Berita Bali
Lontar Berisi Kulit Penyu, Penyuluh Bahasa Bali Harapkan Warga Peduli Lontarnya
Penyuluh Bahasa Bali Provinsi Bali di Kecamatan Denpasar Selatan, kembali melaksanakan konservasi lontar milik warga di Desa Sanur Kaja
Penulis: AA Seri Kusniarti | Editor: Putu Dewi Adi Damayanthi
Laporan Wartawan Tribun Bali Anak Agung Seri Kusniarti
TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Penyuluh Bahasa Bali Provinsi Bali di Kecamatan Denpasar Selatan, kembali melaksanakan konservasi lontar milik warga di Desa Sanur Kaja.
Konservasi lontar kali ini, milik warga bernama I Wayan Sardjana, yang merupakan warga Banjar Tegal Asah, Desa Sanur Kaja.
Konservasi dilakukan mulai Selasa, 16 Maret 2021.
Dan rencananya akan dilaksanakan dalam sepekan ini, mengingat lontar yang dimiliki berjumlah kurang lebih 20 naskah.
Baca juga: Sumber Daya Manuskrip Kuno Melimpah di Indonesia, Puri Kauhan Ubud Konservasi & Digitalisasi Lontar
Baca juga: Tertuang Dalam Lontar Sundarigama dan Buku Nagarakartagama, Berikut Makna Hari Raya Nyepi
Baca juga: Roh Leluhur dan Para Dewa Turun ke Bumi, Ini Makna Purnama dalam Lontar Sundarigama
Terdiri dari naskah berkondisi baik, serta puluhan yang kondisinya rusak.
Wayan Yogik Aditya Urdhahana, Penyuluh Bahasa Bali Provinsi Bali Kota Denpasar, menjelaskan lontar yang dimiliki oleh keluarga besar Kumpi Sabang ini, disimpan di gedong panyimpenan suci.
"Dalam pelaksanaan konservasi ini, penyuluh bahasa Bali juga mengedukasi keluarga besar pemilik dalam melaksanakan konservasi. Agar ke depannya, pemilik dapat merawat lontarnya sendiri," tegas Yogik, sapaan akrabnya, kepada Tribun Bali, Kamis 18 Maret 2021.
Ciri khas lontar di rumah tersebut, kata dia, adalah lontar yang dikulitnya berisi tempurung penyu (pendok).
Ditemukan lontar yang berangka tahun 1922 masehi dan tergolong jenis parwa.
"Besar harapan dari para penyuluh bahasa Bali, khususnya yang bertugas di desa/kelurahan se-Kecamatan Denpasar Selatan. Agar para warga yang memiliki naskah lontar, untuk tetap memelihara naskah lontar yang dimiliki," ujar sarjana Unud ini.
Dengan demikian, naskah-naskah lontar yang telah diwariskan oleh panglingsir keluarga, tidak akan punah.
"Pemilik mengucapkan terimakasih kepada Pemerintah Provinsi Bali, karena telah menghadirkan penyuluh Bahasa Bali. Guna dapat membantu masyarakat pemilik lontar untuk mengkonservasi naskah lontarnya," kata Yogik.
Serta memberikan edukasi kepada pemilik, agar naskah lontar yang dimiliki oleh masyarakat dapat lestari.
Mengenai penggunaan kulit penyu, pihak keluarga dan penyuluh belum menemukan alasannya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/lontar-dengan-kulit-penyu-di-denpasar.jpg)