Serba Serbi
Pawisik Pakelem Kepala Kebo, Agar Pandemi Covid-19 Segera Berlalu
Masyarakat Hindu percaya, bahwa alam sekala dan niskala ada dan akan selalu berdampingan sampai kapanpun.
Penulis: AA Seri Kusniarti | Editor: Noviana Windri
Laporan Wartawan Tribun Bali, A A Seri Kusniarti
TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR – Hindu Bali atau Hindu Nusantara, memang mengenal sekala-niskala sejak dahulu kala.
Masyarakat Hindu percaya, bahwa alam sekala dan niskala ada dan akan selalu berdampingan sampai kapanpun.
Sehingga dari sana lahirlah, tradisi dan adat budaya yang berkaitan dengan agama.
Segala sesuatunya terkait, seperti banten dan upacara yang kerap dilakukan oleh masyarakat Hindu.
Hal itu pun turun-temurun hingga saat ini.
• Pawisik yang Menyembuhkan I Gede Alit Adnyana Hingga Membangun Pura Campuhan Windhu Segara Denpasar
• Pemasang Patung Nyi Roro Kidul di Pantai Water Blow Nusa Dua Mengaku Dapat Pawisik ini
Banyak ritual pembersihan, permohonan kepada Tuhan melalui bebantenan kerap dilakukan.
Agar terjadi keseimbangan antara bhuana agung (alam semesta) dan bhuana alit (diri manusia). Serta keseimbangan Tri Hita Karana, yakni hubungan dengan Tuhan, alam semesta, dan sesama manusia.
Satu diantara ritual yang kerap dilakukan adalah menghaturkan caru, atau bahkan pakelem untuk menetralisir aura negatif yang dapat menyebabkan penyakit dan wabah.
Begitu juga dengan pandemi Covid-19, yang sudah setahun lebih menyerang dunia. Mematikan ekonomi dan membatasi aktivitas warga di berbagai belahan negara.
Termasuk di Bali, yang kehilangan banyak sumber pendapatan karena pariwisata tidak bisa berjalan sebagaimana mestinya.
Untuk itu, Komunitas Kearifan Lokal Nusantara (Kori Lontara), mengusulkan penanganan untuk memberantas pandemi Covid-19 tidak hanya dari sisi medis saja.
“Tetapi juga harus menyasar sisi ritual dan spiritual, untuk mewujudkan keseimbangan dengan alam semesta ini,” jelas Ida Bagus K. Susena, Koordinatior Kori Lontara, kepada Tribun Bali, Selasa 30 Maret 2021. Bangsa Indonesia, kata dia, dikenal selama ribuan tahun mengatasi permasalahan disharmoni alam dengan melakukan berbagai ritual.
• Terima Pawisik Ini, Wakil Bupati Karangasem Wayan Arthadipa Tangkil ke Puri Gede Buleleng
Satu diantara ritual tersebut adalah larung saji (mulang pakelem) di laut. “Sebab laut dikenal sebagai unsur feminisme alam, yang menjadi sumber berkumpulnya berbagai energi. Satu diantaranya energi negatif yang membawa wabah jenis apapun,” katanya. Larung saji yang ia sebutkan, dinamai ‘Larung Saji Segara Nusantara’ yang harus dilakukan dalam waktu dekat.
Hal ini bukan tanpa alasan, sebab pawisik untuk itu telah didapatkan oleh para sesepuh nusantara. Dari berbagai wilayah baik Bali dan luar Pulau Dewata.
“Dengan melibatkan tiga komunitas penekun pikukuh keluhuran nusantara, yakni Wiwitan, Jawa, dan Bali. Sebagai representasi berbagai komunitas penekun spiritual lintas etnis dan agama se-nusantara,” kata pria yang juga Ketua Umum Dekornas Puskor Hindunesia ini.
Para penekun spiritual ini, menyampaikan kepadanya agar aksi ini bisa didukung pemerintah dan rakyat di Indonesia.
Dengan harapan pandemi Covid-19 akan berangsur membaik setelahnya. Sesuai pawisik, rencana larung saji ini, akan dilakukan di Pantai Parangkusumo, Parangtritis, Bantul, Yogyakarta. Tepatnya pada Tilem Sasih Kedasa, Minggu 11 April 2021.
