Breaking News:

Wawancara Tokoh

Nyoman Nuarta Terpilih Mendesain Ibukota Negara Baru, Nuarta: Saya Nggak Nyangka

Untuk mengetahui lebih jauh mengetahui proses di balik terpilihnya ia sebagai pemenang sayembara, Tribun Bali mewawancarai Seniman Nyoman Nuarta

Penulis: Ragil Armando
Editor: Putu Dewi Adi Damayanthi
Dok. Istimewa
Nyoman Nuarta - Nyoman Nuarta Terpilih Mendesain Ibukota Negara Baru, Nuarta: Saya Nggak Nyangka 

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Pemerintah bakal memindahkan ibukota negara dari Jakarta ke Kecamatan Sepaku, Kabupaten Penajam Paser Utara, Provinsi Kalimantan Timur.

Salah satu langkah untuk mempersiapkan pemindahan ke ibukota negara (IKN) baru tersebut dengan melakukan sayembara untuk mencari desain istana negara IKN.

Sayembara tersebut dimenangkan Nyoman Nuarta, seniman asal Tabanan, yang kini tinggal di Bandung, Jawa Barat.

Untuk mengetahui lebih jauh mengetahui proses di balik terpilihnya ia sebagai pemenang sayembara, Tribun Bali mewawancarai Seniman Nyoman Nuarta. Berikut petikannya:

Baca juga: Wawancara Kepala Disparda Denpasar, MA Dezire Mulyani Jadi Kadis Saat Erupsi Gunung Agung & Covid-19

Baca juga: Wawancara Bupati Tabanan I Komang Gede Sanjaya, Tekad Wujudkan Desa Presisi hingga Buat Jalan Mulus

Baca juga: Wawancara Nyoman Nuarta Pemenang Desain Istana Negara IKN: Presiden Akan Berkantor di Tubuh Garuda

Baca juga: Wawancara Wabup Bangli I Wayan Diar, Menuju Era Baru, Mengubah Tata Wajah Kota

Selamat kepada Pak Nyoman sudah memenangkan sayembara desain istana negara baru. Bagaimana perasaan Anda? Apakah Anda menyangka bakal meraih prestasi ini?

Saya sebenarnya nggak menyangka. Karena saya biasanya sering kalah.

Tahun ini aja saya ada kalah empat malah, ikut airport di Batam kalah, di Jakarta kalah, di Bali kalah, terus bikin Patung Komodo itu kalah juga. Banyak kalah.

Bisa diceritakan mengenai kisah di balik menangnya Anda di sayembara tersebut?

Saya diundang Kementerian PUPR pada Kamis 27 Februari 2020, untuk ikut sayembara terbatas.

Yang dipilih ada beberapa arsitek. Dan satu-satunya orang yang mereka sebut itu bukan saya.

Lalu kita dikasih waktu 12 hari untuk mewujudkan konsep gagasan desain dalam bentuk visual.

Harus membuat sekaligus 12 konsep desain, ada istana, gedung DPR, terus tempat-tempat ibadah, kemudian istana wakil presiden, pokoknya 12.

Setelah menemukan ide dari konsep desain, kami bersama tim, memvisualisasikan 12 konsep gagasan gedung-gedung yang disayembarakan.

Secara tepat waktu, pada 5 Maret 2020, saya telah mengirimkan desain-desain gedung khusus IKN ke Kementerian PUPR di Jakarta.

Kementerian PUPR kemudian meminta kelima arsitek dan ahli untuk mempresentasikan konsep desain gedung-gedung khusus IKN pada 10 Maret 2020.

Waktu itu, ada yang diwakilkan oleh tim mereka.

Kami presentasi di depan Menteri PUPR Pak Basuki Hadimuljono secara bergantian.

Menurut prosedur yang diterima seluruh hasil dari visualisasi konsep gagasan desain gedung-gedung khusus IKN, akan dilaporkan Menteri PUPR kepada Presiden Joko Widodo pada 13 Maret 2020.

