Citizen Jurnalism
Saya, Umbu dan Puisi oleh Wayan "Jengki" Sunarta
Pertemuan pertama saya dengan Umbu Landu Paranggi merupakan sebuah pertemuan yang sangat menjengkelkan sekaligus menggelikan, yang terus membekas
TRIBUN-BALI.COM - Pertemuan pertama saya dengan Umbu Landu Paranggi merupakan sebuah pertemuan yang sangat menjengkelkan sekaligus menggelikan, yang terus membekas dalam kenangan.
Namun pertemuan-pertemuan selanjutnya merupakan anugerah tak ternilai yang ikut mempengaruhi perjalanan hidup saya, terutama ketika bergesekan dengan dunia puisi.
Pada sebuah petang yang cerah di bulan Agustus 1993, ketika saya masih kelas tiga sekolah menengah atas, saya diajak oleh seorang kawan menonton pertunjukan teater di sebuah sanggar di Sanur, Denpasar.
Kata kawan saya, Umbu pasti datang dalam acara itu. Kata dia lagi, kesempatan bertemu Umbu sangat langka, maka sangat rugi kalau saya tidak datang.
Ya, memang rugi kalau saya tidak ketemu Umbu, sebab pada waktu itu saya memang sedang tergila-gila ingin bertemu mantan “Presiden Malioboro” itu, sejak beberapa penyair senior di Bali “meracuni” otak saya dengan cerita-cerita nyleneh tentang Umbu.
Pada waktu itu saya baru belajar menulis puisi dan baru mencicipi pergaulan sastra di Sanggar Minum Kopi (SMK), tempat kongkow penyair Denpasar, seperti Tan Lioe Ie, Warih Wisatsana, GM Sukawidana, Putu Fajar Arcana, K. Landras Syailendra dan banyak lagi.
Umbu sekali waktu suka mampir ke SMK yang bekas toko klontong itu. Tapi ketika itu saya belum pernah bersua dengan Umbu di SMK.
Maka ketika kawan saya mengabarkan Umbu akan hadir di acara pentas teater itu, saya mempersiapkan diri untuk pertemuan yang bagi saya akan sangat bersejarah dalam karier awal kepenyairan saya.
Sebelumnya saya sudah beberapa kali mengirim puisi (hampir setiap minggu) ke Bali Post yang gawang redaksinya dijaga ketat oleh Umbu.
Setelah lebih dari 30 puisi saya menumpuk di meja Umbu, akhirnya dimuat hanya satu biji puisi yang berdampingan dengan karya beberapa penyair belia seangkatan saya.
Tentu saya sangat girang dengan pemuatan perdana tersebut.
Setelah perjuangan dan penantian yang meletihkan, akhirnya puisi saya diakui juga oleh Umbu.
Saya pun merasa telah menjadi seorang penyair karena puisi saya dimuat Umbu, meski masih kelas penyair “Kompetisi.”
Saya datang ke acara pentas teater itu dengan mengayuh sepeda. Kawan saya yang sudah lebih dulu di sana menarik tangan saya dan dengan wajah gembira mengabarkan Umbu benar-benar datang pada acara itu.
Tentu saja saya penasaran dan clingak-clinguk mencari-cari orang yang bernama Umbu itu.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/umbu-landu-paranggi-meninggal-dunia.jpg)