“Tentunya ritual akan dilakukan dengan protokol kesehatan yang ketat, tanpa mengurangi esensi kualitas ritual yang utama sesuai tuntunan sesepuh nusantara,” jelasnya.
Dengan melibatkan 99 penekun dari 3 komunitas dan masing-masing berjumlah 33 orang.
Acara dengan khyusuk akan dilakukan dari pagi hingga selesai, termasuk prosesi larung inti di tengah hari.
“Semua prosesi ritual ini untuk satu tujuan, menetralisir energi negatif yang menyebar di tanah nusantara ini. Salah satunya dalam bentuk wabah Covid-19,” jelasnya. Namun saat ini, kata dia, masih terkendala dana dan biaya. Untuk itu, pihaknya bersama komunitas terus mendatangi donatur guna meminta bantuan agar upacara ini bisa dilangsungkan.
“Kami sudah mengajukan proposal ke pemerintah, termasuk ke donatur lainnya. Semoga saja ada yang terketuk hatinya dan ikut membantu dana dalam upaya prosesi upacara ini,” sebutnya. Dukungan pun dapat disalurkan melalui rekening BRI, atas nama Kori Lontara dengan nomornya 4640-01-015493-53-5. (ask)
Asal Mula Pawisik
Ida Bagus Susena, menjelaskan pawisik tidak hanya didapatkan dari penekun spiritual asal Bali saja.
Namun juga dari Sunda Wiwitan, dan penekun dari wilayah Jawa.
“Ada yang kejawen dan menyampaikan lewat relawan. Ada juga yang dari Bali, Kintamani dan sebagainya. Banyak orang yang mengatakan agar melakukan larung saji di laut,” sebutnya.
• 5 Fakta Palinggih Padmasari Bersanding Kloset di Bangli, Alasan Dapat Pawisik
• Ngurah Agung Daftar Penjaringan Wali Kota di Golkar, Ngaku Dapat Pawisik Maju Pilkada 2020
Bahkan arahan dari Ida Rsi Gautama, kata dia, dalam menyelesaikan permasalahan jagat (alam) atau bahkan wabah.
Memang salah satunya dengan melarung saji, atau mulang pakelem. Yaitu pakelem kebo tanduk emas.
Sebab menurut pawisik yang didapatkan para penekun spiritual ini, laut atau segara sebagai Gangga dari dunia telah kotor.
“Laut atau perut dari dunia ini, sudah kotor karena berbagai hal. Termasuk dari berbagai roh gentayangan, korban kecelakaan di darat, udara, dan laut. Ataupun korban pembunuhan, terorisme. Nah kekotoran tersebut konon sudah menembus lapisan ke-7 bumi,” sebutnya.
Di bawah itu, yang menyebabkan energi negatif meluas dan menjadi virus Covid-19 salah satunya.
Hal itulah yang perlu dinetralisir dengan pakelem.
“Romo dari Jawa, yang juga penekun spiritual juga mengatakan bahwa syaratnya larung atau sama dengan pakelem,” katanya.
Dan ia mengatakan lebih spesifik agar dilakukan di tengah nusantara dan patokannya laut selatan.
Susena berharap pemerintah pusat mau ikut turun tangan dalam hal ini.
Sebab kehadiran pemerintah sangat penting, dalam prosesi upacara larung saji atau pakelem ini.
Apalagi batas waktu hanya sampai Tilem Kedasa 11 April 2021.
Untuk itu, ia terus gencar memberikan proposal kesana-kemari. Guna menggali dana untuk membuat prosesi dan sarana ritualnya.
“Ternyata biayanya besar. Kisaran anggaran mendatangkan sekitar 33 orang dari berbagai wilayah, akomodasi, transportasi, dan konsumsi selama 2 hari. Tanggal 10 dan 11 itu sekitar Rp 396 juta. Rp 90 juta diantaranya dana untuk ritualnya saja,” jelasnya. Ia berharap banyak yang melihat kondisi ini sebagai peluang di tengah kondisi sekarang.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/yayasan-lautan-kebun-koral-bali-adakan-upacara-mendem-pakelem.jpg)