Apakah Anda mengerjakan semua desain itu sendiri?

Kita ngebut lah, karena kebetulan saya punya biro arsitek, karena di studio saya itu ada NuArt Sculpture Park, ada Studio Nyoman Nuarta, ada NuArt Consultant, terus Maha Cakra.

Ini barangkali anak-anak pematung ngerjain arsitek, saya ketawa aja.

Padahal saya sudah mendirikan biro arsitek itu tahun 1975, saya masih sekolah saat itu.

Nggak mungkin ngerjakan sendiri, tapi basic ide dari saya. Jadi saya sudah biasa.

Jadi sama seperti GWK.

Saya arsiteknya, saya pematungnya, dan yang ngerjakan detailnya tentu ahli-ahlinya.

Dan bagaimana tanggapan Anda mengenai kritik dari berbagai pihak yang menyebut Anda bukan seorang arsitek, tapi malah menang sayembara?

Mereka mungkin berpikir, kalau seorang arsitek bikin arsitek aja. Nggak boleh bikin yang lain-lain, dari mana itu.

Kreativitas itu tidak bisa dibendung.

Misalnya seorang arsitek bikin patung kalau bisa, ya boleh. Kebebasan kan dilindungi undang-undang.

Dan semua kemudian menjadi keputusan Presiden untuk memilih mana konsep desain yang dianggap memenuhi syarat.

Mungkin kemudian kebetulan konsep saya yang dinyatakan sebagai pemenangnya dan kemudian diumumkan pada 29 Maret 2021 kepada publik melalui media.

Kemudian bagaimana tanggapan Anda mengenai adanya anggapan bahwa seleksi tersebut tertutup dan terkesan tidak transparan?

Lho itu ada arsitek, yang diundang ada 12 arsitek dan cuma lima saat itu yang datang, yang diundang itu Gregorius Antar Awal (IAI), Gregorius Supie Yolodi (IAI), Isandra Matin Ahmad (IAI), Sibarani Sofian (MUDO), Nyoman Nuarta, Pierre Natigor Pohan, Grace Christiani, Dian Ratih N Yunianti, M Iqbal Tawakal, dan Achmad Reinaldi Nugroho.

Lalu yang datang saat itu hanya Andra Matin, Gregorius Supie Yolodi, Yori Antar, Nyoman Nuarta, dan Sibarani Sofian.

Masalah undangan itu kan hak PUPR ya.

Kan biasa mau ngundang ada beauty contest lah, karena dinilai orang-orang yang pengalaman.

Itu barangkali ya.

Kriteria, ya lebih bagus tanya Pak Menteri PUPR. Saya kan hanya pengikut atau peserta.

Mengapa harus menggunakan burung Garuda dalam desain istana tersebut? Mengapa tidak seperti istana-istana di Eropa atau Amerika yang lebih mengedepankan nilai-nilai klasik?

Sekarang, kalau menyebut nama burung Garuda, maka itulah Indonesia.

Negeri dengan sejarah panjang, yang dikarunia keragaman etnis dan bahasa, serta hutan tropis dengan kekayaan vegetasi yang tak ternilai harganya.

Itu artinya, ketika kita menyebutkan nama “Garuda”, maka itulah sebuah rumah besar (istana) bagi persaudaraan, persatuan, dan kerukunan hidup bersama.

Apalagi kalau kita ingat semboyan yang tertulis dalam pita yang dicengkeram jari-jari kaki Garuda, Bineka Tunggal Ika.

Kita berbeda, tetapi tetap menjadi satu jua.

Jadi pada posisi itu akan menjadi simbol pemersatu bangsa. Ia mengatasi segala perbedaan, segala silang pandang, segala keragaman adat istiadat dan perilaku, dan bahkan perbedaan kepercayaan dan agama.

