari daun ental/lontar yang masih berisi lidi pada daun ental tersebut," jelasnya.

Ia berharap warga jangan takut saat lontar warisannya dikonservasi.

Sebab hal ini demi kelestarian warisan leluhurnya juga, sehingga bisa diketahui anak cucu kelak.(*).

Kumpulan Artikel Bali

Sumber: Tribun Bali
Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved