Tangis Doni Pecah Saat Orasi Ilmiah, IPB Berikan Gelar Doktor Honoris Causa
Program yang dimaksud Arif adalah gagasan emas biru dan emas hijau yang digagas Doni Monardo saat menjabat sebagai Pangdam XVI/Pattimura.
Hasil Refleksi
Dalam orasi ilmiahnya, Doni sempat menceritakan pertemuannya dengan sejumlah ahli hukum. Ia bergurau mengenai posisi TNI yang kerap diidentikkan dengan pelanggaran HAM masa lalu. Dari situ ia berefleksi kondisi saat ini terkait lingkungan.
"Satu ketika, saya pernah dikunjungi beberapa ahli hukum untuk silaturahmi. Pada kesempatan itu sambil bergurau saya mengatakan, 'TNI kerap diidentikkan dengan pelanggaran HAM masa lalu. Lantas saya bertanya jika terjadi pelanggaran hak asasi pohon, hak asasi sungai, siapa yang bertanggung jawab?'," kata Doni.
Menurut Doni, dalam kehidupan berbangsa tak cukup dengan mengedepankan prinsip demokrasi. Tetapi juga kedaulatan lingkungan.
"Dalam pemikiran saya, merawat bangsa tidak hanya mengedepankan prinsip democracy (Kedaulatan Rakyat), tetapi juga harus mengedepankan prinsip ecocracy ( kedaulatan lingkungan)," kata dia.
Mantan Komandan Paspampres itu kemudian menceritakan komitmennya di sektor sumberdaya alam dan lingkungan, mulai dari pembibitan lahan tandus di Asrama Brigif Para Raider III/Tri Budi Sakti Kostrad yang tandus, di Kariango, cerita ketika ia memperbaiki ekosistem sungai Citarum saat menjabat Pangdam III Siliwangi, hingga gagasan emas biru emas hijau di Maluku.
"Pengalaman bertahun-tahun berlatih di hutan dan penugasan operasi militer di beberapa daerah membuat saya mengenali banyak jenis tanaman. Sehingga saya berkomitmen menanam, merawat dan melestarikan tanaman di mana pun saya berada," kata Doni.
Saat berada di Brigif Para Raider III/Tri Budi Sakti Kostrad, Kariango, Sulsel, Doni melihat di kawasan asramanya sangat tandus. Melihat kondisi itu Ia kemudian menanam bibit pohon Trembesi.
"Dilanjutkan dengan pembibitan Trembesi, serta menanamnya di banyak tempat di Sulawesi Selatan termasuk di Lapangan Karebosi dan Bandara Sultan Hasanuddin," kata Doni.
Ia pun berkomitmen melanjutkan program itu dengan mencanangkan slogan yang terpampang di kebun Bibit Brigif Para Raider III/Tri Budi Sakti Kostrad Kariango pada tahun 2008 'Dari Kariango Ikut Hijaukan Indonesia'.
Komitmen yang sama ia bawa dalam bertugas di korps baret merah dengan membuat kebun bibit trembesi di Cikeas akhir November 2008. Lalu pada 17 Agustus 2009, bibit trembesi itu dibagikan di Istana Negara.
"Selanjutnya, tahun 2010 saya mengembangkan kebun bibit di Rancamaya. 100.000 bibit trembesi ditanam di wilayah Bogor, Cianjur dan Sukabumi, dan DKI Jakarta termasuk di sepanjang Kota Kudus, Jawa Tengah," kata Doni.
Doni juga pernah membagikan 100.000 bibit Sengon kepada warga yang terdampak erupsi Gunung Merapi di Yogyakarta dan Jawa Tengah. Dari situ, ia juga mendirikan Paguyuban Budiasi di Sentul.
"Budiasi kependekan dari Budidaya Trembesi, nama pemberian Bapak SBY, Presiden Republik Indonesia saat itu. Sampai hari ini Paguyuban Budiasi telah memproduksi lebih dari 20 juta pohon, terdiri dari 150 jenis pohon termasuk tanaman langka, yang dibagikan ke berbagai daerah termasuk Timor Leste," kata Doni.
Pengalaman lain yang diingat Doni adalah saat ia memperbaiki ekosistem sungai Citarum. Dalam perjalanan karier militernya, Doni sempat dilantik menjadi Pangdam III/Siliwangi pada 16 November 2017.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/doni-monardo-baru.jpg)