Simbol persatuan yang dilekatkan pada Garuda, dalam Istana Negara akan benar-benar ditransformasikan dan diwujudkan dalam bentuk pola arsitektur dengan mempertimbangkan aspek- aspek estetik, nilai guna, serta manfaat bagi kemajuan dunia pariwisata Tanah Air.

Kemudian seperti apa nantinya yang ada di dalam bangunan Garuda tersebut? Apa saja isinya?

Dalam tubuh patung Garuda, presiden akan berkantor.

Ditambah dengan unsur-unsur pendukung, seperti sekretariat negara, sekretaris kabinet, dan kantor staf presiden.

Inilah perpaduan antara unsur-unsur estetika dan desain.

Pada bagian-bagian lain dari Istana Negara akan diisi dengan museum dan galeri, dua hal yang amat penting dalam menciptakan citra keteduhan sebagai sebuah istana negara.

Bahkan dirancang pula pameran-pameran untuk memperlihatkan karya-karya UMKM.

Sosok burung Garuda yang menjadi inti dari arsitektur Istana Negara akan mengikuti pola-pola sebagaimana telah ditetapkan oleh para founding fathers kita di masa lalu.

Sayap Garuda akan membentang sejauh 200 meter dengan tinggi mencapai 76 meter.

Bulu-bulu pada masing-masing sayap Garuda akan berjumlah 17 helai, 8 helai pada bagian ekor, 19 helai pada pangkal ekor, serta 45 helai bulu pada bagian leher.

Oleh sebab itu, Garuda pada Istana Negara akan mewujudkan tanggal 17-8 1945, ketika rakyat Indonesia melalui Soekarno-Hatta memproklamirkan kemerdekaan Indonesia.

Angka 76 meter, tak lain sebagai pengingat bahwa groundbreaking yang menandai dimulainya pembangunan Istana Negara dilakukan saat Indonesia menapaki usia 76 tahun.

Maka, ketika kini kita memandang Istana Negara, akan tumbuh kebanggaan sebagai bangsa yang besar, teguh, dan kuat menghadapi segenap tantangan di depan.

Dan berapa luas bangunan yang akan dibuat untuk istana negara?

Istana Negara yang memiliki luas 4 ha dengan rencana 9 lantai, hanyalah bangunan inti dari seluruh kawasan seluas 32 ha.

Di dalam kawasan ini terdapat Plaza Nusantara seluas 10 ha, yang akan meliputi area rekreasi, area duduk outdoor, jogging trek, jalur pejalan kaki, serta jalur buggy.

Bahkan dirancang pula terdapat amphiteather serta wilayah terbuka di mana rakyat bisa mengaksesnya secara bebas.

Wilayah-wilayah seperti ini dibutuhkan untuk semakin menumbuhkan kecintaan dan rasa bangga terhadap negara.

Cara-cara rekreatif semacam ini akan jauh lebih mengena di hati rakyat.

Kemudian Anda dituding membangun dengan desain yang tidak ramah lingkungan. Bagaimana tanggapan Anda?

Saya diserang dibilang membangun gedung yang tidak ramah lingkungan.

Saya juga bingung. Dia belum tahu dan nggak nanya.

Saya sudah bilang begitu. Gedung ini justeru ramah lingkungan.

Matahari tidak menerpa langsung ke kaca.

Tidak seperti gedung-gedung di Jakarta, matahari langsung menerpa kaca, sehingga ruangan menjadi gerah dan panas, karena radiasi.

Untuk mencegah itu, kita di garuda ada bilah-bilah.

Itu kurang lebih dari dinding kaca di dalam ada 1-2 meter kan tergantung bulunya.

Jadi semua kaca tidak tertimpa kaca secara langsung.

Kita harus ingat Kalimantan itu dekat dengan equator, dan pasti lebih panas.

Maka kantor ini harus dibuat nyaman. Apalagi sekarang sedang global warming.

Makanya kita juga pilih dari bahannya yang terbaik. (*).

Kumpulan Artikel Wawancara Tokoh

Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved