Mengenal Pandita dalam Hindu Bali, Punya Tiga Jalan Moksa dan Harus Mampu Membimbing Sisya
Mengenal Pandita dalam Hindu Bali, Punya Tiga Jalan Moksa dan Harus Mampu Membimbing Sisya
Penulis: AA Seri Kusniarti | Editor: Widyartha Suryawan
"Bagi seseorang yang tidak mampu menghilangkan kemarahan, kerakusan, san kesedihan maka patut dilakukan adalah menyembah sang pandita agar dapat diberikan diksa. Sehingga orang tersebut dapat melaksanakan tiga brata dan mencapai moksa," katanya.
Oleh karena itu, seorang pandita memiliki tugas yang sangat berat dan membawa murid atau sisya-nya menuju arah yang baik dan berdasarkan dharma.
Pandita menjalankan lokapalasraya, berarti tempat berlindung untuk mencari kedamaian dan ketentraman hati.
Pandita juga menjadi tempat bersandar maupun bertanya bagi masyarakat tentang ajaran-ajaran kerohanian.
Dalam teks Agastya Parwa, seorang pandita dapat mendiksa sisya-nya yang kemudian dilanjutkan dalam proses transfer ilmu pengetahuan, terutama ajaran Tattwa.
Adapun ciri-ciri dari seorang pandita, yaitu Sang Satya Wadi, Sang Apta, Sang Patirthan, dan Sang Panadahan Upadesa.
Sang pandita juga disebut sebagai Adi Guru Loka yang berarti mampu membimbing kerohanian sisya-nya.
"Teks Agastya Parwa menjelaskan seorang pandita harus mampu menghilangkan noda dari seseorang yang akan didiksa olehnya. Dan mengantarkan sisya-nya menuju kamoksan," jelasnya.
Menjadi seorang pandita sangatlah berat. Hendaknya seorang pandita benar-benar mengikuti swadharma yang terdapat dalam kitab-kitab suci Hindu.
"Acuan untuk menjadi seorang pandita, idealnya kemampuan dalam memahami agama Hindu. Karena tugas pandita bukan hanya muput upacara saja, tetapi mampu memberikan pencerahan agama kepada umat Hindu," katanya. (*)